Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Film 'Night at the Museum' telah meningkatkan kunjungan ke American Museum of Natural History, New York sebanyak 20 persen.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Brawijaya, Malang

 

Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


proklamasi_meja.jpg

RUANG PENGESAHAN/PENANDATANGANAN
NASKAH PROKLAMASI

Memasuki museum, sebuah meja persegi panjang segera menarik mata. Memang hanya sebuah meja dan kursi-kursi. Replika kemudian aku diberitahu. Tetapi imajinasi acap mencipta asyik sendiri. Menerobos ruang dan waktu seakan tiada saja.

Tanpa perlu kapsul waktu mendarat di sini pada suatu malam yang larut. Tengah malam bahkan sudah lewat. Bung Karno, Bung Hatta, dan orang-orang yang jumlahnya puluhan berkumpul. Ada Ki Hadjar Dewantara, Sam Ratulangi, A. Rivai, sedangkan yang muda-muda seperti B.M. Diah pimpinan kelompok pemuda radikal Angkatan Baroe, Soekarni dan Chaerul Saleh dua tokoh radikal terkemuka.

What's up...

Begini muasal. Jepang bentuk PPKI, jika waktu diputar kembali, tepat sepuluh hari sebelum Indonesia merdeka. Ndilalah kok ya seminggu setelah PPKI terbentuk, Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Diantara dua waktu ini, Bung Karno dan Bung Hatta dilantik sebagai ketua dan wakil ketua PPKI oleh Laksamana Terauchi di Da Lat, Vietnam.

Dalam pertemuan tersebut Terauchi, Panglima Tertinggi Balatentara Jepang di Asia Tenggara mengemukakan bahwa Jepang telah memutuskan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Pelaksanaannya diserahkan kepada PPKI.

Org..orghh...so desu ka...

 

proklamasi_museum.jpg

MUSEUM PERUMUSAN NASKAH PROKLAMASI

Tepat pada hari Kaisar Hirohito mengumumkan penyerahan, Bung Karno dan Bung Hatta mendarat di Kemayoran, Jakarta. Si Bung berdua belum tahu apa yang terjadi. Tiba di rumah, Bung Hatta sudah ditunggu Sutan Sjahrir. Sjahrir meminta agar Sukarno-Hatta menyatakan kemerdekaan Indonesia atas nama rakyat tanpa membawa-bawa PPKI bentukan Jepang dan janji yang dianggap Sjahrir sebagai tipu muslihat.

Si Bung tak setuju, tak urung mengajak Sjahrir menemui Bung Karno di rumahnya, Pegangsaan Timur 56. Reaksi Sukarno, dia akan mengecek kebenaran berita Jepang menyerah. Selain itu Bung Karno merasa memproklamasikan kemerdekaan adalah hak PPKI.

Keesokan harinya, Laksamana Muda Maeda menginformasikan bahwa mereka belum mendengar sebarang berita dari Tokyo dan tidak percaya Jepang menyerah. Jadi bagaimana sekarang. Bung Hatta mengusulkan agar diadakan rapat PPKI besok (tadinya 18 Agustus). Bung Karno setuju. Rapat akan dilangsungkan di kantor Sanyo Kaigi (Gedung Pancasila sekarang) di Pejambon.

Sebaliknya, kaum pemuda mendesak kemerdekaan s-e-g-e-r-a diproklamasikan. Namun Bung Karno maupun Bung Hatta menolak mendahului rapat PPKI. Akhir kata, diputuskan Bung Karno-Bung Hatta diculik saja. Dibawa keluar dari Jakarta, menuju: Rengasdengklok, sebuah kecamatan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Tujuan: memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 16 Agustus 1945 terlepas dari tangan Jepang (tidak melibatkan PPKI). Meski 'ditawan' Bung Karno-Bung Hatta tetap menolak. Better safe than sorry hey...

Bisa jadi, jika kemerdekaan terjadi diluar skenario yang melibatkan PPKI maka Jepang akan mengerahkan tentara. Konflik bersenjata pun tak terhindari. Mungkin...itu yang tidak dikehendaki terjadi oleh Bung Karno maupun Bung Hatta.

 

proklamasi_belakang.jpg

HALAMAN BELAKANG MUSEUM

Jakarta pagi-pagi tanggal 16 Agustus, satu hal yang pasti adalah orang sibuk mencari Bung Karno dan Bung Hatta yang tiba-tiba hilang. Akhirnya dua tokoh kita berhasil dilacak keberadaannya setelah Nishijima (asisten Maeda) menemui Wikana, satu dari tokoh muda. Ahmad Subardjo, penasehat khusus PPKI datang menjemput. Diceritakan Bung Hatta, 'Pada kira-kira dekat pukul 18.00, Soekarni datang lagi, memberitahu bahwa Mr. Subardjo datang. Ia disuruh oleh Gunseikan untuk mengambil kami semua, membawa kembali ke Jakarta...'

Rombongan kembali ke Jakarta. Tiba di rumah Bung Hatta sekitar pukul 20.00. Rapat PPKI pun segera di-reschedule. Semula hendak diadakan di Hotel des Indes tetapi pihak hotel menjawab setelah sepuluh malam tidak ada lagi kegiatan. Jadi sori-lah anda-anda tidak bisa bikin rapat tengah malam di sini. Subardjo lantas mengusulkan rapat di kediaman Laksamana Maeda. Setelah dihubungi melalui telpon, Maeda tidak keberatan. Dengan demikian ditetapkan rapat PPKI digelar pukul 24.00 di sana.

Terlebih dahulu rombongan menemui Nishimura sebagaimana diatur oleh Maeda. Kepala Pemerintahan Umum Nishimura hendak mempertahankan status quo alias Indonesia yang tidak merdeka dan melarang rapat PPKI. Bung Hatta mengingatkan Nishimura akan janji Terauchi. Nishimura tidak bergeming bahkan Jepang akan menembaki pemuda Indonesia jika proklamasi dinyatakan. Gila aja jika kuping tak merah mendengar omongan begini. Terang Hatta marah, 'Apa itu janji dan perbuatan Samurai...Baiklah, kami akan jalan terus apa juga yang akan terjadi. Mungkin kami akan menunjukkan kepada Tuan bagaimana jiwa Samurai semestinya menghadapi suasana yang berubah.' Mantab yeah! Kasih lihat bagaimana Samurai dari Bukittinggi beraksi. Tunggu saja di premiere...

Anyway, menurut catatan Pramoedya Ananta Toer, akhirnya, 'Nishimura hanya menyetujui diadakannya 'jamuan minum teh''. Apa maksudnya hey...malam-malam hilangi kantuk orang ngopi euy...

 

proklamasi_foto2.jpg

FOTO PARA TOKOH DI MALAM
NASKAH PROKLAMASI DIRUMUSKAN

Mau ngopi apa ngeteh, pastinya rombongan segera melaju menuju rumah Maeda. Hanya berjarak tempuh 5 menit dengan kendaraan. Di sana sudah menunggu sekitar 40-50 orang terdiri dari anggota PPKI, anggota Cuo Sangi In, pemimpin pemuda dan pergerakan. Ups...tiba-tiba kebayang sore yang orang-orang tak sempat mandi.

So! Begitulah ringkas cerita.

Melangkah menuju Museum Perumusan Naskah Proklamasi, setidaknya sekarang kita tahu mengapa di malam-malam buta, Bung Karno dan Bung Hatta ada di sini, maupun kehadiran anggota-anggota PPKI dan beberapa tokoh pemuda radikal. Di dinding museum tergantung foto para tokoh. Orang-orang yang pernah hadir di ruangan ini puluhan tahun silam. Coba dengar...real close, you can hear them whisper their legacy to you. Go on, lean in. Listen, you hear it? - - Carpe - - hear it? - - Carpe, carpe diem, seize the day boys, make your lives extraordinary.

Yup, John Keating, Dead Poets Society.

 

 

 

Tanggal Terbit: 05-12-2010

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.