Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Replika KRI Matjan Tutul yang tenggelam bersama Komodor Yos Sudarso saat pertempuran di Laut Arafuru, 1962, telah hadir di Museum Satriamandala, Jakarta.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Kalung Wisnu, Museum Mulawarman, Tenggarong, Kalimantan Timur

 

Museum Goedang Ransoem

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


MENGENANG ORANG RANTAI


Pada tahun 1868, ahli geologi Belanda W.H. de Greve menemukan deposit batubara di Ombilin, Sawahlunto, 115 km dari Padang. Total kandungan batubara diperkirakan 200 juta ton. Beberapa tahun kemudian (1892) batubara mulai ditambang.

Pada mulanya penambang diambil dari tahanan penjara Sawahlunto tetapi kemudian semakin banyak tahanan dibawa ke Pidie untuk menjadi pengangkut logistik dalam Perang Aceh. Jadi mulailah direkrut buruh tambang atau kuli kontrak dari berbagai daerah. Namun kebutuhan tenaga kerja yang besar akhirnya melahirkan ide untuk mempekerjakan orang-orang tahanan, kriminal maupun politik dari penjara Hindia Belanda di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali.

Untuk mencegah tahanan melarikan diri maka kaki mereka dirantai. Dari sinilah asal buruh kerja paksa disebut orang rantai.

 

gr_5632.jpg

MUSEUM GOEDANG RANSOEM

‘The hammer banged reveille on the rail outside camp HQ at five o'clock as always.  Time to get up...’

Demikian Aleksandr Sozhenitsyn memulai kisah Ivan Denisovich Shukhov dalam One Day in the Life of Ivan Denisovich. Kisah sehari dalam kehidupan Shukhov, seorang tahanan biasa di kamp kerja paksa pada tahun 1950-an. Namun setidaknya orang-orang ini masih memiliki nama. Sementara orang rantai di Sawahlunto hanya dikenal dengan sebuah nomor. Di batu nisan mereka pun hanya tertulis angka-angka.

Setiap pagi para tahanan di kamp kerja paksa dibangunkan dengan suara trompet. Semalam aku menginap di Hotel Ombilin. Pagi sudah terbit ketika suara sirene berbunyi. Aku yakin cukup nyaring hingga terdengar di seantero Sawahlunto.

Seperti apakah orang-orang rantai dulu dibangunkan dari tidur yang tak pernah cukup untuk memulihkan lelah kerja kemarin. Untuk mulai lagi bekerja pukul empat. Dingin subuh Sawahlunto yang menusuk tulang. Bahkan sekalipun diantara orang rantai adalah mereka yang pernah melakukan tindakan jahat, mereka di setiap detiknya adalah manusia seperti kita.

 

gr_5610.jpg

GALERI FOTO

‘...First time you saw him you were terrified, but when you got to know him he was the easiest of the lot — never put you in the hole, never dragged you off to the disciplinary officer...’

Sukhov mengisahkan Sersan Ivan tidak seperti sipir penjara lainnya. Bagaimana kehidupan orang-orang rantai yang bekerja dibawah pengawasan ketat petugas Belanda maupun mandor pribumi. Ketika manusia hanyalah sebuah angka dan cemeti di tangan mandor, kehidupan tentu sukar dan keras. Semoga, semoga pernah ada mandor maupun penduduk yang bersimpati terhadap mereka.

Beberapa foto di museum memang tidak terlalu bisa meninggalkan gambaran kepada kita tentang kehidupan orang-orang rantai di Sawahlunto. Aku hanya menyadari kehilangan itu apa ketika membaca sebuah buku dalam suatu perjalanan kereta api.

Seorang laki-laki yang selamat dari kamp konsentrasi ketika Hitler melancarkan Holocaust menulis ketika dia pernah memiliki waktu lima menit untuk dirinya sendiri.

‘I just sat and looked out at the green flowering slopes and the distant blue hills of the Bavarian landscape, framed by the meshes of barbed wire. I dreamed longingly, and my thoughts wandered north and northeast, in the direction of my home, but I could only see clouds.’

Rindu, adalah rasa yang tidak dapat kita temukan di foto-foto. Kampung halaman dan keluarga, serta rindu orang-orang rantai agar diperlakukan sedikit lebih manusiawi, sedikit lebih memiliki ruang.

Jika dulu mereka tidak mendapatkannya semoga sekarang tak lagi begitu.

 

gr_panci_nasi.jpg

PANCI NASI

‘...There is no worse moment than when you turn out for work parade in the morning.  In the dark, in the freezing cold, with a hungry belly, and the whole day ahead of you...’

Sebuah panci tempat nasi ditanak. Berapa banyak beras menjadi matang didalam dirinya. Namun cukupkah orang-orang rantai diberi makan.

Sebenarnya aku tidak perlu bertanya.

 

gr_5628.jpg

DUNIA SUNYI ORANG RANTAI

Kita tak memiliki Aleksandr Sozhenitsyn yang akan menceritakan satu hari dalam kehidupan orang rantai. Sawahlunto juga tak memiliki seorang asisten residen seperti Multatuli. Tapi setidaknya masih ada Marah Rusli.

Dalam Sitti Nurbaja dikisahkan suatu ketika Samsu merasa masygul teringat rumah Nurbaya yang terbakar. Teringat olehnya ketika berlayar pulang menuju Pelabuhan Teluk Bayur, dilihatnya seorang tahanan yang putus asa melompat dari geladak ke Laut Tanjung Cina. Saat itu gelombang sangat besar. Tahanan itu tidak timbul lagi.

’Rupanya karena putus asa, lebih suka ia mati di dalam laut daripada menanggung kesengsaraan, kehinaan, dan malu. patutlah acap kali hamba lihat ia termenung dan terkadang-kadang menangis di sisi kapal; makan pun kerap tiada suka.’
’Barangkali ia hendak lari,’ kata Sutan Mahmud (ayah Samsu).

’Pada pikiran hamba bukan demikian,’ sahut Samsu, ‘Karena kapal waktu itu jauh di tengah laut; daratan tak kelihatan. masakan dapat ia mencapai pantai. lagi pula tangannya dibelenggu; bagaimanakah ia dapat berenang?’
’Sedih amat! Bagaimanakah rasa hati anak-bininya, ibu bapa, dan sanak saudaranya, bila mendengar kabar itu?’ kata Sitti Maryam pula.
’Barangkali ia sebatang kara atau besar kesalahannya,’ sahut Sutan Mahmud.
’Kesalahan manusia itu, hanya Allah yang mengetahui,’ jawab istrinya.

’Kabarnya ia dipersalahkan membunuh orang, sebab itu dihukum buang dalam rantai lima belas tahun lamanya ke Sawah Lunto,’ kata Samsu pula.
’Nah, dengarlah itu! kalau tak bersalah, masakan dihukum seberat itu,’ jawab Sutan Mahmud.

’Biarpun telah dihukum, belum tentu lagi bersalah, karena hukuman itu, walau rupanya adil sekalipun, masih hukuman dunia dan hakimnya manusia, yang gawal dan lemah, sebagai kita sekalian juga,’ jawab Sitti Maryam.

 

gr_5609.jpg

BATU NISAN ORANG RANTAI

'Just one of the 3,653 days of his sentence, from bell to bell.
The extra three were for leap years.'

Begitulah akhir One Day in the Life of Ivan Denisovich. Sehari dalam hidup Ivan Denisovich Shukhov di kamp konsentrasi. Tak bersalah tetapi toh dihukum dengan tuduhan mata-mata hanya karena pernah dipenjara Jerman sebagai tahanan perang.

Dia menjalani kehidupannya di penjara selama tiga tahun. Tepat 3.653 hari, plus tiga hari dari tiga kali tahun kabisat.

Seberapa banyak mereka yang disebut orang rantai adalah orang-orang yang ‘kesalahannya’ karena tuduhan maupun melakukan aksi protes terhadap penjajahan Belanda. Termasuk orang-orang yang bersalah karena tak bisa membeli keadilan.

Tambang batubara telah memberi keuntungan luar biasa bagi pemerintah Hindia-Belanda, terutama setelah selesainya jaringan kereta api dari Sawahlunto ke Padang. Jumlah batubara yang diangkut dari Pelabuhan Teluk Bayur ke Eropa meningkatkan hingga ratusan ribu ton setiap tahunnya.

Sementara nasib orang-orang rantai yang dipekerjakan membangun rel kereta, menggali terowongan, menambang batubara dengan belencong. Setidaknya, pulangkah mereka ke rumah ketika masa tahanannya selesai.

...

Sebuah batu nisan orang rantai dari balik kaca Museum Goedang Ransoem.
Berilah kami arti
...
Chairil Anwar pernah menulis dalam Krawang-Bekasi.

 

 

Tanggal Terbit: 02-05-2010

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.