Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Kain geringsing berasal dari Desa Tenganan Pegeringsingan, Kabupaten Karangasem, berfungsi sebagai penolak bala dan dipakai pada waktu upacara agama. Dibuat dengan teknik ikat ganda dan diberi hiasan motif flora, fauna, dan wayang, diantaranya disebut motif buah pepare, bunga cemplong, wayang putri, kalajengking, dan sebagainya (Museum Bali, Denpasar).

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Sandi, Yogyakarta

 

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


w_museum.jpg

MUSEUM H. WIDAYAT
MAGELANG, JAWA TENGAH

Borobudur menyimpan misteri yang tak usai dijelajahi. Tetapi sekitar Borobudur juga menawarkan pesona tersendiri. Untuk itulah suatu hari dari Terminal Jombor, Yogyakarta, alih-alih ke Candi Borobudur seperti biasa, aku melaju dengan tujuan pasti: Candi Pawon, Museum H. Widayat, dan Mendut.

Sesaat setelah meninggalkan terminal, bis melewati makam dr. Wahidin Soedirohoesodo (1852-1917), tokoh yang menginspirasi Soetomo dan kawan-kawan mendirikan Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908. Tiba di Muntilan, bis menyisir Jalan Pemuda sebelum memasuki terminal. Karena penumpang cukup ramai maka bis pun segera meluncur kembali. Di Pertigaan Pabelan bis mengarah ke barat; melalui ladang tembakau, Candi Mendut, dan Gereja Bunda Maria Sapta Duka yang dirancang oleh Romo Mangun.

 

w_kalpataru.jpg

RELIEF 'POHON KALPATARU' DI CANDI PAWON

Mendekati Jembatan Kali Progo Brojonalan aku bersiap-siap turun. Bis berhenti tepat di depan Monumen Selamat Datang di Borobudur. Dari sini jalan bercabang tiga, Jalan Syailendra dan Balaputradewa di kanan dan tengah sama-sama mengarah ke Borobudur. Jalan kecil di sebelah kiri menuju Candi Pawon di Dusun Brojonalan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Sebuah alamat yang bikin puyeng tapi dari sini menuju candi hanya berjarak 200an meter. Pintu gerbang desa pun sudah terlihat dari sini.

Hari di musim kemarau yang cerah. Pegunungan Menoreh terbentang sabar seperti dahulu kala. Di depan kandang kuda penarik andong aku bertanya kepada seorang ibu untuk memastikan. 'Itu sudah kelihatan,' ujarnya. Tapi tingak-tinguk aku tidak menemukannya. 'Kelihatan ya, Bu?' komentarku sambil cengar-cengir. Kali ya, ada yang liyan melihatnya tapi kita tidak.

 

w_pawon.jpg

CANDI PAWON, MAGELANG

Yup! Ini dia si Pawon, candi mungil nan jelita. Peneliti Museum Etnologi, Leiden, Veronique Degroot menyebutnya sebagai, 'An isolated shrine in the Muntilan area.' Tapi sekali pernah mengunjunginya, kita tahu dia sangat mudah dicapai meski tidak lantas membuatnya sepopular Borobudur. Coba deh dari seluruh pengunjung Borobudur, belum tentu ada loh setengahnya yang mengenal Pawon. Mungkin itu yang menimbulkan rasa dia seperti candi yang terisolasi ya.

Mengitari Pawon kita akan menemukan beberapa panil bodhisatwa dan kalpataru di tubuh candi. Di bawah pohon hayat terdapat sepasang kinara-kinari yakni makhluk berbadan atas manusia dan badan bagian bawah berupa burung. Di tajuknya sepasang makhluk kahyangan vidyadhara dan vidyadhari. Di atas panil kalpataru, di antara lubang jendela adalah relief hiranyagarbha. Sedangkan di dinding kaki tangga terdapat relief para peziarah mencapai pohon kalpataru. Kondisi sebagian relief masih baik dan cukup tajam.

Ernst Haeckel, ahli biologi terkemuka Jerman, seorang naturalis dan juga artis, pernah mengunjungi Pawon pada tahun 1901. Pada waktu itu candi masih ditumbuhi sebatang randu alas raksasa. 'The most beautiful randu alas...I ever saw,' kenang Isaac Groneman, dan menambahkan bahwa Haeckel, ilmuwan yang sangat sensitif terhadap keindahan alam sempat menggambar pemandangan langka tersebut di buku sketsa, 'and devoted himself for two or three hours to the contemplation of this combined creation of art and nature.'

Sekarang pemandangan yang bisa dijumpai di sekitar candi adalah lapak-lapak pedagang suvenir, Masjid Al Mujahidin, dan pemukiman beratap genteng. Sebatang pohon talok di pojok halaman luar. Burung trocokan dan sikatan bakau dalam sangkar. Dua bocah perempuan bersepeda di jalan yang sudah beraspal meski debu-debu masih beterbangan ketika dilewati kendaraan roda empat. Lampu jalan di dekat portal masih menyala. Seperti apa kehidupan di sekitar candi dahulu sebelum randu tumbuh di situ.

 

w_korban_phk.jpg

KORBAN PHK INDONESIA (Widayat, 1998)

Museum H. Widayat terletak di seberang Patung Tani, berjarak beberapa ratus meter dari candi. Aku langsung menyukainya karena pohon-pohon kepel dan gayam di halaman. Apalagi jarang-jarang bisa menemukan pohon gayam. Tadinya aku sudah bersiap-siap merogoh kantong cukup dalam mengingat yang dikunjungi adalah museum pribadi, tetapi ternyata tiket hanya Rp 7.500. Senang banget dunk. Apalagi selayang pandang, sudah terlihat sebuah museum yang mengasyikkan.

Bermacam-macam rasa timbul memperhatikan lukisan-lukisan karya Widayat (1923-2002). Menonton Sepak Bola Gratis dan Nonton Butet Ndagel menimbulkan rasa kocak, tetapi Korban PHK Indonesia menimbulkan miris. Beberapa lukisan mengambil tema dari kitab, seperti Adam dan Eva dan Kapal Nabi Nuh Mendarat. Binatang seperti ayam, burung, ikan, sapi tampaknya menjadi objek yang disukai. Aku terutama menikmati Dua Belalang (Jepang, 1962) yang tertulis di lukisannya: Dia masuk kamarku, bertelur, terus kugambar.

Galeri juga menampilkan karya sejumlah artis seperti Bagong Kussudiarjo (Barong, 1993), Djoko Pekik (Ulang Tahun 83 H. Widayat, 2002), Lee Man Fong (Wanita Bali, 1951), Raden Saleh (Paku Buwono, 1867), Trubus (Ni Asri, 1952), serta sejumlah seniman Bali.

Karya seni lain berupa patung Ayam Jago (G. Sidharta, 1997), patung dada Potret Widayat (Kasman KS), hingga piring keramik dengan cetakan lukisan Nympheas, effet du soir (Teratai, Efek Senja) karya Claude Monet (1898). Lukisan asli berukuran 73cm x 100cm merupakan koleksi Musee Marmottan Monet, Paris. Ikut mempercantik interior museum aneka warna nusantara seperti kain tenun, terakota majapahit, topeng madura, penutup lumbung dari Sumatera, ukiran asmat, wuwungan burung, dan sebagainya.

 

w_backyard.jpg

HALAMAN BELAKANG MUSEUM

Halaman belakang yang luas dengan taman asri dan patung-patung, terinspirasi Museum Kroller-Muller, museum seni dan taman patung di Otterlo, Belanda. Sebuah oase di tengah hari yang terik. Di sini sebuah bangunan joglo menaungi puluhan karya Widayat berupa pahatan pada marmer. Diantaranya Burung-burung di Alam Bebas, Dialog antara Kambing dan Burung, Korban PHK.

...

Menjelang tengah hari museum tutup sementara; break sholat Jumat. Jadi aku meneruskan langkah menuju destinasi terakhir: Mendut. Candi buddha yang usianya lebih tua dari Borobudur maupun Pawon. Di dinding luar tangga candi, dipahat fabel dari Kitab Tantri Kamandaka. Diantaranya adalah kisah petapa menyelamatkan kepiting dan di kemudian hari giliran kepiting menyelamatkan pertapa dari ancaman ular. Kebaikan akan kembali kepada mereka yang menanamnya. Siapa yang mengunjungi Mendut, semoga akan membawa sari dari kisah di relief dinding tangga sebagai buah tangan beharga.

 

Tanggal Terbit: 11-09-2011

 

 
  Copyright © 2009-2020 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.