Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Kata 'museum' berasal dari bahasa Latin, ialah kuil untuk memuja Muses yaitu sembilan dewi dalam mitologi Yunani yang masing-masing berkuasa dalam bidang epos, sejarah, puisi cinta, lagu, drama tragedi, himne, tari-tarian, komedi, dan astronomi.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Kretek, Kudus

 

Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


tpi_feri.jpg

PELABUHAN PUNGGUR, BATAM

Langit biru, laut bening emerald, dan ombak yang berlari-lari. Perjalanan dari Batam menuju Tanjungpinang dengan feri, icip-icip rasa Indonesia negara kepulauan. Satu jam saja aku sudah tiba di Pelabuhan Sri Bintan Pura. Di dekat pintu keluar-masuk pelabuhan disambut pantun,

Sayang pematang sudah tergenang
Padi ditanam bersusun-susun
Selamat datang di Tanjungpinang
Kota gurindam negeri pantun

Yup! Tanjungpinang ibukota Provinsi Kepulauan Riau mengukuhkan dirinya sebagai Kota Gurindam Negeri Pantun. Tak heran jika ditemukan pantun dan Gurindam Dua Belas di merata tempat.

 

tpi_nama_museum.jpg

MUSEUM SULTAN SULAIMAN BADRUL ALAMSYAH

Museum Tanjungpinang memiliki nama unik Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah. Siapakah Sultan Sulaiman. Well...tergantung. Di negeri kita Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah dikenal sebagai Sultan Kerajaan Melayu Riau yang pertama. Naik tahta pada tahun 1722 dengan wilayah kekuasaan mencakup Johor, Riau, Pahang, dan Lingga. Sedangkan di pihak negeri jiran Beliau adalah Sultan Johor ke-13. Sejarah memang tergantung kepada siapa yang menulis dan dia berdiri dimana.

Museum di Jalan Ketapang dulunya adalah SD 01. Lebih dahulu lagi adalah bangunan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) atau Sekolah Bumiputera Belanda.

Setakat ini seluruh koleksi museum dikategorikan kedalam enam galeri yaitu Tanjungpinang Kota Bermula, Khazanah Arsip Photo Sejarah, Ragam Keramik, Galeri Malaka, Keragaman Budaya, Alam Perkawinan Melayu.

 

tpi_brest_van_kempen.jpg

C.P. BREST VAN KEMPEN

Foto seorang pria menatap sendu di Galeri Arsip aku baca namanya Carel Pieter Brest van Kempen. Brest van Kempen..Brest van Kempen...nama ini jelas ring a bell tapi siapa gerangan orang ini. Tidak pernah aku melihat wajahnya meski tidak tampaknya asing. Label Resident Resident Riouw di Tanjungpinang, 1854-1855 tidak banyak membantu.

Terungkap beberapa waku kemudian jika C.P. Brest van Kempen (1815-1865) adalah tokoh yang disebut dalam Max Havelaar karya Multatuli sebagai Slijmering. Selama berkarier di Hindia Belanda Brest van Kempen pernah menduduki jabatan residen Riouw (1854), Bantam (Banten, 1855), dan Djokjakarta (1857). Semasa menjabat asisten Banten, dia adalah atasan asisten residen Lebak bernama Douwes Dekker a.k.a. Multatuli.

 

tpi_lambang_kota.jpg

LAMBANG KOTA

Lambang kota di Jalan Merdeka terlihat gambar sehelai sirih dan keris di tengah. Bentuknya menyerupai cogan kerajaan yang disebut Sirih Besar. Cogan adalah salah satu regalia yang digunakan untuk penabalan sultan. Dengan kata lain simbol legitimasi sultan yang berkuasa atas Johor, Riau, Lingga, dan Pahang. Larik pertama sampiran pantun dikutip dari Senarai Upacara Adat Perkawinan Melayu Riau (Unri Press, 2000) menyiratkan pentingnya peranan cogan. Raja berjalan didahului cogan / Cogan berasal dari Kelantan / Sirih pembuka sudah dimakan / Apa gerangan hajat kedatangan

Cogan asli terbuat dari emas dan perak, bertahtakan batu rubin berwarna merah darah. Pada 13 Oktober 1822 Gubernur Belanda merampas cogan dari Engku Putri Raja Hamidah di Penyengat. Sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

Replika cogan dipamerkan di Museum Sulaiman Badrul Alamsyah lengkap dengan inskripsi dalam bahasa Melayu dengan aksara Arab-Melayu. Berbunyi, ‘Hu Hu Bismaillah al-rahman al-rahim bahwa inilah raja yang keturunan dari Bukit Siguntang asalnya daripada Baginda Sri Sultan Iskandar Zulkarnain, ialah Raja yang adil lagi berdaulat yang mempunyai tahta kerajaan serta kebesaran dan kemuliaan kepada segala negeri yang di dalam daerah tanah Melayu dengan kurnia Tuhan Rabbu’ arsil’azim atasnya...

 

 

tpi_gedung_daerah.jpg

GEDUNG DAERAH

Gedung Daerah berseberangan dengan pantai dibangun pada tahun 1822 sebagai kediaman resmi Residen Riouw. Residen yang pernah menempati gedung ini diantaranya Elisa Netscher (1861-1870), seorang scholar Melayu dan sahabat Raja Ali Haji.

Sebelum menjabat sebagai residen, Netscher pernah mengunjungi Riau pada tahun 1849, 1856, 1857. Pertemuan dengan Raja Ali Haji mengantar Netscher menerjemahkan Gurindam Dua Belas kedalam bahasa Belanda. Terbit di Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (Jurmal Linguistik, Antropologi, dan Sejarah Hindia Belanda) dengan judul De Twaalf Spreukgedichten. Een Maleisch gedicht door Radja Ali Hadji van Riouw, uitgegeven en van de vertaling en aanteekeningen voorzien (Gurindam Dua Belas: Sajak Melayu oleh Raja Ali Haji dari Riau, diterbitkan dan dilengkapi terjemahan serta catatan).

Jurnal dikelola oleh Bataviaasch Genootschap (selengkapnya Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen; dengan tambahan 'Koninklijk' (Royal) di depan sejak 1910) sehingga disebut juga Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap (TBG) artinya jurnal Perhimpunan Batavia.

Mengingat ketenarannya maka tentu saja aku mengira akan menemukan Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji diangkat dengan penuh kemegahan di museum. Atau aku yang kurang teliti mencari.

 

tpi_monumen.jpg

MONUMEN RAJA HAJI FISABILILLAH

Sekilas terlihat sama tapi Raja Ali Haji (1808-1873) pengarang Gurindam Dua Belas adalah orang yang berbeda dengan Raja Haji Fisabilillah (1725-1784). Patung dada di bawah pohon ketapang halaman museum adalah Raja Haji Fisabillah. Tadinya aku mengira patung dada Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (1722-1760) mengingat nama museum.

Monumen Raja Haji Fisabilillah atau selengkapnya Monumen Perjuangan Pahlawan Nasional Raja Haji Fisabillah terletak tak jauh dari Melayu Square. Beberapa pujasera dapat dijumpai di Tanjungpinang. Kota ini memang cukup mengasyikkan untuk wisata kuliner. Setidaknya coba deh lontong goreng (fried carrot cake) yang pernah diperkenalkan William Wongso. Penduduk lokal menyebutnya chai-tao-kwey, aslinya adalah menu dimsum. Sedangkan untuk kudapan jajal donat senggarang yang terbuat dari keladi. Enak tenan rek! Langsung aku lahap tiga sekaligus. Pokoknya donat paling enak yang pernah kumakan selama ini.

Pengalamanku saat makan di kopitiam padahal lagi pengen banget teh panas, manis, kental a la Pak Ageng juragannya Mister Rigen. Mantap aku pesan teh obeng. Busyet, ternyata es teh :D

 

tpi_penyengat.jpg

PULAU PENYENGAT DI KEJAUHAN

Masjid Raya Sultan Riau bewarna kuning gading berada di Pulau Penyengat negeri kelahiran sekaligus tempat dimakamkannya Raja Ali Haji (1808-1873). Di sinilah Raja Ali Haji menggoreskan Gurindam Dua Belas pada tahun 1263 Hijriah, Selasa, tanggal 23 Rajab (6 Juli 1847 Masehi). Karya yang mengukuhkan Tanjungpinang sebagai Kota Gurindam Negeri Pantun.

Membaca Gurindam Dua Belas sekali lagi, dua larik kembali menarik perhatianku. Barang siapa mengenal diri / Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri. Tiga makna 'bahari' menurut KBBI adalah dahulu kala, bertuah; indah, elok sekali;  mengenai laut. Aku memilih konteks 'Tuhan yang indah' karena percaya bahwa ketika manusia mengenal keelokan dirinya maka dia akan dapat merasakan keindahan Khaliknya.

Namun bagaimana manusia dapat menjadikan dirinya indah. Ah, bukankah manusia sudah dicipta indah. Kita hanya perlu menjaga agar keindahan itu jangan terluka oleh cela. Jika bertanya tentang cara agar keindahan manusia dapat terjaga maka Raja Ali Haji sudah memberi kita jawab satu setengah abad silam.

Apabila terpelihara mata / Sedikitlah cita-cita
Apabila terpelihara kuping / Khabar yang jahat tiadalah damping
Apabila terpelihara lidah / Niscaya dapat daripadanya faedah...

Jagalah mata, telinga, lidah, tangan, perut, anggota tengah, kaki, terlebih-lebih hati. Sebab, Hati itu kerajaan di dalam tubuh / Jika zalim segala anggota pun rubuh. Itukah sebabnya jalan kepada Tuhan konon bermula dari hati.

 

tpi_tugu_pensil.jpg

TUGU PENSIL

Museum, Jalan Merdeka, kantor pos, pelabuhan, Gedung Daerah, Monumen Raja Haji Fisabilillah. Destinasi terakhir Tugu Pensil, simbol Tanjungpinang pernah meraih predikat bebas butahuruf. Semoga terus maju dalam pendidikan. 

...

Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah memang layak dikunjungi terlepas dari satu-dua kerancuan maupun typo pada label museum seperti 'Menjelang berdirinya Kerajaan Riau (1772)...' Tapi justru darinya timbul pertanyaan tentang siapakah Riau sebelum berdirinya Kerajaan Melayu pertama pada tahun 1722. Semoga suatu ketika kita juga akan menemukan kisahnya di museum karena sejarah kepulauan ini masih panjang di belakang.

 

 

Tanggal Terbit: 25-04-2010

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.