
Museum Samudraraksa, Candi Borobudur, Magelang
|  |
Museum La Galigo
NAMAMU, LA GALIGO
Pertama mendengar nama La Galigo dari Seribu Tahun Nusantara pada tahun 2000. Bahwa Sureq atau Serat Galigo adalah sebuah karya sastra terbesar dunia. Lebih panjang bahkan dari epos Mahabharata. Kedua, melalui pagelaran Robert Wilson di Esplanade, Singapura, pada tahun 2004. Jadi apakah aku yang terlalu berharap ketika mengunjungi Museum La Galigo (2009), dan menemukan hanya sebuah buku kecil (buku tertutup tidak bisa melihat isi dalamnya seperti apa), sangat tipis, kelihatan kuyu dan lelah, seperti tak ingin dibaca, dan tertulis di situ label La Galigo.
Apakah selama ini aku memang sudah terlalu berharap.
Sesuatu dalam diri memang terasa telah ikut terbanting keras. Gerimis di luar menambah rasa aku ingin pergi dari situ...
'Bersama segenap karya agung imajinasi manusia yang bertebaran dalam sejarah, Sureq Galigo - asal tak dibiarkan mati oleh pensakralan dan penyempitan pembuluh akses - hanya salah satu bahan mentah penulisan puisi epik yang sedemikian agung sehingga jika kelak dunia, bahkan alam semesta seisinya, tiba-tiba melenyap dalam ketiadaan, ia mungkin diciptakan lagi dari puisi akbar itu.'
Nirwan Ahmad Arsuka La Galigo, Odisei, Trah Buendia dalam Seribu Tahun Nusantara
Duduk saja di luar, menata kembali serpihan. Sia-sia melayangkan pandang mencoba menemukan pohon kecapi yang disebut dalam La Galigo. Mungkin memang dia adalah pohon yang hanya tumbuh di sepanjang batas cakrawala...
...And bring, thou here the fruits of the fragrant Sandoricum trees growing in rows along the horizon!
Hujan belum berhenti. Menemani nyanyian debur laut yang telah menerjang pantai ini sejak berabad-abad silam.
Pasti ada cara museum ini dapat menjadi lebih baik, setara dengan nama besar yang disandangnya.
Tanggal Terbit: 24-05-2009 |