Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Pelayaran orang-orang Makasar dan Bugis mulai abad ke-15 telah mencapai seluruh perairan Nusantara. Gambaran tentang luasnya daerah-daerah yang dikunjungi terlihat dengan jelas pada tulisan tentang hukum laut Amanna Gappa dan peta laut Bugis (Museum Sejarah Nasional, Jakarta).

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Sejarah Jakarta

 

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


keramik_nusantara.jpg

KERAMIK TEMANGGUNG
MUSEUM SENI RUPA DAN KERAMIK
JAKARTA

MUSEUM SENI RUPA DAN KERAMIK. Sesuai namanya sebagian koleksi museum berupa keramik. Ruang pameran keramik terletak di sebelah kanan dan kiri foyer museum serta lantai dua. Koleksi terdiri dari keramik Nusantara, Mancanegara, Majapahit, dan BMKT (Barang Muatan Kapal Tenggelam).

Koleksi Nusantara berasal dari Bali, Bandung, Jakarta, Kasongan, Klampok, Klaten, Lamongan, Lampung, Lombok, Malang, Maluku, Minahasa, Palembang, Plered, Temanggung, Singkawang. Koleksi Mancanegara didominasi keramik China, termasuk beberapa Blanc de Chine yang halus. Tertua adalah teko cerat panjang dari masa Dinasti Tang (abad VII-X). Keseluruhan koleksi keramik meski cukup beragam namun tak terhindari kesan sayu, tanpa masterpieces. Debu-debu yang tengger dan derik lantai kayu jati hanya menambah rasa koleksi yang dicuaikan sejak lama.

Koleksi Majapahit diperoleh dari penggalian di Trowulan, Jawa Timur. Terdiri dari kendi susu atau disebut juga kendi majapahit, bermacam-macam vas dengan hiasan berupa teratai maupun figur sepasang kekasih, celengan aneka ukuran, fragmen hiasan, golek (figur wajah perempuan maupun laki-laki, bersanggul, dan mengenakan anting-anting), figur raksasa kerdil. Koleksi perunggu berupa benda-benda ritualistik. Koleksi terakota meliputi tempat pembakaran dupa/kertas doa, miniatur rumah dan bangunan suci, serta lapik arca.

Galeri BMKT memamerkan benda-benda yang berasal dari kapal karam seperti cepuk, guci, buli-buli, kendi, teko, dll. Dalam aspek kebersihan, lighting, terutama tersedianya keterangan memadai memang mendudukkan galeri BMKT atau Arkeologi Maritim sebagai pamungkas dari kunjungan ke Museum Seni Rupa dan Keramik.

Sebenarnya sebuah pertanyaan yang menyembul dengan sendirinya terkait heboh BMKT Cirebon sejumlah 271.381 keping artefak. Mengapa pemerintah tidak mengalokasikan sebagian kecil BMKT untuk memperkaya Museum Seni Rupa dan Keramik. Menjadikannya sepadan dengan gedungnya yang elegan.

 

keramik_istriku.jpg

ISTRIKU (SUDJOJONO, 1956)

Dalam aspek seni rupa (fine art), Museum Seni Rupa dan Keramik tampil kedodoran karena seni rupa mencakup bidang yang beraneka ragam seperti seni lukis, kaligrafi, fotografi, patung, instalasi, koreografi, musik, tari, teater, hingga arsitektur dan desain busana. Sedangkan koleksi yang dipamerkan hanya datang dari dunia seni lukis dan patung.

Tak urung sebuah lukisan di sayap utara mencuri perhatianku, berjudul Istriku, karya Sudjojono. Sang istri, Mia Bustam sekarang namanya dikenal, mengenakan kebaya beledu hitam, kain panjang berwarna merah, bertudung selendang putih dari bahan organdi, tanpa bordiran. Polos tanpa asesoris dan sepasang kaki telanjang tanpa selop; jujur menjejak bumi. Di belakangnya, kain gorden dan vitrase motif totol tersibak. Cahaya senja berusaha menerobos kaca jendela. Ruangan terasa lengang. Kursi kosong di sebelah kiri menambah dingin suasana. Di pangkuan Mia Bustam tergeletak album foto. Meski terbuka tetapi tidak tampaknya ada lagi hal-hal dari masa silam yang tersisa untuk dikenang.

Istriku dilukis pada tahun 1956. Mia Bustam 36 tahun usianya waktu itu. Setahun kemudian, di usia perkawinan yang sudah berjalan belasan tahun, Sudjojono mengajukan permintaan akan menikah lagi.

Mungkin karena itu aku menyukai sorot mata perempuan dalam lukisan Istriku. Sebab inilah perempuan yang berani mencintai namun juga berani melepas. Merah kain panjang dan putih selendangnya ekspresikan dia perempuan Indonesia yang memiliki tegas. Dia bukan tak mengenal kompromi, toleransi, namun ada batas yang tak boleh dilampaui. Pada tahun 1959, mereka berpisah.

 

keramik_ikan.jpg

'PENJUAL IKAN' (HENK NGANTUNG, 19--)

Sejumlah lukisan di sayap utara merupakan karya pelukis tangguh Indonesia, diantaranya Ibu Menyusui (Dullah, 1944), Potret Ibu (Trubus S, 1947), Jualan di bawah Pohon Beringin (Hendra Gunawan, 1950), Potret Diri (Affandi, 1975), Penjual Ikan (Henk Ngantung, 19--). Kecuali Affandi, lukisan-lukisan ini didominasi aliran realisme.

Di ruang pameran sayap selatan seorang pengunjung mengeluh bau apak tapi beberapa lukisan membuatku betah-betah saja. Anak dan Kucing (Mulyadi W, 1972), Ayat diatas Putih (AD Pirous, 1972), Topeng-Topeng Irian Jaya (Sri Yunah, 1976). Pahatan Perahu Roh karya Oesman Effendi dan Roedjito.

 

keramik_portico.jpg

BERANDA MUSEUM

Melangkah keluar dari museum, aku berdiri sejenak di tempat yang kira-kira dulunya adalah Tijgersgracht. Di depanku terhampar Stadhuisplein. Kesibukan seperti apa yang lalu-lalang di halaman balai kota ini 2-3 abad silam. Hari aku berdiri di sana, seorang anak perempuan membentak bocah jalanan yang mencuilnya. Tapi bocah perempuan itu dan teman-temannya tertawa saja. Sedetik saja coba renungkan. Seandainya engkau adalah bocah itu.

Batavia sampai Jakarta. Kota segala warna dari dahulu sampai sekarang.

'Ia melangkah gegas-gegas di jalan lurus depan dermaga, yaitu bekas Armsterdamschegracht (kini Jl.Tongkol) yang tak terurus di zaman pendudukan tentara Jepang, menuju ke bekas taman Stadhuis (kini Taman Fatahillah) di depannya. Ia berdiri di situ menghirup udara, menarik napas, dan menghembusnya.
Ya, inilah kota tempat semua orang dari segala zaman, bertarung untuk hadir atau tersingkir...'

Remy Sylado (Ca-bau-kan, 1999)

 

Tanggal Terbit: 26-11-2010

 

 
  Copyright © 2009-2020 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.