Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Bermahkota bukannya raja. Berbelalai, bergading lainnya gajah. Bersayap bukannya burung. Bersisik lainnya ikan. Bertaji bukannya ayam. Binatang apakah ini. Sumber: Museum Mulawarman, Tenggarong, Kalimantan Timur.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Prajurit Timah, Museum Mainan Anak Kolong Tangga, Yogyakarta

 

BUNG KARNO (Blitar)

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


bk_makam.jpg

 

MAKAM BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT

 

Blitar memiliki beberapa tempat menarik. Candi Panataran misalnya. Kakawin Nagarakretagama mengisahkan Hayam Wuruk pernah berkunjung ke sini. Memang sensasi tersendiri jadinya berwisata ke Panataran. Mengingat Sri Rajasa dari Majapahit sedemikian kerap kita dengar dalam pelajaran sejarah, sekali waktu 'bersua' juga di ruang yang sama meski waktu berbeda.


Daya pikat Blitar yang kedua adalah Perpustakaan Proklamator Bung Karno dengan sebuah museum mungil dan patung Bung Karno duduk membaca buku. Sebagian koleksi museum berupa foto-foto selain bendera merah putih, kopor yang menyertai BK di Penjara Sukamiskin (1930-31) maupun ketika diasingkan Belanda ke Ende, Flores (1934-38) dan Bengkulu (1938-42).


Ketiga, adalah di Blitar Bung Karno dikebumikan. Makam Bung Karno terletak di sebuah pendapa dengan atap tumpang tiga. Memang tidak tampaknya seperti keinginan BK tentang bagaimana Beliau akan dimakamkan,


'...Aku mendambakan bernaung di bawah pohon yang rindang, dikelilingi oleh alam yang indah, di samping sebuah sungai dengan udara segar dan pemandangan bagus. Aku ingin beristirahat di antara bukit yang berombak-ombak dan di tengah ketenangan. Benar-benar keindahan dari tanah airku yang tercinta dan kesederhanaan darimana aku berasal..'


bk_perpus_kompleks.jpg

PERPUSTAKAAN PROKLAMATOR BUNG KARNO

 

Pada saat aku melangkah keluar dari makam, waktu sudah menunjukkan pukul 4.15 sore. Sebenarnya mepet tapi diputuskan mampir ke RM Wisata Jamur *tak tahan digoda jamur*. Makan sore dengan menu sate jamur tiram, french fries, nasi, jus nangka. Total Rp 18.500. Secangkir kopi tampaknya akan mengakhiri acara makan dengan sempurna. Hanya, aku harus segera beranjak jika masih ingin mencapai Gebang.

Meski tidak begitu yakin jika Gebang masih buka saat aku sampai di sana tapi terus juga aku melangkah ke sana. Pengalaman berkali-kali menunjukkan jika kenyataan di lapangan bisa saja tidak serupa perhitungan di atas kertas.

Berhenti sejenak memotret papan nama Jalan Ir. Soekarno. Tertulis di sana kode pos: 66113. Mungkin tiga angka di depan sebagai kenangan tanggal kelahiran Bung Karno, 6 Juni 1901.


Setelah beberapa kali bertanya, aku tiba di Jalan Diponegoro. Rindang Kebun Rojo sungguh mengundang. Sayang aku tidak bisa mengambil resiko membagi sisa waktu yang sudah sangat tipis. Jadi dengan berat hati aku teruskan langkah. Sebuah sekolah, SMA Katolik Diponegoro berseberangan dengan Kebun Rojo.

 

Memasuki Jalan Sultan Agung, aku mencari-cari sebuah rumah bernama Gebang. Tak ada papan namanya. Aku hanya menduga-duga dari halaman yang luas dan bangunannya. Bertanya ke tetangga seberang rumah. Bingo! Itu dia memang benar.


bk_ndalem_gebang.jpg

GEBANG, RUMAH ORANGTUA BUNG KARNO

 

Sering dikatakan Gebang (Blitar) sebagai kediaman Bung Karno ketika kecil. Hal yang aku tahu adalah BK menjalani tahun-tahun pertama dalam hidupnya di Surabaya, kemudian pindah ke Mojokerto saat berusia enam tahun. Selain itu BK juga pernah ikut kakek-neneknya di Tulungagung.

 

Sedangkan tentang Blitar dikisahkan BK, 'Di tahun 1917 bapak dipindah ke Blitar. Di sana dia mendapat gaji yang lebih tinggi, hingga dapat mengirimiku 1,5 rupiah untuk uang saku setiap bulannya.' Dengan kata lain, pada saat sang ayah Sukemi Sosrodiharjo dipindahkan dan mengajar di Blitar, BK sudah bersekolah di Surabaya dan hanya pulang ke rumah orangtuanya di saat liburan selama dua bulan. Pada tahun 1917 tersebut, BK telah berusia 16 tahun.

 

bk_ruang_tamu.jpg

RUANG TAMU

Meski memperkirakan Gebang sudah tutup namun sukar juga menepis kecewa. Tapi toh tak mematahkan semangat untuk mengintip isi rumah melalui jendela kaca yang gede. Malahan aku sempat menengok ke belakang melalui pintu samping yang tidak dikunci. Lalu kembali ke halaman depan. Duduk-duduk di anak tangga membuang pandang sembari membayangkan ketika BK pulang ke sini menghabiskan liburan sekolah. Masa-masa itu BK telah bersekolah di HBS, Surabaya. Lulus lima tahun (1916-1921) kemudian dan Bandung menjadi tujuan berikutnya.


BK pernah mengisahkan tempat ini kepada Cindy Adams. Ketika itu Gunung Kelud meletus, orangtuanya pergi mencari BK yang sedang pergi ke Wlingi menemui teman-temannya. Kecemasan serupa mendorong HOS Cokroaminoto berkendaraan seharian dari Surabaya menuju Blitar. Tutur BK, 'Rumah kami selamat, tapi rumah itu penuh dengan lahar dan lumpur. Ketika sampai di Gebang dia hanya mendapati rumah itu kosong sama sekali, kecuali beberapa ekor burung kecil yang mencari selamat. Pikirannya kalut, sampai dia bertemu dengan kami.'


Di halaman Gebang menjulang lebat sebatang pohon kunto bimo. Ditanam pada hari ketujuh setelah wafatnya BK demikian aku diberitahu kemudian. Bunganya merah manggis berjuntai dalam satu rangkaian. Biasanya mekar menjelang sore dan sudah gugur keesokan harinya. Tidak terlihat buah yang bergelantungan seperti umumnya. Ternyata sudah dipotong jauh hari untuk mencegah buah yang berat jatuh menimpa anak-anak yang sering bermain-main di sini.


bk_kamar_dan_foto.jpg

KAMAR TIDUR BUNG KARNO

 

Tak bisa kubayangkan keberuntunganku hari itu ketika datang penjaga rumah untuk menutup jendela-jendela, mengunci rumah. Tentu saja tak kulewatkan kesempatan untuk menjenguk kedalam meski hanya untuk sesaat yang singkat.


Kesanku yang pertama tentang isi rumah: jelas banyak foto dan lukisan. Satu yang menarik adalah foto di samping pintu kamar tidur Bung Karno. Tepat di atas foto Sukarmini Wardoyo (kakak BK) ialah Mandor Klungsu alias Djoko Pring, tak lain tak bukan adalah Sosrokartono kakak Kartini. Tentu saja seketika aku mengenal Sosrokartono karena beliau adalah salah satu tokoh yang aku kagumi.


BK sekali dalam autobiografinya menceritakan tentang Sosrokartono, 'Pada malam menjelang putusan hakim dibacakan, enam orang kawan pergi ke rumah Doktor Sosrokartono, seorang tokoh kebatinan yang sangat dihormati di Bandung. Sebagaimana kemudian diceritakan kepadaku, keenam orang itu ingin menenangkan pikiran dan meski hari sudah lewat tengah malam, mereka datang juga ke rumah Dokter Sosrokartono, tanpa memberitahu terlebih dulu. Seorang pembantu yang membukakan pintu memberitahu mereka, 'Pak Dokter sudah menunggu-nunggu' dan mengiringkan mereka ke ruang dalam, di mana enam buah kursi telah disusun dalam setengah lingkaran. Kawan-kawan itu tentu heran. Tanpa terlebih dahulu bertanya tentang maksud kedatangan mereka, tokoh kebatinan itu hanya mengucapkan tiga buah kalimat: 'Sukarno adalah seorang satria. Pejuang seperti satria boleh saja tersungkur, tetapi dia akan bangkit kembali. Waktunya tidak lama lagi.''


Sambil menutup jendela satu per satu, penjaga rumah memperkenalkan bagian-bagian rumah. Usai tugasnya, dia masih menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan ramah dan tidak terlihat hendak mendesakku. Tahu diri memaksaku untuk pamit.

 

bk_kepel.jpg

 

Melangkah keluar dari Gebang dengan rasa yang enggan. Tidak tahu kapan akan kembali lagi ke sini. Kufoto sekali lagi kepel yang berbuah sebagai kenangan tentang sore yang tiba begitu cepat di Blitar.

 

 

 

Tanggal Terbit: 07-03-2010

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.