Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Biola W.R.Soepratman, digunakan untuk memperdengarkan musik lagu Indonesia Raya saat penutupan Kongres Pemuda II, disimpan di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Radyapustaka, Surakarta

 

Info Box dan Lobang Tambang Mbah Soero

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


SL_bu_suryo.jpg

INFO BOX

Sejujurnya selama ini aku tidak pernah merasa bahwa batubara itu ada dalam hidupku. Tidak hingga suatu hari di Sumatera Barat, aku ngeloyor sampai ke Sawahlunto negeri kelahiran Muhammad Yamin dan Soedjatmoko. Tadinya aku sempat ragu karena sebutan kota kuali mengingatkan si kota kuali Palu yang panasnya bikin rambut keriting. Namun ternyata kota kualinya Sumatera Barat justru adem-ayem.

Di Sawahlunto aku sempat menyambangi Info Box: Galeri Tambang Batubara di Jalan Muhammad Yazid, Tangsi Baru, Kelurahan Tanah Lapang, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto.  

Ooh! Memang terdengar seperti sebuah alamat di jagat mana tapi Sawahlunto asli kota mungil. Setiap orang tahu Info Box atau jika yang ditanya bingung, sebut namaku Lubang Mbah Soero. Tempat ini mudah dicapai hanya berjarak sekitar 200-300 meter dari Wisma Ombilin. Lagian hanya sepelembaran batu dari Info Box, kita akan menjumpai Museum Goedang Ransoem. En route ke museum, di sebuah warung aku menemukan kerupuk jengkol *YUMMY!*

 

SL_foto.jpg

GALERI FOTO

Info Box seperti namanya benar-benar bangunan berbentuk kotak. Di sinilah pertama kalinya aku melihat batubara. Ternyata hitam seperti arang hanya batubara mengkilat, tidak muram seperti arang.

Selain itu, melalui galeri foto dan berbagai artefak pengunjung bisa mengikuti proses pembentukan batubara, penemuan batubara di Sawahlunto oleh ahli geologi Belanda, W.H. de Greve pada tahun 1872, pembangunan infrastruktur tambang (seperti rel kereta api, kantor pusat, kawasan saringan, pabrik briket batubara, PLTU, gudang kayu, hingga perumahan buruh, dapur umum, rumah sakit, dll.), serta manusia dan aktivitas di pertambangan batubara.

Melalui foto-foto ini kita bisa mencoba membayangkan bagimana batubara ditambang secara manual, maupun aktivitas di lubang tambang dan kehidupan di sekitar dunia tambang. Foto buruh tambang memanggul dandang sabet atau belencong untuk memecah batubara. Foto anggota tim penyelamat dengan peralatan seperti gergaji lubang, masker, tabung oksigen, kampak, sekop, cairan pemadam kebakaran. Foto anak-anak buruh bermain dakon sementara orang tuanya bekerja di tambang dan ibu membuat kerupuk opak untuk menambah penghasilan keluarga.

Dulu lokasi berdirinya Info Box adalah tempat penumpukan batubara (stock field) yang digali dari Lobang Tambang Mbah Soero (lubang tambang di sebelah Info Box). Lubang ini ditutup pada tahun 1920-an karena terjadi peningkatan kadar gas metana serta perembesan air dari Sungai Batang Lunto. Pada tahun 1947 di lokasi stock field dibangun Gedung Pertemuan Buruh namun ternyata lebih digunakan sebagai tempat berjudi oleh para buru. Tahun 1965, nama gedung berganti menjadi Gedung Pertemuan Karyawan. Selanjutnya selama periode 1970-an hingga 2004 berfungsi sebagai tempat tinggal karyawan tambang. Tiga tahun kemudian gedung digusur dan dibangun Info Box yang kelak akan dikembangkan sebagai Museum Tambang Batubara Kota Sawahlunto.

 

info_box_komentar1.jpg

LOBANG TAMBANG MBAH SOERO

Kegiatan paling menarik di sini adalah menjajal Lobang Tambang Mbah Soero. Dijamin pengunjung akan membawa pulang pengalaman tambang yang real. Lah iya, wong ini dulunya lubang tambang beneran kok.

Di sini pertama kalinya aku masuk ke lubang tambang, asli perut Bumi. Padahal tadinya aku hendak melancarkan protes karena tertulis larangan memasuki lubang tambang bagi perempuan yang sedang menstruasi. Keherananku adalah bukankah bahkan haid adalah simbol kesuburan bumi yang hidup dalam diri perempuan. Tapi baiklah, kata orang bijak: bumi dipijak langit dijunjung.

Berada di dalam lubang tambang rasanya memang bercampur aduk. Tak menyangka dalam hidupku ada saat-saat seperti ini. Coba bayangkan begitu intimnya batubara dalam kehidupan kita (sebagian besar listrik kita datang dari pembangkit listrik berbasis batubara) tetapi tak banyak yang pernah memasuki lubang tambang, apalagi tambang yang usianya sudah seratus tahun lebih. Namun meski sudah lebih dari seabad, dinding-dinding dari batubata masih sedemikian kokohnya.

Tadinya aku sempat waswas jika masuk ke lubang tambang akan disergap pengap. Tak menyangka tersedia blower yang menyalurkan udara ke dalam tambang. Lebih penting lagi, penyembur udara bekerja dengan baik. Jadi pengunjung tak perlu terlalu khawatir ini-itu sebenarnya. Pemandu akan memastikan Anda aman selama berada di dalam lubang tambang. 

Tahun-tahun sudah berlalu tapi segar masih dalam ingatan, batubara hitam menyembul di antara bata-bata dinding tambang. Tak takut menantang belencong dia. Memang angkuh tapi dia punya modal. Berani tapi memang gagah dan pantas. Hidup batubara!

 

SL_batubara.jpg

BATUBARA (KIRI)

 

Terinspirasi foto-foto di Info Box serta pengalaman mengasyikkan di lubang tambang, sekembalinya ke Jakarta langsung aku semangat berselancar memburu pernak-pernik batubara. Diantara penemuan adalah tradisi memberi batubara sebagai salah satu hadiah tahun baru di Skotlandia; sebagai simbol kehangatan dan ketersediaan makanan yang melimpah.

Di halaman Museum Kereta Api, Sawahlunto aku pernah memungut sebongkah kecil batubara. Sekarang di rumahku dia mengingatkan hati untuk senantiasa memelihara sabar dan hangat.

Terima kasih Sawahlunto! Maju terus mewujudkan motto dan cita-cita 'Sawahlunto Kota Wisata Tambang yang Berbudaya'.

 

 

Tanggal Terbit: 17-05-2009

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.