Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

MUSEUM DEFINITION (ICOM, 2007): A museum is a non-profit, permanent institution in the service of society and its development, open to the public, which acquires, conserves, researches, communicates and exhibits the tangible and intangible heritage of humanity and its environment for the purposes of education, study and enjoyment.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum H. Widayat, Magelang

 

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


cangkuang_lingga_yoni.jpg

CANDI CANGKUANG

Garut tak hanya memiliki dodol dan kerajinan akar wangi. Di sekitar kota tua yang muasalnya dapat ditelusuri sejak 200 tahun silam masih terdapat objek wisata seperti Gunung Papandayan dan Candi Cangkuang.

Mengingat jarangnya kita mendengar tentang candi di Bumi Parahyangan dibandingkan Jawa Tengah dan Jawa Timur maka menemukan Cangkuang bisa jadi sebuah tantangan tersendiri.

Candi Cangkuang terletak di sebuah daratan tengah danau. Umumnya turis akan menyeberang dengan menggunakan rakit bambu. Penumpang memiliki dua pilihan. Rakit diborong sendiri (Rp 50.000) dan langsung berangkat atau ikut penyeberangan ngetem artinya menunggu hingga rakit terisi belasan orang (Rp 3.000-5.000/penumpang pada Desember 2009). Beruntung ketika aku sampai setelah makan pecel di warung depan Sari Cobek, rakit baru saja mulai bergerak sehingga tidak kelebaran untuk aku mencapainya dengan sekali lompatan.

Oh! Sungguh aku dibikin takjub ketika kami mendarat. Di tengah rimbun pepohonan candi dari abad VII/VIII itu berdiri. Teureup raksasa, rengas yang beracun, sampai ki meong yang langsing. Lagipula sirit uncuing sering terdengar memanggil. Tidak tahu siapa yang dirindukannya dengan begitu semangat.

Aku berjumpa peneliti Amrik yang sedang menulis buku tentang candi-candi di Indonesia. Kami berbincang saling menukar informasi kecil. Menurut estimasinya batu-batu asli yang menyusun candi tidak mencapai 20 persen, sambil menunjukkan perbedaan batu asli dan bukan.

Candi Cangkuang juga merupakan hasil sinkretisme Hindu dan Buddha. Buddha dilihat dari bentuk candi yang menyerupai stupa, unsur Hinduisme ditunjukkan oleh lingga dan yoni, demikian penjelasan peneliti itu. Keseluruhan arsitektur sinkretisme tak pelak memberi kesan kepala candi dikelilingi lidah api yang berkobar-kobar. Gitu rasa-rasaku.

Di bilik candi masih terdapat patung Siwa nan mungil. Duduk dia, tak tahu di atas kepala Nandi (kendaraan Siwa) atau teratai.

 

cangkuang_naskah.jpg

NASKAH ABAD XVII
DARI KERTAS DALUANG

Museum Candi Cangkuang terletak tak jauh dari candi. Di sini aku memperoleh informasi cangkuang adalah nama tumbuhan sejenis pandan. Pengunjung tak perlu susah-susah hendak mencari cangkuang karena dia ditanam di halaman depan museum. Menurut staf museum buah cangkuang rasanya seperti nangka. Bisa dimakan tetapi menimbulkan sensasi gatal di mulut bagi pemula.

Koleksi museum terdiri dari naskah-naskah kuno, foto-foto saat candi ditemukan (9-12-1966), diteliti/digali (1967-1968), dipugar (1974-1976), serta contoh kertas daluang dalam berbagai fase maupun foto proses pembuatan kertas daluang. 

Naskah-naskah kuno beraksara Arab ditemukan di dinding rumah penduduk Kampung Pulo ditulis di atas kertas daluang, diantaranya Al Qur’an abad ke-17. Kertas ini dibuat dari kulit pohon saeh (saeh dalam bahasa Sunda artinya baik). Jika Anda tertarik maka pohon saeh (Broussonetia papyrifera) juga dijumpai di halaman museum.

Memang hanya sebuah museum kecil dengan penerangan teplok di malam hari. Toh Museum Candi Cangkuang tetap memiliki daya tarik melalui cara yang berbeda dengan museum-museum di kota. Dia rindang, memiliki cangkuang dan saeh di halamannya, sirit uncuing membangun rumah di sekitarnya. Dia hadir di tengah danau yang dikelilingi oleh Kaledong, Mandalangi, Haruman, serta gunung-gunung lainnya. Sejuk, udara yang bersih, riuh kupu delias di tajuk pohon saat pagi. Keseluruhan adalah daya tarik yang bukannya mudah dijumpai dimana-mana.


cangkuang_rakit.jpg

RAKIT BAMBU

Kampung Pulo hanya memiliki enam rumah sejak dahulu kala, terletak bersebelahan dengan kompleks candi. Aku melewati Kampung Pulo hingga area persawahan. Bertanya kepada seorang ibu apakah jika diteruskan maka jalan akan memutar kembali ke Kampung Pulo. Ternyata setelah melalui sawah kita dapat mencapai jalan raya. Meniti pematang aku tiba di jalan aspal tak jauh dari penginapan Sari Cobek. Artinya, Candi Cangkuang bisa dicapai melalui jalan darat.

Dari jalan raya aku meneruskan langkah menuju Palalangon. Melewati rumah penduduk, tempat pembuatan batubata, rumpun bambu gombong yang buluhnya digunakan untuk membuat rakit (buluh hijau dengan garis kuning vertikal). Tiba setelah hampir setengah jam kemudian. Dari ketinggian Palalangon terlihat danau dan hutan kecil tempat Candi Cangkuang bernaung.

Sejuk udara membuat betah menjadi semakin panjang...

 

Tanggal Terbit: 28-12-2009

 

 
  Copyright © 2009-2020 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.