Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Pelayaran orang-orang Makasar dan Bugis mulai abad ke-15 telah mencapai seluruh perairan Nusantara. Gambaran tentang luasnya daerah-daerah yang dikunjungi terlihat dengan jelas pada tulisan tentang hukum laut Amanna Gappa dan peta laut Bugis (Museum Sejarah Nasional, Jakarta).

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Serangga dan Taman Kupu, TMII, Jakarta

 

Candi Pawon & Museum H. Widayat

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


w_adam_eva.jpg

ADAM DAN EVA (Widayat, 1995)

Museum H. Widayat merupakan museum seni rupa yang dikemas dalam sebuah bangunan yang megah dan berlantai dua. Museum diresmikan oleh Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tanggal 30 April 1994.

'MUSEUM H. WIDAYAT' adalah wujud nyata dari sebuah impian, obsesi, dan prestasi dari pelukis Widayat. Impian dan obsesinya untuk memelihara dan mengabadikan karya-karya pelukis muda, khususnya karya para mahasiswa ASRI, STSRI 'ASRI' atau ISI Yogyakarta, dan beberapa karya pelukis seusia dan seangkatan Widayat, seperti Fadjar Sidik, Bagong Kussudiarjo, Abdullah, Rusli, Sudarso, Kusnadi, dan karya patung But Muchtar. Menyusul nama-nama dari generasi berikutnya seperti Subroto SM, Aming Prayitno, Sudarisman, Suwaji, Harjiman, Agus Burhan, Made Djirna, Agus Kamal, Ivan Sagito, Nindityo Adi Purnomo, Kasman KS, Cahyo Purnomo, dll.

Ide membuat museum muncul sepulangnya Widayat dari Jepang tahun 1962, setelah selama dua tahun ia belajar keramik, gardening, dan ikebana di sana. Ide membuat museum itu pertama disodorkan Fadjar Sidik yang ketika itu menjabat Ketua Jurusan Seni Lukis. Fadjar Sidik menyarankan agar ia mengoleksi lukisan-lukisan mahasiswa yang bagus, yang kelak dapat disimpan di suatu tempat khusus.

Waktu itu ASRI memang memiliki kebiasaan mengumpulkan karya-karya (lukisan) para mahasiswa. Dari waktu ke waktu karya-karya yang hanya ditumpuk di gudang terus bertambah, hingga gudang penuh. Akhirnya karya-karya tersebut tak tertampung, gudang dikosongkan, lukisan-lukisan tersebut diambil oleh siapa saja yang mau. Banyak lukisan yang bagus, karya mahasiswa yang beprestasi dan sekarang sudah memiliki nama, hilang begitu saja. Peristiwa itulah yang mendorong munculnya usulan Fadjar Sidik, dan kemudian menimbulkan keprihatinan Widayat.

Sebagai seorang pelukis dan pengajar mata kuliah seni lukis, Widayat menjadi terbiasa melihat karya-karya yang baik. Saat mereka ujian, Widayat sudah mengatakan, lukisan-lukisan yang baik, beberapa akan diambil, dan kelak akan diabadikan dalam museum.

Para mahasiswa menerima saran ini dengan antusias, mereka seakan berlomba agar karyanya dapat dikoleksi karena ini berarti bahwa mereka mempunyai nilai yang baik dalam ujian praktik melukisnya.

 

w_keramik.jpg

RUANG MARMER

Secara bertahap Widayat mulai mengumpulkan karya-karya mahasiswa yang dianggapnya terbaik. Karya-karya mahasiswa itu disimpan dan dirawatnya dengan cermat dan hati-hati, sampai pada suatu saat yang bersejarah, 30 April 1994 yang lalu, ketika Museum Seni Rupa Haji Widayat itu diresmikan. Ia berhasil mewujudkan impian dan cita-citanya untuk mendirikan sebuah museum yang megah bagi karya-karyanya dan karya-karya koleksinya itu.

Itulah obsesi, impian, dan prestasi Widayat. Prestasi seorang pelukis, secara sendirian, dengan tekun dan gigih, sanggup mewujudkan gagasan besar yang tidak saja bermanfaat bagi dirinya, namun lebih dari itu sangat bermanfaat bagi jagat seni rupa Indonesia.

Sebuah museum, jelas, memiliki fungsi yang demikian luas; tidak saja sebagai monumen, melainkan sebagai tempat 'catatan' sejarah, dokumentasi, dan tempat belajar bagi generasi lebih lanjut. Museum ini dengan koleksi-koleksinya diharapkan dapat dijadikan tolak ukur perkembangan seni lukis dan seni rupa pada umumnya. Ia ingin mendokumentasi semuanya, agar mereka yang belajar memiliki bahan banding. Agar mereka tidak tumbuh monoton. Pertimbangan yang utamanya terhadap karya-karya yang masuk museum adalah yang 'baik'. Baik untuk semua lapisan masyarakat. Untuk bisa mengerti dan mengatakan baik itu, tentu lewat proses belajar dan proses apresiasi. Museum ini sebagai tempat belajar. Sebagaimana di Eropa, para siswa diajak gurunya ke museum-museum, dijelaskan tentang berbagai lukisan yang ada di dalamnya.

 

w_lantai_dua.jpg

KOLEKSI LUKISAN DI LANTAI II

Dua ruang utama museum tersebut; lantai pertama digunakan untuk memajang sekitar 127 buah karya Widayat dari format yang terkecil 1 x 1 cm persegi, sampai yang terbesar 450 x 450 cm persegi, dari berbagai tahun yang terpilih atas berbagai pertimbangan. Lantai kedua, untuk memajang karya koleksi, terutama lukisan, kemudian grafis, dan drawing yang berjumlah sekitar 138 buah.

Tidak semua koleksi dapat begitu saja masuk museum. Karenanya diperlukan Dewan Kurator yang terdiri dari Prof. But Muchtar, Kusnadi, dan dr. Oei Hong Djien yang bertanggung jawab menyeleksi sekian banyak koleksi tersebut. Kedua lantai tersebut dilengkapi dengan barang-barang antik; dari keramik, ukiran, kain, patung-patung modern dan tradisional, batu-batuan, dan sebagainya, sebagai elemen dan asesori yang menambah kenyamanan ruangan.

Pada lantai kedua bagian belakang, terdapat studio pribadi yang cukup luas. Dilengkapi remote control untuk menaik-turunkan kanvas secara elektronik (jika melukis di atas kanvas berukuran besar, Pelukis Widayat tetap duduk di tempat, atau sesekali mengambil jarak pandang untuk mengontrol warna atau komposisi), dan rak buku berukuran besar yang berisi buku-buku seni rupa, serta perlengkapan audio.

Di belakang bangunan utama terdapat Taman Patung. Di situlah Widayat menempatkan patung-patung outdoor koleksinya.

Sumber: Brosur 'Museum Seni Rupa Indonesia – Museum H. Widayat'

 

Alamat:
MUSEUM H. WIDAYAT

Jalan Letnan Tukiyat
Mungkid
Magelang 56511
Jawa Tengah

Note: Museum terletak berseberangan dengan Patung Tani di pertigaan menuju Candi Borobudur.

Telp/Fax. 0293 788 251

http://museum-hwidayat.blogspot.com

Jam Kunjungan:
Selasa – Minggu 08.00-16.00
Jumat 11.30-13.30 tutup

Tiket:
Rp 7.500

 

 

 

 

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.