Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Prasasti Gajahmada beraksara dan berbahasa Jawa Kuno. Berisi tentang catatan meninggalnya Paduka Bhatara Sang Lumah ri Siwa Buddha, yaitu Raja Kertanegara, pada bulan (masa) Jyestha tahun 1214 Saka, dan peresmian sebuah 'Caitya' oleh Sang Mahamantrimukya Rakryan Mapatih Mpu Mada pada bulan Waisaka tahun 1273 Saka untuk memperingati gugurnya Paduka Bhatara (Museum Nasional, Jakarta).

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Dewi Sri, Museum Sonobudoyo, Yogyakarta

 

Beranda


Selamat datang di museumindonesia.com 

Laman ini kami buat dan kembangkan dengan tujuan untuk memperkenalkan museum-museum yang ada di Indonesia dan juga meningkatkan minat untuk mengunjungi museum.
Seperti halnya pengunjung museum pada umumnya, kami bukanlah orang-orang yang bergerak secara profesional di bidang permuseuman. Namun, hal ini tidak menyurutkan keinginan kami untuk memberikan dan berbagi informasi yang dapat diakses secara luas melalui media Internet. 
Sejak Mei 2009, sekitar setengah museum yang pernah kami kunjungi di Indonesia telah dipublikasikan. Semoga informasi yang dimuat di laman ini bisa berguna serta membantu memperluas minat mengunjungi museum. Kami berharap dapat terus memperkenalkan museum-museum yang ada di Indonesia maupun menunjukkan betapa memikat dan memesonanya sejarah maupun kebudayaan Indonesia.
Selamat mengunjungi museum. Semoga dengan mengunjungi museum dapat meningkatkan kecintaan kita sebagai bangsa Indonesia.
Yogyakarta, 20 September 2011
Salam,
Bungsu & Cie

Purwakarta Punya Museum Canggih dan Ramah Anak
22-02-2017

PURWAKARTA, KOMPAS.com - Banyak anggapan mengemuka bahwa museum seringkali tampak kumuh dan membosankan. Anggapan itu akan terbukti salah besar setelah berkunjung ke Bale Panyawangan Diorama di Purwakarta, Jawa Barat.

Museum yang terletak di jantung Purwakarta itu menawarkan pengalaman baru bagi pengunjungnya, mulai teknologinya higga pengetahuannya, dari zaman kerajaan Sunda hingga sekarang.

Menariknya, museum ini sangat ramah anak, bahkan bagi anak yang belum bisa membaca. Di sini seluruh naskah dibuat digital sehingga anak-anak cukup menyiapkan telinga untuk mendengarkan.

Kecanggihan museum ini terlihat dari pertama pengunjung masuk. Pengunjung akan disuguhi interactive book yang menyajikan sejarah tatar sunda. Siapapun bisa membaca dari jarak jauh, atau cukup dengan mendengarkan saja.

Saat buku dibuka, sensor secara otomatis membuat audio membacakan isi halaman tersebut disertai dengan gambar animasi yang menarik dan hidup. Hal tersebut membuat anak-anak yang belum bisa membaca akan lebih mudah memahami sejarah.

"Anak saya belum bisa baca dan biasanya gampang bosan kalau ke museum. Tapi, di Diorama ini dia betah banget. Dia lihat gambarnya yang menarik dan mendengarkan ceritanya," tutur Firman, salah seorang pengunjung.

Di ruangan lain pun demikian. Sejarah kerajaan sunda, Indonesia, hingga Purwakarta dibuat interaktif. Museum yang diresmikan 21 Februati 2014 ini menyimpan sembilan kisah besar pada sembilan ruangan museum yang meliputi:

  • Bale Prabu Maharaja Linggabhuwana, menyajikan Sejarah Tatar Sunda.
  • Bale Prabu Niskala Wastukancana, merupakan hall of fame yang menampilkan sosok para pemimpin Purwakarta
  • Bale Prabu Dewaniskala, menggambarkan Purwakarta pada masa pengaruh Mataram, VOC dan Hindia Belanda dalam rentang waktu tahun 1620-1799
  • Bale Prabu Ningratwangi, menyajikan Purwakarta pada masa Hindia Belanda tahun 1800-1942
  • Bale Prabu Jayaningrat, menampilkan gambaran Purwakartapada masa pergerakan nasional dan masa pendudukan Jepang
  • Bale Prabu Ratudewata, menyajikan keadaan Purwakarta pada masa kemerdekaan 1945-1950, dimulai dengan Peristiwa Rengasdengklok, dan pada jaman Demokrasi Liberal tahun 1950-1959
  • Bale Prabu Nilakendra, menampilkan Purwakarta pada masa Demokrasi Terpimpin 1959-1967
  • Bale Prabu Surawisesa, menyajikan Purwakarta pada masa pemerintahan 1968-1998, serta Era Reformasi 1998 hingga sekarang.
  • Bale Ki Pamanah Rasa, memberikan gambaran “Digjaya Purwakarta Istimewa” tahun 2008-2018.
  • Di antara berbagai ruangan, terdapat ruangan yang paling disukai anak-anak. Lokasinya di belakang museum atau dekat pintu keluar.

Di sana terdapat koleksi wayang golek. Persis di sampingnya terdapat permainan interaktif pakaian khas sunda serta foto interaktif bersama Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi.

Tempat tersebut dilengkapi dengan sensor. Ketika Anda berdiri di depan layar besar dengan jarak tertentu, sensor akan membacanya.

Lalu, satu stel pakaian sunda, pagsi dan kebaya, yang ada di dalam layar akan mengikuti gerak Anda. Dalam waktu tertentu, layar otomatis memotret Anda yang tengah mengenakan pakaian sunda yang Anda lihat di layar.

Begitu juga foto interaktif dengan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi. Hampir mirip dengan pakaian, pengunjung tinggal berdiri di jarak tertentu. Setelah sensor membaca, tiba-tiba sosok Bupati akan menghampiri dan sensor akan memotretnya.

Museum ini beroperasi setiap hari. Senin-Jumat dari pukul 09.00-15.00 WIB, sedangkan Sabtu-Minggu dari pukul 09.00-13.00 WIB. Masuk ke museum ini gratis, bahkan pengunjung akan ditemani dengan petugas museum yang cantik-cantik nan ramah berpakaian kebaya.

Petugas akan mengajak pengunjung berkeliling dan menjelaskan tentang bagian-bagian museum dengan cukup lengkap dan detail. Ke depan, Purwakarta akan memiliki beberapa museum canggih lainnya. Saat ini masih dalam proses pembangunan.

RENI SUSANTI/KONTRIBUTOR Purwakarta
Senin, 5 Desember 2016

http://regional.kompas.com/read/2016/12/05/12214261/purwakarta.punya.museum.canggih.dan.ramah.anak

---

Berita sebelumnya »

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.