Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Museum Serangga, TMII, Jakarta memiliki awetan kering kupu-kupu Papilio blumei yang disebut-sebut karena keindahannya dalam "Laskar Pelangi"

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Pesawat Cureng, Museum Satriamandala, Jakarta

 

Museum Nasional

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


mn_gajah.jpg

MUSEUM NASIONAL, JAKARTA

Museum Nasional lebih dikenal dengan nama Museum Gajah. Pasalnya di halaman museum berdiri patung perunggu gajah sejak 1871. Buah tangan Raja Chulalongkorn (1853-1910) saat mengunjungi Batavia. Beliau terkenal sebagai tokoh reformasi yang membangun Thailand modern dan sangat dihormati rakyatnya sebagai Chulalongkorn the Great.

Sair Kadatangan Sri Maharaja Siam di Betawi mengisahkan kehebohan menyambut kedatangan Raja Chulalongkorn. Batavia sampai dilukiskan seperti sedang berlangsung Festival Capgomeh saja. Syair yang tidak diketahui penulisnya menceritakan adalah almarhum ayahanda menghendaki agar Raja Chulalongkorn menjelajahi negeri-negeri di seantero dunia selama setahun. Raja baru berusia 20 tahun saat itu, naik tahta karena mangkatnya ayahanda.

Di Batavia ke merata tempat sang raja meninjau. Di hari kelima setelah kebun binatang di Kampung Cikini, bersambung ke tujuan selanjutnya. Laen rumah lagi nyang ada / Pergi lagi Sri Maha raja / Cara malayu sebutannya tida / Genootschap kota cara Hollanda. Siapa dan dimanakah gerangan Genootschap yang dimaksud.

 

Cara Melayu alias dalam bahasa Melayu tidak ada sebutannya, tetapi dalam bahasa Belanda disebutlah dia Genootschap artinya perkumpulan. Lengkapnya Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Perkumpulan Batavia untuk Seni dan Ilmu) institusi sains terkemuka di zamannya sekaligus yang tertua di Asia (1778). Namun Genootschap yang dimaksud dalam hal ini merujuk kepada museum yang didirikan pada tahun 1862 oleh Bataviaasch Genootschap. Pada masa kedatangan Raja Chulalongkorn museum telah menempati gedung di lokasi sekarang.

 


mn_taman_arca.jpg

TAMAN ARCA

Museum Nasional terdiri dari Gedung Gajah dan Gedung Arca, dihubungkan oleh jembatan kaca. Gedung Gajah menempati bangunan lama, meliputi Galeri Sejarah, Galeri Keramik dan Terakota, Galeri Tekstil di sayap selatan; Galeri Etnografi termasuk Ruang Miniatur Rumah Adat dan Ruang Gamelan di sayap utara; Galeri Prasejarah, Galeri Perunggu, Taman Prasejarah di sayap barat. Galeri Arkeologi terletak tepat setelah lobi. Taman Arca beradaddi tengah bangunan dikelilingi arca-arca dari candi-candi Hindu dan Buddha, sejumlah yoni yang berkelas, dan kolom Dorik. Sedangkan lantai dua yang tidak begitu luas ditempati oleh Galeri Khazanah Arkeologi dan Etnografi.

Gedung Arca adalah bangunan baru di sebelah utara Gedung Gajah. Mengusung judul besar Keanekaragaman Budaya dalam Kesatuan, Gedung Arca terdiri dari Galeri Manusia dan Lingkungan (Lantai I), Galeri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lantai II); Galeri Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman (Lantai III), Emas dan Keramik (Lantai IV).

Bagi penikmat arca-arca, prasasti, maupun peninggalan prasejarah seperti lumpung batu, batu bergores, arca megalitik, sarkofagus, menhir maka tak pelak Museum Nasional adalah surga kecil. Benar-benar menyandang nama Gedung Arca dengan pantas jika saja juga ditunjang ketelitian label museum.

 

mn_kertarajasa.jpg

ARCA KERTARAJASA JAYAWARDHANA

Tiga diantara koleksi pamungkas Museum Nasional pastilah arca Dewa Wisnu dan burung garuda dari Candi Banon; arca Kertarajasa Jayawardhana alias Raden Wijaya, pendiri Majapahit dalam wujud Harihara atau Shankaranarayana yakni perpaduan Siwa dan Wisnu, dari Candi Simping; arca Tribhuwanatunggadewi (anak Kertarajasa, ibu Hayam Wuruk) dari Candi Arimbi. Berada di tengah arca-arca ini, sejarah seketika bagaikan hidup dan menjadi begitu dekat.

Mengunjungi Museum Nasional lagi akan aku bawa sekuntum bunga untuk diletakkan di kaki arca Kertarajasa. Sebagai pengingat bahwa inilah raja dalam sejarah Nusantara yang menolak takluk bahkan berhasil mematahkan serangan pasukan Kubilai Khan yang ekspansif. Sejarah tidak berputar kembali untuk semata-mata kita petik kebanggaan memiliki raja yang gagah berani, tetapi bagaimana spirit tersebut tidak luntur hari ini.

 

mn_pakiri_mbola.jpg

KAIN PAKIRI MBOLA

Galeri Etnografi menyajikan beragam karya suku-suku bangsa di Indonesia; dikategorikan Etnografi Sumatera, Etnografi Jawa, Etnografi Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Papua. Membanggakan menemukan Indonesia memiliki orang-orang yang kreatif sejak zaman dahulu kala.

Perhatikan saja koleksi seperti patung Mbis (Papua), Siwa-Ganesha (Bali), patung nenek moyang Nias (Sumatera Utara) dan Kepulauan Tanimbar (Maluku). Topeng Bali, Cirebon, Madura, Yogyakarta; maupun topeng kepala kuda (Batak), topeng hudoq (Dayak), hingga topeng dari Papua yang dibuat secara menakjubkan dari bahan-bahan seperti kayu, anyaman serat kayu, rotan, pelepah sagu. Ragam motif ukiran Toraja dan tato Dayak. Berbagai miniatur alat transportasi dari andong, delman, pedati hingga perahu bercadik dan sapit kediaman yaitu perahu lesung dari Berau (Kalimantan Timur). Juga terdapat koleksi perahu Asmat yang digunakan melayari sungai menuju hutan untuk mencari sagu dan gaharu. Pendayung mengayuh perahunya dalam posisi berdiri.

Koleksi tekstil Nusantara di Galeri Etnografi antara lain berupa kain kapal (Lampung) digunakan untuk memanggil bantuan roh leluhur; kain geringsing (Bali) diyakini memiliki kekuatan penyembuhan, kain pakiri mbola (NTT) dipakai saat ritual kematian dan sebagai bekal kubur. Pakaian dari serat tumbuhan/kulit kayu telah dikenal sejak masa neolitikum. Koleksi museum meliputi kofo dari serat pisang (Sangir), fuya dari kulit kayu dihiasi kerang dan manik-manik (Tojo, Sulawesi Tengah), lemba/karaba dibuat dari serat kulit pohon ambo (Sulawesi) atau disebut pohon saeh untuk menghasilkan kertas daluang di Jawa Barat. Koleksi yang lebih lengkap terdapat di Galeri Tekstil.

Koleksi penutup kepala terdiri dari tiilangga yaitu topi khas Pulau Rote, siga adalah destar dari Sulawesi, bulu ruwei (topi dari bulu burung kuau) dipakai laki-laki Kalimantan Selatan pada waktu upacara dan perang, topi perempuan Bajo (Luwu, Sulawesi Selatan) yang artistik mirip-mirip sombrero mexicano, saluak tutup kepala pria dengan motif lipatan melambangkan falsafah orang Minangkabau; berjenjang naik bertangga turun. Masih banyak lagi koleksi lainnya. Tentu saja menyenangkan menemukan kita (sebagai bangsa Indonesia) memiliki dan mengambil bagian dari kekayaan etnografi ini.

 

mn_terompet_kerang.jpg

TEROMPET KERANG

Etnografi adalah galeri yang memerlukan setidaknya 2-3 jam untuk dieksplorasi. Sebab masih terdapat kekayaan dunia musik Nusantara untuk ditemukan. Kemeriahan jenis dan bahan yang digunakan memang menerbitkan decak kagum. Okarina dari tempurung kelapa, tifa terbuat dari kayu dan kulit iguana, sasando daun lontar, saga-saga yaitu harpa mulut dari pelepah pohon enau.

Sedangkan bambu tampaknya bisa dibikin menjadi seruling apa saja; foi doa atau suling ganda (NTT), serdam sejenis seruling setengah (Jambi), seruling panjang (Papua), suling dengkong-dengkong (Tana Toraja) ditiup pada posisi vertikal, dan mengagumkan adalah suling hidung dari Dayak Punan, Kalimantan Barat.

Tidak hanya memainkan fungsi hiburan, instrumen juga dikenal memiliki peranan tertentu. Suling fek fatu yang mungil digunakan di Nusa Tenggara untuk mengusir atau menangkap kicau burung kololeu yang dipercayai menimbulkan wabah bagi penghuni rumah. Sedangkan keteng-keteng sejenis zither bambu dulu digunakan masyarakat Batak saat ritual mandi untuk menghindari bencana; sekarang sebagai hiburan saat menjaga padi. Bulo paseiya-seiya mengiringi dukun membaca mantra, berasal dari Sulawesi Selatan.

Koleksi instrumen unik berupa tarawangsa alat musik gesek paling tua di Jawa Barat, lalosu menyerupai seekor burung dengan ekornya yang cantik menjuntai (Marang, Sulawesi Selatan), terompet kerang digunakan pada saat upacara adat di Papua, Sangir-Talaud (Sulawesi Utara), Halmahera dan Kepulauan Kai (Maluku Utara).

Memperhatikan koleksi Galeri Etnografi kita akan menemukan aneka cara kerang dapat dimanfaatkan. Gelang dari Pulau Seram, kalung dari Papua, cincin dan anting-anting dari Flores, hiasan salawaku yaitu tameng khas Maluku, dll. Masyarakat Tanimbar membuat sisir kerang yang halus dan sendok kerang digunakan sebagai pelengkap upacara. Tapi ini nih pamungkasnya ketika ke Museum Nasional seminggu sebelum tiketnya naik menjadi lima ribu. Aku sempat spot beberapa perempuan Jepang tersenyum gimana-gitu-loh di depan kotak pameran. Pasti, something fishy di sono. Aha! Benar toh! Penutup kemaluan dari kerang ternyata ^_~

...

Kali terakhir aku ke Museum Nasional dengan tiket Rp 750, turun hujan yang sangat lebat. Waktu itu aku duduk di bawah jembatan kaca yang menghubungkan Gedung Gajah dan Gedung Arca. Iya, Mata Hari pernah ke sini juga. Remy Sylado yang cerita tentang pada suatu ketika Mata Hari, 'Daripada melamun sedih karena kepergian Nyo, ditambah marah yang membara di dalam hati, dan itu bisa membuat mukaku kelihatan tua, lebih baik aku melanjutkan hobiku sejak kecil: membaca di perpustakaan.

Perpustakaan besar-Bibliotheek Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap-kelihatan dari ujung rumahku, tapi jaraknya lumayan jauh di seberang Koningsplein. Ke sana aku naik sado. Menyenangkan, sebab buku di perpustakaan itu banyak. Aku merasa seperti berada di jendela pengetahuan yang membuatku tidak bodoh.'

Perpustakaan yang dimaksud telah dipindahkan ke Salemba. Semoga kekayaan koleksi Museum Nasional akan menjadi jendela pengetahuan tersendiri bagi pengunjungnya.

 

 

Tanggal Terbit: 28-11-2010

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.