Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Kain geringsing berasal dari Desa Tenganan Pegeringsingan, Kabupaten Karangasem, berfungsi sebagai penolak bala dan dipakai pada waktu upacara agama. Dibuat dengan teknik ikat ganda dan diberi hiasan motif flora, fauna, dan wayang, diantaranya disebut motif buah pepare, bunga cemplong, wayang putri, kalajengking, dan sebagainya (Museum Bali, Denpasar).

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Lingkungan yang hijau di Fort de Kock, Bukittinggi, Sumatera Barat

 

Museum Brawijaya

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


Kereta Api Gajayana berangkat dari Stasiun Gambir, Jakarta menjelang pukul lima sore. Tiba di Malang hampir sembilan pagi. Pertama kalinya aku naik kereta sejauh 900 kilometer. Untungnya, Gajayana melaju mulus sehingga menjelang tengah malam aku pun tertidur pulas. Dibangunkan tiba-tiba oleh penumpang di sebelahku. Panik dia karena mengira kereta sudah telah tiba di Kediri padahal dia masih belum turun dan kereta sudah mulai jalan. Ola! Tingak-tinguk keluar jendela, kami baru tiba di Stasiun Tugu, Yogyakarta.

bra_beranda.jpg

BERANDA MUSEUM BRAWIJAYA

Malang, 27 Januari 2010. Setelah Balai Penyelamatan Mpu Purwa, sisa waktu aku manfaatkan untuk menyusuri Ijen Boulevard dan Museum Brawijaya.

Bangunan museum cukup mengesankan dan staf museum yang gagah juga sekaligus ramah. Beranda dihiasi relief Wilayah Kekuasaan Madjapahit serta lambang komando daerah militer (kodam). Sekarang Indonesia memiliki 13 kodam yaitu Kodam Iskandar Muda, Bukit Barisan, Sriwijaya, Jaya, Siliwangi, Diponegoro, Brawijaya, Mulawarman, Wirabuana, Udayana, Tanjungpura, Pattimura, Cenderawasih.

Beberapa raja terkenal di tengah nama-nama kodam adalah Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja dari Kerajaan Pajajaran (abad XV-XVI), Brawijaya alias Wijaya the Great yakni Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit (abad XIII), Raja Mulawarman dari Kerajaan Kutai (abad IV), Prabu Udayana (abad X-XI) dari Kerajaan Udayana, Bali.

Namun menilik lambang kodam hanya satu yang memiliki padanan era Kerajaan Hindu-Buddha yakni lambang Kodam Brawijaya berbentuk Candi Angka Tahun dari kompleks percandian Panataran, Blitar. Oleh sebab itu Candi Angka Tahun dikenal juga dengan sebutan Candi Brawijaya.

P.S. Sekilas tampak sama tetapi lambang Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menggambarkan Candi Bajang Ratu, Trowulan, Jawa Timur.

bra_ruang_koleksi_1.jpg

RUANG KOLEKSI I

Museum Brawijaya memiliki dua ruang pameran. Ruang Koleksi I menyajikan koleksi berupa map, foto, lukisan, senjata hingga merpati pos dan peralatan medis dari masa perjuangan. Peta Perang Kemerdekaan I melukiskan perjalanan pertempuran sejak pendaratan musuh di Pasir Putih, Situbondo, pada tanggal 21 Juli 1947. Peta Perang Kemerdekaan II menunjukkan antara lain garis demarkasi Van Mook.

Salah satu lukisan Pak Dirman naik kuda, diapit pesan, 'Kemewahan adalah permulaan keruntuhan, kesenangan melupakan tujuan, irihati merusak persatuan, keangkaramurkaan menghilangkan kejujuran' dan 'Satu-satunya hak milik nasional Republik Indonesia yang masih utuh dan tidak berobah-robah meskipun menghadapi segala macam soal dan perobahan hanyalah TNI yang tidak kenal menyerah.'

Di bawah pesan-pesan ini terbentang Peta Situasi Rute Gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman. Dilengkapi koleksi berupa seperangkat meja, kursi, bangku, bendera, tempat tidur yang digunakan Pak Dirman saat berada di Desa Bajulan, Nganjuk, Jawa Timur; sebagai bagian dari rute gerilya dari Yogyakarta (19 Desember 1948) menuju Jawa Timur dan kembali ke Yogyakarta pada tanggal 10 Juli 1949 setelah menempuh total jarak 1009 km.

bra_relief.jpg

RELIEF WILAYAH KEKUASAAN MADJAPAHIT

Aku tiba di museum pukul 14.20, sepuluh menit menjelang tutup. Jadi tak cukup waktu untuk memperhatikan koleksi yang dipamerkan di Museum Brawijaya dengan baik. Di Ruang Koleksi II aku hanya sempat mengambil beberapa foto dengan cepat. Itu pun sudah serba dapat ekstra waktu dari staf museum.

Sebelum meninggalkan museum, aku perhatikan lagi relief wilayah Majapahit di beranda. Tiba-tiba menyadari siapa yang berdiri di pojok kiri bawah.

Dialah arca Kertarajasa Jayawardhana alias Nararya Sanggramawijaya atau Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit. Arca asli ditemukan di Candi Simping, Blitar. Arca Kertarajasa adalah satu dari arca terbaik yang pernah ditemukan, kini dipamerkan di Museum Nasional.

 

bra_bk.jpg

SURAT TULISAN TANGAN BUNG KARNO

Pukul empat hujan lebat yang mengguyur Malang mulai reda. Payungan menyusuri Jalan Semeru, dulunya Smeroestraat. Melewati Stadion Gajayana, kemudian melintas di atas Sungai Brantas sebelum mencapai Tugu. Sepucuk surat tulisan tangan Bung Karno di atas kertas yang sudah menguning di Ruang Koleksi II sempat aku potret sebelum meninggalkan museum.

Ceritakan kepada kita tentang Tugu.

Setiap bangsa jang hatinja besar, merasalah berkewadjiban memperingati peristiwa-peristiwa penting dalam sedjarah hidupnja. Ada jang dengan jalan membuat tanda-kenang-kenangan kepada peristiwa-penting itu, ada jang dengan merajakan hari ulang-tahunnja, ada jang dengan tjara kedua-duanja.

Dan, peringatan itu sering dimacsudkan bukan hanja sekadar untuk “peringatan” sadja, tetapi djuga untuk memperbaharui dan membulatkan tekad menjempurnakan segala usaha jang berhubungan dengan peristiwa yang diperingati itu.

Kota-besar Malang dulu telah mendirikan tugu untuk memperingati peristiwa Proklamasi Kemerdekaan. Tugu itu telah ditumbangkan oleh fihak Belanda. Tetapi semangat jang mendirikan tugu itu, Semangat Proklamasi, tidak tumbang. Pada hari sekarang ini, 20 Mei 1953, --Hari Kebangunan Nasional--, tugu itu kita buka kembali.

Sungguh ini adalah satu lambang tentang kekalnja Semangat Proklamasi, dan kekalnja Kemerdekaan yang terlahir karena Semangat Proklamasi itu. Dan ia harus mendjadi satu lambang pula, bahwa Rakjat Indonesia umumnya, Rakjat Malang chususnja, selalu siap-sedia untuk membangun kembali apa jang telah runtuh, dan membangun segala sesuatu jang tadinya hanya terwudjud dalam tjita-tjita satja: membangun satu Negara Indonesia jang kuat, dengan satu masjarakat jang adil dan makmur dan sedjahtera sebagai isinja.

Moga-moga dalam waktu jang pendek, segala tjita-tjita kita mendjadi realitet jang dapat dilihat dan diraba!

(Ttd Soekarno)
Presiden 

Djakarta 20 Mei 1953

 

Tanggal Terbit: 10-07-2011

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.