Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

MUSEUM DEFINITION (ICOM, 2007): A museum is a non-profit, permanent institution in the service of society and its development, open to the public, which acquires, conserves, researches, communicates and exhibits the tangible and intangible heritage of humanity and its environment for the purposes of education, study and enjoyment.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Aksara Lontarak, Museum La Galigo, Sulawesi Selatan

 

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


aceh_rumoh_aceh.jpg

RUMOH ACEH

Rumah tradisional Aceh atau Rumoh Aceh dibangun semasa Pameran Kolonial (1914) di Semarang. Dikenal sebagai Paviliun Aceh, rumah tradisional ini berhasil menyabet penghargaan paviliun terbaik. Seluruh bangunan kemudian diboyong ke Banda Aceh dan diresmikan sebagai Atjeh Museum pada tanggal 31 Juli 1915. Dengan demikian menempatkannya sebagai salah satu museum bersejarah panjang di Bumi Nusantara.

Di kompleks museum sekarang terdapat dua bangunan yang berfungsi sebagai ruang pameran permanen. Pertama, Rumoh Aceh yang telah berusia hampir satu abad. Bangunan kedua terletak di sebelah utara Rumoh Aceh. Koleksi museum dikategorikan kedalam Galeri Arkeologika, Biologika, Etnografika, Filologika, Geologika, Historika, Keramotologika, Numismatika, Seni Rupa, Teknologika.

aceh_maket.jpg

MAKET MESJID RAYA BAITURRAHMAN
MASA SULTAN ISKANDAR MUDA

Satu dari highlight museum adalah maket Mesjid Raya Baiturrahman dari masa ke masa. Bangunan masjid sekarang mengadopsi arsitektur Mughal, namun semasa Sultan Iskandar Muda (1583?-1636) membangun Baiturrahman, atap masjid mengambil bentuk limas bewarna merah.

Mesjid Raya Baiturrahman pernah terbakar dua kali. Pertama pada masa Kesultanan Aceh dipimpin Sultanah Naqiatuddin Nurul Alam (1675-1678) atau sekitar 40 tahun meninggalnya Sultan Iskandar Muda. Masjid dibangun kembali tak lama kemudian. Kedua kalinya terjadi pada saat Belanda menginvasi Aceh (1873) dan memulai perang terpanjang dalam sejarah penjajahan Belanda di Indonesia.

Lima tahun kemudian masjid dengan satu kubah dibangun pemerintah Hindia Belanda berdasarkan rancangan De Brun sebagai upaya rekonsiliasi. Selanjutnya diperluas (1936) dengan penambahan dua kubah atas usulan Gubernur Aceh Anton Philip van Aken. Pada masa kemerdekaan dua kubah ditambahkan (1957) sehingga total menjadi lima kubah sebagai perlambang Pancasila di Bumi Serambi Mekah.

 

aceh_rencong.jpg

RENCONG DARI ACEH

Dari negeri Aceh, rencong terkenal. Jadi ke museum mesti dong menyamperi senjata khas Aceh di Galeri Historika. Perbedaan rencong dibandingkan senjata tradisional lain terletak pada bentuk senjata yang mengambil rupa kata 'Bismillah'. Selain senjata, rencong berperan sebagai perhiasan dan perlengkapan upacara adat. Setiap laki-laki Aceh memiliki sebilah rencong sebagai sang sahabat. Bermacam-macam rencong dapat dibedakan melalui bentuk gagang dan sumbuh yaitu ujung gagang.

Selain rencong Galeri Historika juga menampilkan foto-foto berkenaan sejarah Aceh seperti surat maklumat perang ditandatangani Gubernur Jenderal James Loudon di Istana Bogor. Foto Mayor Jenderal J.H.R. Kohler (1818-1873) pemimpin invasi Belanda ke Aceh pada 8 April 1873. Kohler tewas tertembak (10 April) tak lama kemudian. Foto pohon geulumpang (kelumpang atau kepuh) di halaman Mesjid Baiturrahman yakni lokasi tertembaknya Kohler. Pada saat aku berada di Banda Aceh, beberapa pohon geulumpang di Kerkhof Peucut sedang berbunga dengan riuh-rendahnya.

 

aceh_makam.jpg

MAKAM SULTAN ISKANDAR MUDA

Museum Aceh tutup saat jam makan siang. Waktu satu jam aku manfaatkan untuk menyambangi makam Sultan Iskandar Muda di sebelah museum. Sebatang trembesi tua berdiri kokoh di sana. Di dahan pohon aku menemukan gelatik batu sedang menikmati makan siang. Si menu dijepit dengan kaki kemudian dipatuk dengan paruhnya.

Kuperhatikan foto-foto yang dijepret di museum. Galeri Malaka di dekat pintu masuk. Maket Mesjid Raya Baiturrahman dan makam Nahrasyiah generasi kelima Sultan Malik al Salih pendiri Kerajaan Samudra Pasai (Galeri Arkeologika). Anak sapi berkepala dua di Galeri Biologika. Pakinangan, peralatan berburu, dan baju adat di Galeri Etnografika.

Bagi peminat kaligrafi maka Galeri Seni Rupa akan menjadi ruang pamer paling tepat untuk dikunjungi. A.D. Pirous, Amri Yahya, Widayat adalah tokoh-tokoh seni rupa Indonesia yang dapat dijumpai karyanya di sini.

Objek wisata menarik di sekitar museum adalah Taman Putroe Phang, Pintoe Knop (gerbang penghubung tamansari dan keraton), dan Tamansari Gunongan persembahan Sutan Iskandar Muda kepada sang permaisuri Putroe Phang dari Kerajaan Pahang. Tempat-tempat ini hanya berjarak 10-20 menit jalan dari museum.

Bertetangga dengan makam adalah Meuligoe Aceh atau rumah dinas gubernur. Melihatku tingak-tinguk seorang petugas mempersilakan jika ingin melihat-lihat pendapa. Sebuah keramik di lantai berukir 'ANNO 1880'. Di lokasi pendapa gubernuran dulu berdiri Keraton Kesultanan Aceh.

 

aceh_pohon.jpg

POHON GEULUMPANG

 

EPILOG. Al-Hallaj, Rabiah al-Adawiyah, Attar, Rumi, Yunus Emre adalah tokoh-tokoh sufi yang mendunia. Di telinga kita setidaknya Rabiah pernah terdengar. Seorang perempuan yang hendak memadamkan api di neraka dengan seember air dan membakar surga agar janganlah orang-orang memuja Allah karena takut akan api neraka maupun demi surga. Namun hendaklah semata-mata, satu-satunya sebab adalah karena Dia, dicintai.

Maulana atau Jalaluddin Rumi terlebih-lebih akrab di kita bak kacang goreng. Buku-buku Rumi bertengger di toko-toko buku besar maupun kecil. Dari Basis hingga Horizon, dia diceritakan, diulas, diselisik.

Diam-diam dari Bumi Nusantara, Hamzah Fansuri adalah sebuah nama tersendiri. Ulama sufi dan mistikus besar Aceh yang sangat dihormati pada masa Sultan Alauddin Riayat Shah Ibn Firman Shah. Naguib Al-Attas menyebutnya sebagai orang pertama yang menggariskan dalam bahasa Melayu semua aspek fundamental doktrin sufi. Sepadan, Abdul Hadi W.M menahbiskan Hamzah Fansuri sebagai Bapak Sastra dan Bahasa Melayu.

Oleh sebab itu sudah selaiknya Galeri Filologika memperkenalkan tokoh besarnya selangkah lebih dalam. Bahwa Aceh tidak sebatas Tanah Rencong dan Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Teuku Umar. Aceh juga Hamzah Fansuri pujangga sufi abad XVI-XVII yang karya-karyanya tak lekang. Aceh, semoga akan terkenal kelak sebagai negeri yang darinya lahir mistikus dan tokoh-tokoh besar di bidang tasawuf.

 

Mutu qabla an tamutu
Pada la ilaha illa hu
Laut dan ombak sedia satu
Itulah arif da'im bertemu

Hamzah Fansuri

 

Tanggal Terbit: 10-01-2010

 

 
  Copyright © 2009-2020 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.