Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Mainan anak dapat terbuat dari bambu, pelepah pisang, tempurung kelapa, pelepah daun singkong, kayu, dll. Sumber: Museum Etnobotani Indonesia, Bogor

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Gedong Arca, Bali

 

Museum Zoologi Bogor

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


mzb_museum.jpg

MUSEUM ZOOLOGI BOGOR

Pintu depan Museum Zoologi Bogor (MZB) menghadap Jalan Juanda namun sekarang masuknya melalui Kebun Raya Bogor. MZB sudah lebih dari seratus tahun usianya dan voila! Masih berdiri dengan koleksi yang cukup menawan.

Embrio MZB adalah Landbouw-Zoologisch Laboratorium. Berdiri pada tanggal Agustus 1894 saat penunjukan Dr. J.C. Koningsberger sebagai ahli zoologi-pertanian 's Lands Plantentuin (sekarang Kebun Raya Bogor). Pada waktu itu laboratorium hanya menempati bangunan seluas 8,5 x 5,5 meter persegi. Dalam sejarahnya, beberapa nama pernah disandang institusi zoologi ini di kemudian hari, diantaranya Museum Zoologicum Bogoriense (1947-1954, 1962-1986), dan sejak 1987 menyandang nama resmi Balai Penelitian dan Pengembangan Zoologi.

 

mzb_cendrawasih.jpg

ANEKA BURUNG CENDERAWASIH

Melewati lorong mural satwa, pengunjung akan langsung memasuki Galeri Burung. Sejumlah diorama bertema burung sawah, pantai, pegunungan, lantai hutan. Diorama lain mengambil tema burung dan kerabatnya seperti Keluarga Kutilang (Pycnonotidae), Keluarga Jalak (Sturnidae), Keluarga kakatua (kakatua raja menghiasi koin seratus perak mungkin bisa mendapat perhatian ekstra).

Diantara highlight adalah kasuari yang disebut-sebut dalam Nagarakretagama, burung kuau memiliki 'seratus mata' tertata di bulu ekornya, rangkong dan julang (perhatikan sebagian pintu sarang yang ditutupi pada saat ibu mengeram).

Koleksi Keluarga Cenderawasih terdiri dari dewata bulu enam, dewata dua belas kawat, dewata hitam, dewata jengger pendek, dewata bedil ekor, cenderawasih elok, cenderawasih kuning, cendrawasih kuning kecil, cenderawasih merah, cendrawasih botak. Sebagian besar keluarga cenderawasih hidup di Papua, hanya dua jenis yang diketahui hidup di Halmahera, Bacan, dan Obi (Maluku Utara).

Bidadari halmahera (Semioptera wallacii) adalah cendrawasih pertama yang dilihat Alfred Russel Wallace di Pulau Bacan pada tahun 1868, di kemudian hari ditemukannya lagi di Halmahera. Menarik menemukan MZB keluar dari jalur penamaannya dengan melabeli bidadari halmahera sebagai burung paulet, sebagaimana digunakan dalam Alam Asli Indonesia (Kathy MacKinnon, 1986). Kata ini tidak dijumpai dalam KBBI. Hanya dugaanku jika nama ini berasal dari Paulette; nama panggilan Pauline/Paulina yang artinya kecil.

 

mzb_badak.jpg

BADAK JAWA DARI TASIKMALAYA

Galeri Mamalia memiliki koleksi paling impresif, badak jawa. Utuh boo! Seekor badak jawa, bukan kepalanya doang. Dulu si badak hidup di Karangnunggal, Tasikmalaya. Kini badak jawa tak ada lagi dimana-mana kecuali di Taman Nasional Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Jadi beliau yang dikoleksi MZB adalah badak jawa terakhir yang pernah hidup di luar Ujung Kulon. Jangan-jangan, seumur-umur kebanyakan kita hanya akan pernah berhadapan vis-a-vis dengan badak di Museum Zoologi Bogor. Si badak makin diperhatikan makin terasa ya miripnya dengan Triceratops, dinosaurus hidup dari Jurrasic Park.

Badak jawa dari Tasik dikelilingi teman-teman mamalianya dari kelompok primata, musang-musangan (diantaranya luwak si tokoh utama produksi kopi termahal di dunia), kerabat kukang (tarsier ternyata sangat keren). Sedangkan dari keluarga besar kucing adalah kucing batu, meong congkok, kucing akar, binturung, macan dahan, macan tutul, termasuk harimau bali yang sudah 'punah' (tidak pernah terlihat lagi sejak seekor betina dewasa mati di Sumber Kima, Bali Barat, 1937). Ternyata selain warna oranye lebih dalam, harimau bali dapat dibedakan dari harimau sumatera melalui warna bulu di daun telinga. Perhatikan saja ketika Anda berkunjung ke Museum Zoologi Bogor (sedikit jinjit diperlukan untuk melihat daun telinga harimau sumatera).

Diorama Margasatwa di Ujung Kulon di Ruang Mamalia menampilkan banteng jantan dan betina, burung jalak kaleng yang mencari makan/membersihkan kutu dari badan banteng (di mata pelajaran Biologi, kita mengenalinya sebagai simbiosis mutualisme), burung kuntul, biawak (seperti adik komodo saja saking gedenya), babi hutan, dan monyet ekor panjang yang banyak juga dijumpai di Pulau Bali.

 

mzb_serangga.jpg

KOLEKSI SERANGGA

Serangga, makhluk berkaki enam yang nyaris ada dimana-mana dan telah ada sejak (benar-benar) dahulu kala. Kekayaan jenisnya tak tertandingi oleh kelas-kelas lainnya dalam takson animalia. Oleh sebab itu memang tak mudah hendak menampilkan sebuah dunia sedemikian meriah. Seringnya karena awam, kita mereduksi serangga dalam posisi seperti sahabat atau musuh. Tentu dari para ilmuwan yang mengelola MZB kita berharap memperoleh pandangan yang lebih luas. Bahwa setiap makhluk, besar maupun kecil, dalam niche masing-masing memiliki peranan untuk Bumi yang sehat.

Manusia tidak bisa terus-terusan melihat serangga dan makhluk lainnya menurut bingkai kepentingan spesies kita sendiri. Secarik puisi pernah ditulis Cecil Frances Alexander satu setengah abad silam. 'All things bright and beautiful / All creatures great and small / All things wise and wonderful / The Lord God made them all...' Semoga membantu untuk melihat dari titik yang paling semula, bahwa semua makhluk dicipta Tuhan, dan baik adanya jika kita cukup mengenali mereka.

 

mzb_tokek.jpg

CECAK DAN TOKEK

Dari Galeri Serangga, pengunjung dapat berlanjut menuju Galeri Moluska maupun Galeri Reptil dan Amfibi.

Galeri Moluska menampilkan exhibit bertema Moluska Hutan Bakau, Keong laut yang Berbisa, Keong Murbei dan Keong Gondang. Koleksi lain dikelompokkan menurut keluarga cypraediae, muricidae, olividae, pectinidae, strombidae, dll. Memperhatikan kelompok-kelompok ini pasti deh kita akan menemukan jenis-jenis kerang yang tak asing.

Selain itu di Galeri Moluska masih terdapat Daftar Kerabat Ikan dan Anggotanya di Indonesia, Diorama Terumbu Karang, dan spesimen ikan dalam display Contoh Ikan di Indonesia.

Mencari ikan yang aku kenal, terlihat sembilang. Ini dia si ikan yang diceritakan dalam Gadis Pantai ketika si Dul pendongeng dimaki teman sekampungnya, 'Otakmu itu, otakmu, cuma penuh duri sembilang, pemalas!' Duri sembilang oyy, beracun! Selama ini aku hanya pernah melihat gerombolan ikan sembilang yang kecil-kecil. Lagi gede-gedenya sembilang bisa mencapai panjang lebih dari dua meter.

Lepu tembaga, ikan paling beracun. Pertama kami bertemu di sebuah  perahu nelayan Madura yang pulang dari melaut di pantai belakang Masjid Al Taqwa, Pulau Bacan. Masih hidup dia, ikut terjaring bersama tongkol dan kembung. Konon lepu tembaga bisa bertahan di darat selama 24 jam.

Contoh Ikan di Indonesia masih memiliki ikan giru, limaran, betok laut yang hidup di terumbu karang, sayang sudah kehilangan warnanya yang cantik.

Reptil dan Amfibi adalah galeri yang bercampur aduk ular, kadal, buaya muara, katak, kodok dengan koleksi ikan todak, kerapu, spearfish berukuran raksasa; keluarga besar kura-kura, penyu, bulus, labi-labi; hingga kepiting raksasa jepang.

Koleksi Ular yang Berbisa menampilkan ular bandotan (Vipera russelli) warna hijau dan ekor yang merah; ular weling dan ular welang, aktif di malam hari, warna selang-seling hitam dan kuning; ular cabe bahkan lebih kurus dari cacing tanah tapi galak dan mudah marah; ular kobra yang mengeluarkan bunyi desis ketika marah. Tidak semua ular berbisa loh, ada juga sanca merah meski badannya besar sehingga terlihat agak menakutkan tetapi sebenarnya jinak dan dipelihara. Dari koleksi Macam-macam Ular Laut, coba deh lacak si ular yang ternyata benar-benar mempunyai kaki dan ular gajah yang ketika ditemukan Anda akan setuju mengapa dinamakan demikian.

 

mzb_paus.jpg

KERANGKA PAUS BIRU

Menuju pintu keluar pengunjung akan melalui koleksi raksasa yakni kerangka paus biru sepanjang 27 meter. Beliau ditemukan mati terdampar di pantai selatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, pada tahun 1916. Dipindahkannya kerangka seberat 6390 kilogram ke MZB merupakan kisah kegigihan tersendiri.

Dari Pameungpeuk pada masa itu, tidak ada jalan maupun jembatan yang bisa dilalui kendaraan apapun. Oleh sebab itu tulang-tulang paus biru diangkut dengan tenaga manusia melalui dataran dengan ketinggian rata-rata 1.700 meter dpl. Beratnya medan yang dilalui dapat dilihat dari waktu tempuh selama 44 hari menuju Garut. Selanjutnya diangkut ke Bogor dengan keretaapi. Memerlukan waktu dua tahun sebelum kerangka paus biru terangkai kembali.

Sungguh! Melihat kerangka ini langsung menyeruak bayangan Yunus dalam perut paus tiga hari tiga malam. Mm..tapi untuk urusan beginian diserahkan kepada masing-masing individu untuk memilih melihatnya. Apakah secara harfiah, tafsiran, atau legenda. Elok, ketika dapat melihat dalam perbedaan tak lantas mesti ada yang benar dan salah.

 

mzb_banteng.jpg

BANTENG JANTAN UJUNG KULON

Sejarah menunjukkan turning point Landbouw-Zoologisch Laboratorium (Laboratorium Zoologi-Pertanian) menjadi Landbouw-Zoologisch Museum (Museum Zoologi-Pertanian) terjadi pada tahun 1898. Ketika itu Dr. J.C. Koningsberger mengunjungi museum zoologi di Kolombo, Srilanka. Terkesan bahwa ternyata museum zoologi bukan tidak bisa eksis dengan baik di daerah iklim tropis seperti yang dikira. 'Sebenarnya agak memalukan bahwa kita tidak memiliki museum yang sekelas,' ujar Koningsberger.

Apalagi keberadaan museum adalah vital karena dua sebab sebagaimana dikemukakannya lebih lanjut. Pertama karena semakin banyak ahli zoologi yang datang ke Jawa. Kedua, kehadirannya sebagai panduan berguna jika dirancang untuk menjawab semua pertanyaan praktis terutama berkaitan dengan pertanian. Tentu saja mengingat Koningsberger adalah ahli zoologi-pertanian, namun keberadaan museum seperti zoologi sebagai 'buku panduan umum' akan tetap penting sepanjang masa. Untuk itu tentu saja penting bahwa koleksi museum (burung-burung misalnya) dilabeli dengan baik. Selain itu kehadiran pemandu yang dapat menjelaskan koleksi MZB dengan handal tentu akan membantu menjadikan kunjungan museum tak lagi membosankan, terutama untuk anak-anak sekolah. Tapi paling mengganggu adalah mengapa museum sekeren ini tidak ada website-nya. Hayoo...

 

 

 

Tanggal Terbit: 28-12-2010

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.