Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Prangko pertama di Indonesia bergambar Raja Willem III, diterbitkan 1 April 1864 (Museum Prangko Indonesia, TMII, Jakarta)

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Prangko Indonesia, TMII, Jakarta

 

Galeri Nasional Indonesia

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


galnas_sidharta.jpg

PAMERAN MANIFESTO 2010
GALERI NASIONAL INDONESIA, JAKARTA

Sesekali beli Haagen Dasz. Sesekali makan pedas. Sesekali ke Galnas. So, benaranlah aku pergi ke Galeri Nasional Indonesia pertama kalinya saat pameran Have you seen a sculpture from the body? (Dolorosa Sinaga, Okt-Nov 2008). Dolorosa hanya sedikit membuat patung laki-laki. Salah satunya Dalai Lama. Jadi kufoto lalu dikirim ke NW ~ fans berat DL. Baru-baru ini DL menulis artikel Many Faiths, One Truth (The New York Times, 24 Mei 2010). Kata-katanya memang terasa relevan.

Kedua kalinya ke Galnas *setelah beberapa kali tak jadi terus* tepat lima hari menjelang Kebangkitan Nasional (2010). Rasa-rasa sih sekelebat mata, tak sangka sudah dua tahun berlalu. Edan! Tempus fugit atau aku yang abai.

 

galnas_marilynified_series.jpg

PERSIAPAN PAMERAN

Setelah sekian lama Galnas yang kukunjungi ternyata sedang sibuk bikin persiapan pameran Manifesto 2010. Aku diberitahu pak satpam Selasa peresmiannya, Rabu baru dibuka untuk umum.

Ya sutra. Lihat-lihat saja orang-orang usungan. Mungkin karena mojok membuat tampangku terlihat melas sehingga ditawari pak-siapa jika mau melihat-lihat ruang pameran. Namanya pucuk dicinta ulam tiba. Terima kasih Pak!

Beberapa lukisan aku potret. Diantaranya lukisan bocah-bocah jalanan dengan ragam profesi seperti loper koran, penyemir sepatu, bocah ojek payung, pengamen dengan gitar kecil, icik-icik, dll. Lukisan lain wajah berleher panjang dengan latar kuning hitam. Ekspresinya ingatkan aku pada sampul depan sebuah buku lama. Penulisnya dari Afrika Selatan. Aku tidak begitu ingat, mungkin Cry, The Beloved Country.

 

galnas_bangunan.jpg

GALERI NASIONAL INDONESIA

Keluar dari ruang pameran aku foto bunga kamboja warna gading dan pohon calang, lalu putuskan pulang. Menjelang pertengahan tahun begini, di Jakarta pohon kamboja berbunga dengan meriah. Di gerbang terdengar koak yang cukup nyaring dari arah sebatang pohon besar di area parkiran. Ternyata burung betet. Suaranya parau *sudut pandang manusia* tapi burungnya cantik *sudut pandang manusia juga*. Burung-burung ini tinggal di Monas, hanya main-main ke sini, kata pak satpam. Lagi ngobrol itu, tiga ekor betet terbang ke arah Monas.

Foto gedung Galnas di atas diambil dari jembatan penyeberangan. Bangunan induk mungkin gedung paling tua di kompleks Medan Merdeka. Sejarah bangunan bermula dari rumah Indische Woonhuis (klasisisme disesuaikan iklim tropis). Dibangun pada tahun 1817 oleh G.C. van Rijck, Top Ten Batavia waktu itu. Selanjutnya pernah digunakan sebagai panti asuhan temporer (1900-1902). Kemudian Carpentier Alting mendirikan asrama dan sekolah untuk anak perempuan secara bertahap (1902-1955). Penulis besar Belanda Tonke Dragt adalah salah satu murid yang pernah bersekolah di sini. Karyanya De brief vor de Koning mendapat penghargaan cerita anak terbaik dan terjemahannya Surat untuk Raja telah diluncurkan pada akhir tahun 2007.

Sebelum akhirnya Galeri Nasional Indonesia diresmikan secara formal pada tahun 1999, gedung ini pernah digunakan untuk beberapa sekolah, diantaranya SMA 7. Dibandingkan zaman asrama, gedung Galnas telah direnovasi di beberapa tempat.

 

galnas_fx_harsono.jpg

OPEN YOUR MOUTH, 2001

Pameran Manifesto 2010 bertema: Percakapan Masa. Diselenggarakan dalam rangka 102 Tahun Kebangkitan Nasional. Dagelan gedung miring dan berbagai hal yang sudah keterlaluan di negeri ini, ada kalanya membuatku berpikir tentang apakah ada benarnya Indonesia sudah terjerambab jadi mitos (Mitos Indonesia (Radhar Panca Dahana, Kompas, 19 Mei 2010)).

Memang menantang bagaimana jika wajah ini dan suatu ketika kebangkitan nasional pernah terjadi diwujudkan dalam suatu pameran seni. Tajuk ‘Percakapan Masa’ pun sudah menggelitik sejak awal. Kira-kira begitulah aku menafsir tema ini. Sementara maksud kurator adalah pertemuan karya seniman kontemporer dan karya terpilih dari koleksi Galeri Nasional. Beda ya ternyata namun begitulah kata. Tak mesti ditafsir sama. Terlepas dari beban benar-salah, rasaku menikmati seni adalah menikmati kejujuran diri sendiri.

Diantara koleksi museum yang dipajang di sayap selatan gedung induk adalah Open Your Mouth (FX Harsono, 2001). Judul yang dengan sendirinya mampu menghentikan langkah kita, meski untuk renungan yang sejenak. Beberapa waktu lalu, Singapore Art Museum (SAM) menyelenggarakan pameran tunggal FX Harsono: Testimonies (4 Maret-9 Mei 2010). Open Your Mouth (FX Harsono, 2002) termasuk salah satu yang dipamerkan.

‘This exhibition pays tribute to FX Harsono and traces the shifts in the artist’s strategies of representation: from the ground-breaking conceptual works that re-defined art making during the Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) or New Art Movement of the 1970s; to the politically-charged installations of the 1990s; concluding with the artist’s recent investigations into issues of self, identity and personal history.’
Singapore Art Museum (Brosur pameran FX: Testimonies, 2010)

Ketertarikanku terhadap karya-karya FX Harsono bisa jadi karena aku lebih mudah attach kepada ide seni sebagai perlawanan terhadap bungkam. Sebuah bentuk ahimsa menghadapi kebrutalan dalam bentuk tindakan maupun waktu.

 

galnas_layang2.jpg

DUNIA BOCAH DI GALNAS

Tanggal 30 Mei aku ke Galnas lagi. Pameran Manifesto berlangsung sekaligus di tiga ruang. Ruang A hanya dijaga satu satpam dan lobi ditunggui staf dari Vanessa. Padahal saat itu dipamerkan juga karya Raden Saleh (Badai, 1851), Basuki Abdullah (Kakak dan Adik, 1978), S.Sudjojono (Tjap Go Meh, 1940), Wahdi Sumanta (Tanah Priangan, 1974), Zaini (Perahu, 1974), dll.

Dari ruang C ke B berjalan melalui jembatan kaca, aku terhenti memperhatikan anak-anak bermain layangan. Bung kecil naik sepeda sambil minta tolong temannya bocah perempuan memegang layang-layang. Ketika bung kecil menoleh ke belakang siap menarik sepedanya untuk menerbangkan layang-layang, eh layang-layangnya terbalik. Balikin, balikin...nah gitu. Oke, siap?
Go! Bocah-bocah gembira. Tawa pun lepas.

Semoga ketika anak-anak ini dewasa, kita memiliki Indonesia yang lebih baik untuk mereka. Tentu kita akan bisa memiliki Indonesia yang lebih baik. Bermula dari kita bisa menjadi lebih baik. Jika tidak untuk negeri ini, setidaknya sebagai orangtua yang lebih baik untuk anak-anak, dan sebagai anak yang lebih baik untuk orangtua kita sendiri.

...

Sekali-kali, ke sinilah. Paling tidak untuk menikmati sebuah sisi Jakarta yang tidak sehari-hari. Lagian siapa tahu di sini kita akan menemukan ide, sesuatu, apa gitu yang mungkin dapat membantu memulihkan keseimbangan hidup. Setidaknya daripada terperangkap macet akhir pekan panjang di Puncak atau Tol Cipularang. Iya kan...

Just as that puzzled savage who has pickep up - a strange cast-up from the ocean? - something unearthed from the sands? - or an obscure object fallen down from the sky? - intricate in curves, it gleams first dully and then with a bright thrust of light. Just as he turns it this way and that, turns it over, trying to discover what to do with it, trying to discover some mundane function within his own grasp, never dreaming of its higher function.
So also we, holding Art in our hands...

 Alexandr Solzhenitsyn
The Nobel Lecture in Literature 1970

 

 

 

Tanggal Terbit: 13-06-2010

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.