Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Kata 'museum' berasal dari bahasa Latin, ialah kuil untuk memuja Muses yaitu sembilan dewi dalam mitologi Yunani yang masing-masing berkuasa dalam bidang epos, sejarah, puisi cinta, lagu, drama tragedi, himne, tari-tarian, komedi, dan astronomi.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Ganesha Naik Gajah, Museum Kasepuhan, Cirebon

 

Museum Ronggowarsito

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


ronggowarsito.jpg

MUSEUM RONGGOWARSITO

Hujan Bulan Juni, aku suka. Sapardi Djoko Damono yang tulis. Tapi tak menyangka Jakarta Juni (16/6/2010) masih memiliki hujan. Jadi hari Rabu itu payungan terus naik ke jembatan penyeberangan. Kelihatan pohon-pohon yang punya tajuk mirip cemara, sawo kecil namanya lagi berbuah. Merah-oranye bergelantungan. Ditemani tetesan hujan yang bening seperti hati bintang-bintang.

Di seberang Ambas aku turun dari angkot. Lalu berlenggang ke Mega Kuningan. Menyusuri promenade yang dinaungi daun-daun trembesi. Lewati Oakwood, Bakoel Koffie, Jalan Perintis, lalu menyelinap dari belakang Mitra. Kelihatan seekor burung cinenen di halaman parkir. Kehujanan dia. Menatapku yang payungan, sejenak. Sebelum terbang. Ke negerinya yang punya awan biru

Aku, dan Jakarta, dan hujan hari itu.

 

smg_parang.jpg

MOTIF PARANG RUSAK

Gara-gara sambil mendengarkan Reda nyanyi Hujan Bulan Juni jadi terbawa suasana. Tapi Semarang aku yakin tak pernah suka hujan bulan Juni yang membuatnya dilanda rob dan lelep.

Semarang kota pelabuhan yang sudah sangat tua. Negeri kelahiran N.H. Dini. Aku pernah baca beberapa bukunya. Pada Sebuah Kapal adalah yang pertama. Ceritakan Sri yang mencintai tari. 

‘...Pada hari lebaran berikutnya aku mendapat sebuah pemberian dari ibuku berupa kain yang dibatiknya sendiri. Warnanya coklat kekuningan, gambarnya tampak dengan jelas pada sinar lampu yang terang, dengan bentuk-bentuk parang rusak kecil-kecil amat teratur. Inilah hadiah pertama yang berharga bagiku. Kain itu kemudian kupakai pada waktu-waktu aku menari dengan pakaian lengkap.’

Motif parang rusak untuk pertama kalinya aku perhatikan di kain batik koleksi Museum Ronggowarsito *selama ini semua batik adalah batik*. Persis seperti dilukiskan NH Dini, coklat kekuningan, kecil-kecil, teratur. Kain batik tersebut berasal dari Pemalang, dibuat pada tahun 1927. Hee..kebetulan edisi pertama Pada Sebuah Kapal terbit pada tahun 1972.

 

smg_bayang.jpg

WAYANG ARTINYA BAYANG-BAYANG

Museum Ronggowarsito lumayan luas, terdiri dari sembilan ruang pameran yang mencerminkan warisan budaya yang beragam. Keseluruhan ruang pameran beserta bangunan lainnya dalam kompleks museum (perhatikan maket) membentuk, kesanku gunung. Gunungan wayang? Mungkin ya. Tebak doang :)

Jika Anda tidak mempunyai cukup waktu untuk mengeksplorasi seluruh museum maka bagian yang paling aku rekomen adalah wayang (Gedung D, Lantai II). Dari semula aku memang sudah jatuh hati kepada koleksi wayang karena di sinilah kutemukan ternyata kata ‘wayang’ memiliki arti, yaitu bayangan. Dijelaskan,

‘Wayang dalam bahasa Jawa berarti bayangan, mengandung arti berjalan kian-kemari, sayup-sayup bagi substansi bayang-bayang.’

Jika Anda sepertiku kerepotan mengerti bagian terakhir, maka kita bisa mencoba mencernanya dari makna kata ‘substansi’ yakni watak yang sebenarnya dari sesuatu (KBBI). Jadi, ‘...sayup-sayup bagi watak sebenarnya dari bayang-bayang?’ Nah sampai di sini akan terlihat lebih jelas kemungkinan typo, sehingga semestinya, ‘...sayup-sayup bagai watak yang sebenarnya dari bayang-bayang.’ Dengan demikian bagian akhir kalimat  menjadi masuk akal.

Koleksi dunia wayang yang kaya di Museum Ronggowarsito telah diuraikan pada bagian pengantar. Aku senang menemukan pengetahuan tentang wayang kayu tiga dimensi, disebut wayang golek purwa diciptakan oleh pendiri Masjid Menara yang hidup di tengah pengrajin kayu, Sunan Kudus. Kata ‘golek’ sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya ‘boneka’.  Di kemudian hari berkembang wayang klitik atau wayang krucil dengan tokoh-tokoh yang terbuat dari kayu pipih.

 

smg_topeng.jpg

WAYANG TOPENG

Di ruang pameran aku duduk ditemani aneka wayang dan pemandangan kuda lumping, barongan, nini thowok (ternyata nama lain permainan jelangkung toh). Banyak hal mulai kurasa. Diantaranya peninggalan dari berbagai zaman peradaban di Gedung B, Lantai I-II. Mencakup koleksi dari masa peradaban Hindu-Buddha, pengaruh Islam, bahkan Polinesia.

Perjalanan sejarah dan warisan budaya kita sebenarnya sangat mengandung warna Hindu, Buddha, Islam. Dengan latar belakang akumulasi kearifan sebagai buah akulturasi peradaban selama beratus-ratus tahun, mestinya kita mampu tumbuh sebagai generasi kosmopolitan yang memiliki toleransi tinggi, bermental konstruktif, dan tidak canggung menghadapi segala yang asing.

Lagi duduk itu, dua anak sekolah menengah ditemani seorang staf museum berjalan lewat. Aku menyapa mereka dan kami sempat ngobrol-ngobrol sejenak. Ternyata minta dikancani karena takut. Aku ditanya sendirian ya. Tadinya mau aku kerjain dua bocah ini tapi niat jahat itu aku urungkan. Satu-satunya penghalang adalah tidak berkata bohong tanpa perlu :D

Di dekat tangga turun terdapat koleksi calung. Aku sempat ragu inikah calung yang disebut-sebut dalam Ronggeng Dukuh Paruk. Tapi raguku tertepis setelah membaca keterangan tentang calung sebagai kesenian rakyat yang berkembang di Jawa Tengah bagian barat, seperti Tegal, Brebes, Banyumas. Karena trilogi karya Ahmad Tohari mengambil panggung di sebuah dukuh terpencil di kabupaten Banyumas. Dukuh Paruk namanya, yang 'hanya lengkap bila di sana ada keramat Ki Secamanggala, ada seloroh cabul, ada sumpah serapah, dan ada ronggeng bersama perangkat calungnya.' Membanggakan menemukan museum yang memiliki tempat untuk aneka kesenian rakyatnya.

 

smg_karna.jpg

PATUNG KARNA TANDING

Setelah sambung-menyambung dan naik-turun dari ruang pameran AI-AII-BII-BI-CI-CII-DII-DI (abjad merujuk gedung, angka romawi merujuk lantai), selesailah kunjunganku ke Museum Ronggowarsito. Ternyata Gedung A, B, C, D mengelilingi sebuah taman kecil. Ada kandang burung gagak di taman. Si burung kelihatan agak galak dan berkali-kali melampiaskannya dengan koak yang keras. Mungkin itu caranya mengatakan dia tidak suka dikurung. Pohon sawo kecik mendengarnya sepanjang hari dengan tenang yang tak berubah.

Berjalan keluar langkahku terhenti di pendapa oleh staf museum yang menjelaskan patung dada Ronggowarsito, pujangga yang namanya diabadikan sebagai nama museum provinsi Jawa Tengah. Sedangkan halaman museum dihiasi Patung Karna Tanding. Sementara Jakarta lebih suka memilih Patung Arjuna Wijaya tak jauh dari Museum Nasional, tapi Semarang tampak arif dengan pilihannya: Karna Tanding.

...

Dari museum aku turun di Tugu Muda tak jauh dari Lawang Sewu. Kemudian menyusuri Jalan Pemuda ke kantor Joglosemar. Di trotoar seorang pria berkaos lengan panjang warna biru tua. Tampaknya lelah dan kisruh. Aku tidak tahu tapi sepertinya dia lapar meski tidak kelihatan dia peduli. Kami hanya berpapas dalam waktu yang sekilas. Lalu saling melangkah ke arah yang berlawanan. Tak seorang pun menoleh kembali. Hari itu, rasanya seperti sebuah puisi pernah ditulis Walt Whitman (1860): Stranger, if you passing meet me and desire to speak to me, why should you not speak to me? / And why should I not speak to you?

 


Tanggal Terbit: 27-06-2010

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.