Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Prangko pertama di Indonesia bergambar Raja Willem III, diterbitkan 1 April 1864 (Museum Prangko Indonesia, TMII, Jakarta)

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Prajurit Timah, Museum Mainan Anak Kolong Tangga, Yogyakarta

 

Museum M.H. Thamrin

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


t_museum.jpg

HALAMAN MUSEUM M.H. THAMRIN

Memperhatikan map Jakarta maka kita akan menemukan jalan yang membentang cukup panjang dari Patung Arjuna Wijaya (Patung Kuda) hingga Tugu Selamat Datang (Bundaran HI). Cantik ditumbuhi kembang tasbih aneka warna di tengahnya. Itulah Jalan M.H. Thamrin.

Lumayan sering melewati Thamrin akhirnya aku terinspirasi untuk dolan ke Museum Thamrin. Apalagi saat ke Museum Kebangkitan Nasional, en route aku sempat spot papan nama Jalan Kenari. Jadi begitulah pada suatu hari di pertengahan tahun 2010 meluncurlah daku dengan bus transjakarta dari Kampung Melayu. Turun di Halte Salemba UI (bukan Salemba Carolus) dan jalan kaki melewati Pasar Kenari menuju Jalan Kenari II.

 

t_onthel.jpg

SEPEDA ONTHEL

Tak perlu khawatir tidak menemukan museum. Papan nama cukup besar berdiri mantap di luar halaman, ditemani sebatang delima yang daunnya jarang. Sedangkan halaman museum dinaungi pohon kenari, tanjung, mahoni yang rimbun. Lagi aku di sana kenari sedang berbunga, kecil-kecil tetapi wanginya nyata.

Anak-anak SD Rumah Kita ramai bermain-main di halaman museum. Sekolah mereka di seberang jalan. Bocah laki-laki bermain sepakbola *lagi Piala Dunia jee*, anak-anak perempuan petak umpet dan dampo (mereka menyebutnya buyung). Menyenangkan melihat anak-anak memiliki tempat untuk bermain, berlari-lari, dan tertawa riang.

Suatu hari anak-anak ini akan mendengar dari bangku sekolah bahwa Bung Karno diasingkan Belanda ke Flores pada tahun 1933. Namun tak banyak yang mengetahui bahwa di sinilah, di halaman anak-anak bermain ini Bung Karno ketika melangkah keluar dari pintu rumah, ditangkap sebelum diasingkan.

Dikisahkan dalam autobiografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, 'Tanggal 1 Agustus kami mengadakan pertemuan para pimpinan partai di rumah Thamrin di Jakarta. Pertemuan itu berakhir lewat tengah malam. Ketika aku keluar dari rumah menuju jalan raya, di sana berdiri seorang Komisaris Polisi, yang telah menungguku dengan sabar di depan rumah. Ini merupaka pengulangan kembali dari penangkapan yang terdahulu. Dia mengucapkan kata-kata yang sama, 'Tuan Sukarno, atas nama Sri Ratu kami menangkap Anda.''

 

thamrin_galeri.jpg

RUANG PAMERAN MUSEUM M.H. THAMRIN

Tadinya aku tidak yakin jika museum buka karena semua pintu dan jendela tertutup. Sedikit nekat pintu masuk museum aku dorong. Ternyata tidak dikunci. Setelah membayar tiket aku diminta mengisi buku tamu. Tamu terakhir sebelum aku, datang kira-kira sebulan sebelumnya.

Begitu memasuki museum, pengunjung segera disambut patung dada Husni Thamrin. Selebihnya dapat dikatakan satu-satunya ruang pameran tersebut cukup sederhana. Koleksi di bagian kiri terdiri dari lemari pakaian dan meja rias marmer sumbangan keluarga, replika sepeda onthel, serta beberapa repro foto keluarga dan kisah perjalanan karier. Aku mencari sekiranya ada keterangan tentang perjalanan pendidikan Thamrin.

Sedangkan perjalanan karier tokoh Betawi berdarah Inggris ini dimulai dari kantor kepatihan, kantor keresidenan, maskapai pelayaran Belanda (KPM). Perkenalan dengan Daniel van der Zee (1880-1969), seorang sosialis, mengantar Thamrin yang fasih berbahasa Belanda berkarier di Gemeenteraad (Dewan Kota Batavia) selama periode 1919-1941. Kemudian anggota Volksraad atau Dewan Rakyat (1927-1941).

 

t_radio.jpg

RADIO M.H. THAMRIN

Di sini kita akan menemukan dipan kayu pernah digunakan untuk menyemayamkan jasad Thamrin sebelum dimakamkan di TPU Karet. Perjalanan terakhir sang politikus yang dicintai rakyat kecil diantar lebih dari 20.000 pelayat.

Koleksi lain di bagian kanan berupa seperangkat gamelan, ondel-ondel, lukisan potret, dan radio yang digunakan Thamrin untuk mendengar siaran berita dari luar negeri. Sebuah diorama rapat Gementeraad melukiskan usulan yang berhasil diperjuangkan Thamrin di Dewan Kotapraja yakni perbaikan kampung dan pembangunan Kanal Swiss (Ciliwung) untuk memenuhi kebutuhan air bersih rakyat.

Bagian tengah dipamerkan blangkon, piring keramik, replika meja keluarga sumbangan Zee Zubaidah. Agaknya nama depan anak angkat Thamrin berasal dari Daniel van der Zee. Sepasang prangko seri Pahlawan Nasional bergambar M.H. Thamrin dan Abdul Muis merupakan sumbangan Museum Pos Indonesia, Bandung.

Thamrin adalah tokoh penting dalam kehidupan Bung Karno. Semasa pengasingan di Flores yang merupakan sarang malaria pada waktu itu, BK pernah jatuh sakit berkali-kali. Suatu ketika sakit BK menjadi sangat parah sehingga dokter mengira ajalnya sudah dekat. Dikisahkan kemudian oleh BK, 'Ketika berita mengenai keadaanku yang sedang sakit keras sampai di Jakarta, Thamrin mengajukan protes di Volksraad, 'Kami meminta Tuan bertanggung jawab terhadap kesehatan Sukarno. Dia harus dipindahkan ke tempat yang lebih besar yang lebih sehat, dan dia selayaknya mendapat perhatian yang lebih baik.''

Tak lama kemudian Bung Karno pun dipindahkan ke Bengkulu berkat usaha Thamrin di Volksraad.

 

t_foto.jpg

REPRO FOTO THAMRIN & KELUARGA

Ide Anak Agung Gde Agung dalam autobiografi (1993) memiliki kenangan tersendiri tentang Husni Thamrin,

‘...Pada waktu itu sidang Dewan Rakyat terbuka untuk umum. Saya dapat menyaksikan Husni Thamrin dalam kedudukannya sebagai Ketua Fraksi Nasional memainkan peranan yang lincah untuk memperjuangkan cita-bita GAPI yaitu Gabungan Partai-Partai Politik Indonesia, mendesak Pemerintah Kolonial Hindia Belanda agar segera dilangsungkan konperensi antara Pemerintah Belanda dan wakil-wakil rakyat Indonesia untuk mendirikan suatu pemerintahan mandiri (selfgouvernement) Indonesia lengkap dengan parlemennya. Tidak dapat disangkal bahwa Husni Thamrin menguasai rapat-rapat Dewan Rakyat dan apabila beliau angkat bicara semuanya mendengar dengan seksama.’

Tepat jika sejarawan Asvi Warman Adam menjuluki Mohammad Husni Thamrin (1894-1941) sebagai politikus yang santun. Bukan sering di negeri ini kita bisa menemukan politikus yang dapat berbicara dengan baik, apalagi ketika sedang beroposisi.

Nama besar Thamrin kini diabadikan sebagai nama jalan protokol di Jakarta. Sayangnya, Thamrin adalah jalan yang mudah tergenang. Tampaknya Pemerintah DKI Jakarta memang perlu bekerja lebih keras lagi untuk menunjukkan respek yang serius terhadap pahlawannya.

Padahal seratus tahun hampir berlalu ketika Husni Thamrin berpidato di Gemeenteraad,

‘Saya melihat sendiri betapa becek kampong jalan tempat saya bermain. Betapa gelapnya bila tiba waktu malam hari karena tidak ada lampu penerangan. Saya ingin semuanya berubah, jalan-jalan menjadi beraspal, banjir ditiadakan, air minum yang bersih, kesehatan dapat dipelihara, jalan terdapat lampu penerangan. Saya mengharapkan agar semua cita-cita saya itu menjadi kenyataan.’

Sepenggal pidato di atas aku baca di Museum Thamrin. Semoga di suatu hari yang segera tiba, Jalan Thamrin terbebas dari banjir. Memang berat beban sebuah jalan ketika dtanggungkan kepadanya nama seorang pahlawan.

 

t_halaman.jpg

HALAMAN MUSEUM M.H. THAMRIN

Sebelum meninggalkan museum aku berdiri cukup lama memandang patung di tengah halaman. Badan patung kokoh tapi tidak kelihatan tinggi (patung ini ada miripnya dengan patung Bung Hatta di jalan tol bandara). Inilah Mohammad Husni Thamrin yang pernah berujar, ‘Sudah selayaknya setiap bangsa mencapai kemerdekaannya, karena setiap makhluk Tuhan yang berakal selamanya mempunyai cita-cita untuk merdeka.’ Relevan toh sampai sekarang. Pada tataran pribadi, merdeka dari sifat rasialis misalnya.

Aku selalu percaya ketika kita dapat melihat manusia sebagai manusia serta melihat segala yang membedakan kita dan orang lain seperti suku, agama/kepercayaan, ras sebagai justru kekayaan karunia/ciptaan Tuhan, maka sebuah pintu akan terbuka di hati.

Melewati Jalan Thamrin, setidaknya untukku, tidak akan pernah menjadi sama lagi setelah hari ini.

 

 

Tanggal Terbit: 13-07-2010

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.