Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Batu nisan van Imhoff, Gubernur Jenderal Belanda yang memberi nama Buitenzorg kepada Bogor, berada di Museum Wayang, Jakarta.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Pusaka Nias

 

Museum Affandi

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


affandi_patung.jpg

AFFANDI DAN KARTIKA
MUSEUM AFFANDI, YOGYAKARTA

Mengunjungi Museum Affandi untukku adalah sebuah bentuk penghormatan terhadap spirit autodidak. Affandi (1907-1990) dikenal luas sebagai maestro seni lukis. Dia juga menyandang gelar kehormatan Doctor Honoris Causa dari University of Singapore dan pernah menjadi dosen tamu di Ohio State University, Amerika Serikat. Dia, belajar melukis secara autodidak.

Dia bahkan adalah satu dari pelukis Indonesia dengan cara ekspresi diri yang autentik. Tentu saja adalah proses panjang menuju Affandi dengan kekhasannya melukis yaitu memelocotkan cat ke kanvas, kemudian melukis langsung dengan tangan dan spontanitas.

 

affandi_ayam.jpg

PATUNG AFFANDI

Ketika aku mengajak Wi, teman dan tamuku dari Jakarta ke Museum Affandi, kami berakhir dengan lebih banyak menghabiskan waktu di Cafe Loteng. Tampak dari kafe Kali Gajahwong dan pohon randu alas yang ijo-royo waktu itu. Temanku Anthon yang mengamati jika kerimbunan randu mengalir pasang-surut seiring musim. Saat hujan tiba dia akan hijau kembali, saat musim kering dia menggugurkan daunnya. Itulah sebabnya di kalangan teman-teman kami menyebutnya pohon anthon.

Sebenarnya ingin bisa menikmati (dan memahami) lukisan-lukisan Affandi yang kesohor. Apa daya sebagai orang awam dengan kemampuan apresiasi seni yang serba mesti ditunjang sana-sini, memang keterangan dibutuhkan lebih dari sekadar judul dan tahun. Buku Biography dan Museum Affandi tak mengulurkan bantuan berarti. Isinya catatan biografi secara kronologis, pameran dan penghargaan. Tidak dibicarakan lukisan-lukisan.

Padahal lukisan-lukisan Affandi bukannya tanpa cerita. Ambil saja lukisan Ayam Mati misalnya. Ajib Rosidi (100 Tahun Affandi, 2008) mencatat Affandi pernah berkisah, ‘Melukis bukan tujuan saya. Itu hanya sekedar cara untuk menyampaikan isi hati saya kepada manusia lain, tentang kehidupan manusia...Kalau saya melukis Ayam Mati yang menjadi korban adu ayam di Bali, biasanya yang saya lukis bukan hanya ayam itu saja, melainkan juga banyak kaki di sekelilingnya. Kaki itu hendak dilihat sebagai gambar manusia, yang telah begitu kejam terhadap sesama makhluk yang disabungnya sampai mati.’

Patung Affandi menggendong ayam jago di depan kafe tadinya aku kira dibikin karena Affandi suka bermain sabung ayam. Ternyata justru sebaliknya.

Jika saja lukisan memiliki keterangan tambahan memang akan menjadikannya lebih menarik untuk pengunjung awam seperti kami berdua. Apalagi koleksi museum adalah karya-karya, meminjam ungkapan Ajib Rosidi ‘terkuat’ yang sengaja disimpan Affandi untuk museumnya.

 

affandi_boeng.jpg

'BOENG, AJO BOENG!'

Sebuah poster di Galeri I digantung berseberangan dengan puluhan lukisan kaya warna. Sedangkan dianya nyaris hitam-putih. Tampak redup memang jadinya tetapi sedikit keterangan semoga dapat membantu kita menggali sisi tersembunyi poster yang terlihat jadul.

Poster tersebut melukiskan seorang laki-laki muda dengan merah-putih di tangan kanan dan kiri dikepalkan. Putus sudah rantai yang membelenggu kedua tangannya selama ini. Penuh semangat dia teriakkan: Boeng, Ajo Boeng!

Di balik poster yang dikerjakan Affandi pada awal kariernya, terdapat kontribusi tiga orang penting dalam sejarah Indonesia. Pertama adalah Bung Karno yang memberi ide rantai putus kepada Affandi. Kedua, pelukis Dullah sebagai model. Ketiga, Chairil Anwar yang kebetulan muncul di situ menambahkan seruan ‘Boeng, Ajo Boeng!’ Bisa mengira darimana Chairil Anwar mendapat ide? Itulah yang dikatakan pelacur-pelacur Jakarta ketika sedang bekerja. Singkat, jelas padat, mengandung undangan yang hangat.

So what...

Inilah sehari-hari kaki lima yang sering-sering malahan jauh lebih hidup dengan spontanitas yang menggairahkan. Tak perlu terlalu banyak basa-basi yang bikin perut tak bisa cerna makanan waktu lunch tiba.

Boeng, Ajo Boeng! Hey, maksud beta ayo bung bangun bangsa. Mau membangun bangsa mari mulai dari ide simpel dahulu: belajarlah antri dan buang sampah di tempatnya. Tak perlu terlalu banyak ide besar yang akhirnya hanya jalan-jalan di tempat.

Sederhana, simpel. Bukankah begitu sesungguhnya Affandi yang nyaman menyebut dirinya tukang gambar.

 

affandi_makam.jpg

PERISTIRAHAT TERAKHIR
AFFANDI DAN MARYATI

Saat pulang ke rumah Maret (2010) kemarin, mataku berserobok dengan Anak Tanahair, Secercah Kisah di rak buku. Buku karya Ajib Rosidi itu kertasnya mulai kuning. Karena sudah begitu lama aku tidak terlalu ingat lagi ceritanya. Jadi aku mulai buka-buka lagi beberapa halaman pertama dan keasyikan sampai kubaca kalimat terakhir.

Buku itu di satu bagian ceritakan suatu ketika Ardi menemui Affandi untuk belajar melukis dan membawa beberapa karya untuk ditunjukkan. Affandi memperhatikan lukisan-lukisan tersebut kemudian berkata,

‘Saya tidak mau mengatakan bahwa Bung tidak berbakat,’ katanya. ‘Karena menurut hemat saya bakat itu tidak penting. Yang penting adalah kemauan dan latihan, kerja keras dan nasib baik. Tetapi kalau saya boleh menasehati Bung, lebih baik Bung menjadi tentara saja. Jangan berkeinginan menjadi pelukis.'

...

‘Saya memang mau menjadi tentara,’ kataku. ‘Tetapi senjata saya bukan pistol atau granat, melainkan kanvas, cat dan kuas.'

Dia begitu senang mendengar jawabanku itu, sehingga aku disalaminya dengan keras. ‘Senang aku mendengar pemuda yang tidak segera putus asa karena mendengar penilaian orang lain. Kepercayaan kepada diri sendiri adalah modal pokok dalam hidup, terutama dalam kesenian,’ katanya sungguh-sungguh. ‘Peganglah itu kuat-kuat. Jangan lepaskan. Karena dengan modal pokok itu, nanti pribadimu akan berkembang dengan bebas.’

Begitulah Affandi. Jujur, memiliki kebaikan hati dan nasehat yang lahir dari hidupnya sendiri. Maestro namun toh sederhana seperti pagi, bijak bagai sunyi.

 

 

 

Tanggal Terbit: 13-05-2010

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.