Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Naskah Proklamasi dirumuskan di rumah kediaman Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol no.1. Sekarang menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Badak Jawa, Museum Zoologi Bogor

 

Museum Kupu-kupu dan TWA Bantimurung

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


banti_tepi_sungai.jpg

TAMAN WISATA ALAM BANTIMURUNG

Pernah sekali aku nongol di depan pintu museum dalam keadaan basah kuyup. Ceritanya gini. Di Bantimurung aku jalan ke Gua Batu. Lalu lihat gerbang Museum Kupu-Kupu. Manis dikerumuni daun kupu-kupu. Pikirku nanti saja kembali dari gua aku ke sana. Jadi begitulah meski kehujanan aku tetap lenggok ke sana. Nothing to lose toh kadung basah.

Tak terduganya petugas museum Awal berkata aku boleh masuk. Haa! Nanti lantainya mesti dipel. Jawabnya tak apa-apa. Aku balik ke penginapan salin dulu setelah itu ke sini lagi ya, kataku. Awal oke-oke saja. Padahal beberapa saat lagi museum tutup. Akhirnya aku putuskan besok saja ke sini lagi.

Esoknya kami berbincang lebih panjang. Aku mendapat tahu Danau Kassi Kebo artinya pasir putih dalam bahasa Bugis dan Danau Toakala kira-kira artinya dari sejak dahulu kala *kalau aku tak  salah ingat loh*. Menurut Awal bantimurung berasal dari kata benti dan murung. Artinya berturut-turut air dan gemuruh. Aku juga diberitahu tentang flying fox dan rumah pohon di lokasi perkemahan.

 

banti_gerbang.jpg

GERBANG MUSEUM KUPU-KUPU, BANTIMURUNG

Kompas (24/5/2010) menerbitkan tulisan Mengembalikan Kerajaan Kupu-kupu di Bantimurung disertai keterangan foto, ‘Awal, penjaga Museum Kupu-Kupu di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TNBB), Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menunjukkan sejumlah koleksi kupu-kupu yang rusak akibat usia dan kelembaban, Rabu (12/5). Pengelola TNBB berencana menambah jenis koleksi dan mengganti koleksi kupu-kupu yang rusak tahun ini.’

Aku pun memutuskan waktunya untuk menulis Museum Kupu-kupu, Bantimurung.

Saat mengunjungi museum (Februari 2009) aku diberitahu koleksi yang sudah rusak akan diganti. Semoga akan segera terwujud. Aku menceritakan koleksi kupu-kupu Museum Serangga di TMII yang prima banget. Nanti ke sini lagi aku bawakan foto museum di Taman Mini janjiku.

Aku yakin ada cara menjadikan Museum Kupu-Kupu menarik. Jika kendala dana adalah satu hal maka kreativitas tentu tidak semestinya terbatas. Pasti ada cara yang tak mahal untuk mengembangkan Museum Kupu-Kupu menjadi tempat wisata edukasi. Justru dana yang terbatas menjadi tantangan menarik. Bekarya untuk negeri bukankah ibadah juga dan sempurna ketika dapat membebaskan diri dari pamrih.

 

banti_androcles.jpg

PAPILIO ANDROCLES

Ruang pameran museum boleh dikatakan lumayan bersih namun kondisi koleksi cukup memprihatinkan. Spesimen kering yang dijual di luar malahan kondisinya lebih baik dibandingkan koleksi museum. Padahal tadinya aku membayangkan koleksi museum mencakup seluruh jenis kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sehingga pengunjung bisa mengidentifikasi kupu-kupu yang ditemuinya di sini. Juga keburu membayangkan brosur dan tersedianya buku panduan kupu mengingat kemasyhuran Bantimurung. Paling tidak tersedia deh daftar kupu-kupu TNBB di museum. Hee! Ternyata...

Tapi daripada mengeluh setengah koleksi yang menyedihkan bukankah masih ada yang bisa dinikmati. Setidaknya aku menemukan Graphium androcles (dulu Papilio androcles), kupu cantik yang disebut Wallace dalam The Malay Archipelago. 

‘...and it was here that I at length obtained an insect which I had hoped but hardly expected to meet with – the magnificent Papilio androcles, one of the largest and rarest known swallow-tailed butterflies. During my four days’ stay at the falls I was so fortune as to obtain six good specimens. As this beautiful creature flies, the long white tails flicker like streamers, and when settled on the beach it carries them raised upwards, as if to preserve them from injury.’
Alfred Russel Wallace (The Malay Archipelago, 2000)

Dua hari di Bantimurung aku tidak pernah melihat kupu yang konon tak kalah menawan dibandingkan kembang seruni. Lha, zamannya Wallace saja sudah jarang. Empat hari di Bantimurung tak lebih dari selusin Androcles dilihatnya, 'It is scarce even here, as I did not see more than a dozen specimens in all...' Apalagi sekarang ya. Untung museum memiliki Androcles. Meski kecantikan yang dilukiskan Wallace tentang jurai ekor panjang dan putih yang berkibar-kibar ketika Androcles hinggap di tepian sungai, seakan-akan sebagai caranya melindungi ekor dari cedera, hanya bisa menyala dalam imajinasi. Tapi imajinasi bisa jadi lebih hidup dari realita loh :D

 

banti_priamus.jpg

SEPASANG ORNITHOPTERA PRIAMUS

Di luar museum berkali-kali aku ditawari membeli spesimen kering diantaranya Papilio blumei. Berkali-kali aku menolak. Gigih-gigihan dengan penjual. Kasihan juga sebenarnya. Mungkin salahku memperhatikan kupu-kupu yang mereka jual. Sebenarnya aku hanya ingin mengetahui dengan nama apa kupu-kupu dikenal.

Salah satunya kupu-kupu merahputih untuk menyebut Great Orange Tip. Merahputih adalah kupu yang mudah ditemukan di Bantimurung. Gampang mengenalinya. Si kupu badannya gede. Warna sayapnya putih, di ujung sayap atas terdapat bercak oranye yang jelas. Selama di Bantimurung beberapa kali aku melihat merahputih mencari nektar di kembang soka. O ya, soka (Ixora sp) dan asoka (Saraca sp) adalah dua jenis tumbuhan yang berbeda.

Siangnya makan di salah satu warung dekat gerbang. Aku minta nasi goreng dengan daftar pakai ini, tak pakai itu. Ibu Warung menambahkan satu, ‘Pakai besi?’
Haa! Besi?
Mungkin menilik mimikku yang kontan oon, Ibu Warung mengatakan miwon..hehe...

Sambil menunggu makan siang aku melihat-lihat suvenir. Ada peci. Bapak yang jual menjelaskan peci hitam buatan Gowa, peci putih buatan Bone. Oh gitu. Diantara kupu awetan kering yang dijual adalah kupu sayap burung Ornithoptera priamus dan Ornithoptera goliath. Hmm. Bukannya mereka dilindungi ya.

Akhirnya diputuskan beli kaos bergambar Ornithoptera croesus alias Wallace’s Golden Birdwing. Kupu yang dideskripsi Wallace. Pertama dilihatnya di Pulau Bacan saat si kupu bermain-main di kembang kingkilaban (Mussaenda frondosa).

 

banti_kaki_seribu.jpg

KAKI SERIBU WALLACE

Satu-satunya alasan aku pergi ke Bantimurung adalah untuk menjelajahi rute eksplorasi Alfred Russel Wallace. Memang pantas jika Taman Wisata Alam Bantimurung dinobatkan sebagai museum kupu-kupu hidup. Rasa-rasa ada saja kupu dimana-mana. Total-total aku sempat memotret hampir 20 jenis kupu. Tapi bagian paling menakjubkan dalam perjalananku adalah bertemu kaki seribu. Mereka masih persis seperti diceritakan Wallace,

‘Since the rains began, numbers of huge millipedes, as thick as one's finger and eight or ten inches long, crawled about everywhere, in the paths, on trees, about the house--and one morning when I got up I even found one in my bed! They were generally of a dull lead colour or of a deep brick red, and were very nasty-looking things to be coming everywhere in one's way, although quite harmless.’

Kaki seribu warna tembaga dan batubata, segendut jari, panjangnya belasan sentimeter. Anggun mendayung dengan kakinya di sela-sela buah aren di atas tanah yang kaya serasah. Padahal sebelumnya tak sekalipun terpikir aku akan bisa bersua dengan kaki seribu tersebut.

Setangkup terima kasih kuletakkan di Bumi, semoga peri dan angin akan antarkan kepada Dia yang ciptakan kesempatan untuk pertemuan ini.

 

 

Tanggal Terbit: 30-05-2010

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.