Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Kata 'museum' berasal dari bahasa Latin, ialah kuil untuk memuja Muses yaitu sembilan dewi dalam mitologi Yunani yang masing-masing berkuasa dalam bidang epos, sejarah, puisi cinta, lagu, drama tragedi, himne, tari-tarian, komedi, dan astronomi.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Situs Radjiman Wedyodiningrat, Dirgo, Ngawi

 

Museum Sonyine Malige

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


tidore_masjid.jpg

MASJID NURUL YAQIN & GUNUNG KIEMATABU
TIDORE, MALUKU UTARA

Paling memuaskan di tahun 2010 adalah malang melintang di Maluku Utara memburu jejak Alfred Russel Wallace selama hampir tiga minggu. Delapan pulau dikunjungi yakni Ternate, Tidore, Halmahera, Bacan, Mare, Moti, Makian, Kayoa. Pengalaman campur aduk. Dari dikira intel di Desa Papaloang sampai didatangi intel di Guruapin, Kayoa. Mantap biss! *keponakanku akan bilang: Jayaman!*

Kita bicara kali ini tentang Tidore. Tentu saja negeri kepulauan nan jelita ini tak hanya memiliki rempah-rempah dan Pulau Maitara yang hari-hari kita lihat gambarnya di uang kertas seribu perak. Hari pertama di Tidore aku naik ojek ke Gurabunga, sebuah kelurahan di Gunung Kiematabu. Terletak pada ketinggian 600 meter dari permukaan laut. Desa ini sangat bersih dan rapi. Trada sampah berserakan. Tanaman-tanaman perdu menghiasi pekarangan rumah penduduk.

Pengalaman paling menyenangkan adalah menemukan di rumah kecil dekat pintu masuk desa, sagu lempe sedang dibikin. Aye nekad saja minta cicip sagu segar. Fresh from oven hey. Aromanya saja sudah bikin perut gelepar. Langsung aku lahap sagunya. Hmm! Ternyata lebih enak dari roti gandum. Syukur dofu, Pak, Bu. Penduduk sini percayalah, ramah-ramah.

Meninggalkan Gurabunga diiringi tatapan Lorius garrulus, si burung endemik berkepala merah yang suka dipelihara orang di Maluku Utara.

 

tidore_cengkeh.jpg

CENGKIH SEDANG BERBUNGA

Sepanjang perjalanan turun gunung 'kiri-kanan kulihat saja banyak pala dan cengkih'. Waktu itu cengkih sudah berbunga, begitu pula pala. Pohon alpokat cukup banyak sedangkan kenari tua sesekali menyelinap di sana-sini. Di Desa Folarora anak-anak bermain di bawah pohon dengan kaleng susu disusun piramida dan melemparinya dengan bola. Ibu mereka baru pulang dari ladang, menggendong guwige berisi dahan-dahan untuk kayu bakar.

Berjalan kaki turun sampai ke kaki Kiematabu alias kota Soasio tanpa menemukan rumah makan kecuali beberapa ekor bondol cokelat tengger di dahan kering di lahan kosong dekat keraton. Di negeri kecil ini kayaknya macam-macam burung ada deh. Paginya lagi sarapan di beranda yang menghadap laut, mendadak menclok seekor kuntul karang di pagar depan hidungku. Warnanya abu tua nyaris hitam. Lotot2an kami berdua sempat. Sama-sama kaget sih.

Di hari kedua pagi-pagi aku ke Pulau Mare. Balik ke Tidore sudah lewat tengah. Sekitar pukul tiga lanjut lagi. Kali ini naik bentor keliling kota. Soasio ibukota Tidore so kecil saja. Jadi museum, keraton, rumah adat, museum, pasar bisa diselesaikan sekali jalan. Malahan aku sempat ke Masjid Nurul Yaqin di Gurabati sebelum malam tiba. Sedangkan Benteng Tohula ditinggal untuk besok agar bisa sekalian menyapu pemandangan Soasio dari atas dengan bantuan matahari pagi. Beruntung esoknya di atas benteng aku menemukan hari dengan langit biru yang cerah. Keraton Tidore pun terlihat lebih bagus dibandingkan kemarin dilihat dari jalan.

 

tidore_museum.jpg

MUSEUM SONYINE MALIGE

Papan tulisan Museum Memorial Kesultanan Tidore Sonyine Malige tergantung di bawah pintu gerbang museum. Sepasang meriam dan pohon oleander mengapit gerbang, hanya berjarak lima anak tangga dari jalan raya.

Lebih dari setengah lusin bocah laki-laki berkaki ayam bermain di beranda. 'Tutup ya,' aku tanya karena pintu dan jendela-jendela museum tampaknya terkunci semua. Anak-anak serentak menjawab museum tidak pernah buka. Mungkin saking jarangnya ada pengunjung. Salah satu bocah kemudian berkata penjaga museum tinggal di Gamtufkange dan bertanya apakah aku akan ke sana. Gpp aku bilang, sambil memotret prasasti peresmian.

Museum Sonyine Malige diresmikan oleh Haryati Soebadio, Direktur Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 16 Oktober 1983. Setidaknya satu koleksi museum pernah aku lihat di sampul halaman belakang Fragile traditions: Indonesian art in jeopardy (Paul Michael Taylor, 1994). Foto manuskrip sejarah Kesultanan Tidore. Sangat disayangkan manuskrip sudah mulai rusak.

Banyak yang dimiliki negeri kecil ini dari sejarah hingga keunikan fauna sebagai salah satu negeri di kawasan Wallacea. Cengkih dan pala dari Tidore telah dibawa pelaut dan pedagang Nusantara hingga ke Madagaskar. Perjalanan sejarah, kekayaan tradisi dan budaya, kerajinan rakyat, dan lain-lain aku yakin pasti bisa dia diceritakan oleh museum. Itulah sebabnya ke negeri asing (tempat yang belum pernah aku kunjungi, baik desa, kota maupun negara aku akan menyebutnya sebagai negeri asing) aku akan mengunjungi museumnya. Sebagai cara paling menyenangkan mengeksplorasi kekayaan yang dimilikinya. Tapi meski museum kecil berkali-kali mengecewakanku, namun putus asa tetap tidak relevan.

O ya, nama museum artinya tempat nan cantik. Semoga suatu hari akan terwujud sebuah museum yang mampu menerbitkan bangga. Tidak hanya untuk turis dalam satu langkah mengenal kekayaanmu tetapi tempat anak-anak sekolah mengenal warisan dan negerinya sendiri. Termasuk mengenal pengalaman masa lalu, manis maupun getir realita yang pernah dilalui nenek moyang negeri ini untuk kita dapat terus tumbuh sebagai manusia Indonesia yang arif dan tegar. Berjuang Tidore!

 

tidore_bocah.jpg

BOCAH TIDORE

Perjalanan, lanjut! Vita brevis! Hidup terlalu singkat untuk menampung kecewa berkepanjangan. Refresh menuju tujuan berikutnya: Keraton Kesultanan Tidore. Meninggalkan gerbang museum dengan atap berbentuk perahu. Ciao, Sonyine Malige!

 

Selamat Tahun Baru 2011
Terima kasih telah berkunjung

 

 

 

Tanggal Terbit: 02-01-2011

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.