Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Dalam masyakarat Dayak tato tidak hanya berfungsi sebagai simbol status sosial ataupun sebagai hiasan. Motif tertentu diyakini memberi kekuatan dan menangkal roh jahat, serta sebagai suluh yang menerangi roh dalam perjalanan ke alam akhirat (Sumber: Museum Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak)

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Diorama Museum Sejarah Nasional, Jakarta

 

Museum Indonesia

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


Sederet pohon kenanga tumbuh di depan Museum Indonesia. Kembang kuning dengan wangi yang tahu menentramkan hati, disebut berkali-kali namanya dalam Anak Bajang Menggiring Angin. Pertama sekali, menjadi saksi di Taman Argasoka yang sepi ketika Begawan Wisrawa hendak membabar Sastra Jendra kepada Dewi Sukesi. Dia yang tahu perihal takdir yang menunggu dua manusia ini tetapi diam ada kalanya adalah pilihan.

Aku menunggu jika ada satu saja kembang yang gugur karena angin. Tetapi betah yang dimilikinya lebih panjang dari mampuku menunggu.

 

MI_citra_indonesia.jpg

LUKISAN KACA 'CITRA INDONESIA'

Jika tidak ada tulisan Museum Indonesia di depannya, kita akan mengira kompleks bangunan di Taman Mini Indonesia Indah itu Anjungan Bali. Begitu menyergap mata bangunan yang kental akan citarasa Bali. Namun kekayaan artefak budaya Indonesia yang dipamerkan di tiga galeri Museum Indonesia tak kalah representatif dan elok. Pendek kata museum yang menampilkan kreasi manusia-manusia Indonesia yang membanggakan.

Galeri Bhinneka Tunggal Ika di lantai satu terdiri dari sayap barat dan timur. Diantara koleksi pamungkas di sayap barat adalah lukisan kaca berjudul Citra Indonesia. Di kanan-kirinya ular naga dan burung garuda masing-masing melambangkan dunia atas dan bawah, langit dan bumi, dualitas yang saling menyempurnakan. Aku terutama menyukai nuansa motif megamendung yang mengisi selat dan laut karena simbol kesuburan yang dikandungnya. Rasanya meski Citra Indonesia mengungkapkan kekayaan alam dan budaya dalam suatu kesatuan yang utuh namun adalah megamendung yang mengubahnya menjadi doa bahwa semoga tumbuh subur dalam diri manusia Indonesia: kebaikan hati yang sejati.

 

MI_pengantin.jpg

KOLEKSI PAKAIAN PENGANTIN NUSANTARA

Tak kalah memikat adalah koleksi busana pengantin maupun pakaian adat dari puluhan provinsi. Sangat ekslusif dan kaya aksen. Beberapa jam tersendiri diperlukan untuk hanya menikmati aneka hiasan kepala dari yang sederhana hingga rumit menawan serta sangat khas seperti tengkuluk yang dikenakan pengantin perempuan dari Minangkabau dan siangko bercadar dari Betawi lengkap dengan hiasan burung hong. Ditambah motif kain tenun yang dikenakan para pengantin; perhiasan dan asesoris seperti cincin, kalung, gelang, kelat bahu, tali pinggang; maupun teratai hingga terompah merupakan tontonan tersendiri tentang Nusantara nan cantik jelita. Satu diantara yang paling mengagumkan adalah busana pengantin Sumatera Selatan. Gaya Aesan Gede yang ditampilkan diyakini mencerminkan warisan keragaman budaya Sriwijaya.

Lukisan Babad Alas Semar tak jauh dari diorama Pengantin Padang mengisahkan Puntadewa dan keempat adiknya, ditemani para punakawan (Semar, Gareng, Bagong, Petruk) membabat hutan untuk membangun tempat tinggal.

 

Koleksi di sayap timur terdiri dari wayang, topeng, dan diorama pagelaran wayang dengan lakon Perang Kembang. Koleksi instrumen musik seperti angklung mungkin boleh dijajal karena dilengkapi dengan notasi lagu Twinkle, Twinkle Little Star.

 

MI_galeri_dua.jpg

GALERI MANUSIA DAN LINGKUNGAN

Galeri Manusia dan Lingkungan di lantai dua cukup meriah. Diorama mitoni (selamatan tujuh bulan), turun tanah, khitanan, metatah (upacara potong gigi), penobatan datuk memberi gambaran perlengkapan yang digunakan. Miniatur rumah tradisional, lumbung, dan Istana Langkat menghadirkan rumah-rumah mungil yang menawan.

Rumah Mengambang di Sungai Musi mungkin menyerupai tempat tinggal yang diceritakan Alfred Russel Wallace tentang Palembang pada tahun 1861, 'The city is a large one, extending for three or four miles along a fine curve of the river, which is as wide as the Thames at Greenwich. The stream is, however, much narrowed by the houses which project into it upon piles, and within these, again, there is a row of houses built upon great bamboo rafts, which are moored by rattan cables to the shore or to piles, and rise and fall with the tide.'

Koleksi lain berupa kamar pengantin dari Palembang, ruang tengah rumah Jawa Tengah, dan dapur Batak. Berbagai peralatan dan perlengkapan penulisan lontar, melaut, berburu, bertani termasuk peralatan mengolah tanah dan perlengkapan panen. Jika sekarang anak-anak sekolah masih belajar puisi Muhammad Yamin tentang gembala di segara hijau meniup puput yang dituruti kerbau, setidaknya sebagian alat-alat pertanian ini memberi gambaran tentang pengolahan sawah saat tanah masih diolah dengan bantuan kerbau.

Sebuah penyekat ruang berupa tembok berukir tiga adegan Ramayana dan Parikesit di masing-masing sisinya. Sisi Parikesit terdiri dari relief kelahiran Parikesit di Hastinapura, Sri Tanjung (putri Nakula) dan Widapaksa (putra Sadewa), penobatan Parikesit. Sisi Ramayana melukiskan penculikan Sinta dan gugurnya Kumbakarna.

 

MI_kain_tenun.jpg

KOLEKSI KAIN TENUN NUSANTARA

Galeri Seni dan Kriya adalah sebuah dunia mengasyikkan bagi penggemar kain-kain nusantara. Ulos ragi idup (Batak), kain tapis Lampung, songket dari Palembang, Sambas (Kalimantan Barat), Donggala (Sulawesi Tengah), Sumbawa (NTB), Bali. Sejumlah koleksi batik Surakarta, Yogyakarta, batik pesisir, dan batik dari Jambi, tidak hanya kualitas tetapi juga disajikan dengan menarik. Lengkap dengan diorama membatik. Hanya, membandingkannya dengan foto pengrajin batik, kita akan menemukan bahwa membatik tidak dilakukan dengan cara melukis di bidang vertikal seperti ditunjukkan manekin dan pembatik tidak bersimpuh melainkan duduk di atas dinglik.

Koleksi perhiasan meliputi hiasan kepala, kalung, gelang dari berbagai daerah. Sebagian dikerjakan dengan detail yang luar biasa sehingga sangat memanjakan mata. Koleksi senjata menyajikan wedung dari Yogyakarta, senjata kecil digunakan oleh pegawai pamong praja; kujang, senjata khas Sunda; rencong Aceh yang berbentuk basmalah, dll. Semua artefak dipamerkan dengan elegan sehingga sangat membuat betah, apalagi ruang pamer ditunjang pendingin udara yang memadai.

Aku menyukai pohon hayat atau pohon kehidupan yang menjulang di tengah ruang pamer. Selama ini pohon hayat hanya pernah aku lihat di relief candi, gunungan, dan kain tenun.

 

MI_museum.jpg

MUSEUM INDONESIA

Berjalan turun dari lantai tiga, seperti kehidupan pada akhirnya akan kembali ke tanah. Di beranda, langkah terhenti sejenak. Di dindingnya relief Ramayana melukiskan adegan Anoman, Kumbakarna, Sinta dan Trijata di Taman Argasoka, Rahwana terpanah Guwawijaya, Rama dan Laksmana, raksasa-raksasa, kera-kera, dan para dewa.

Berhadap-hadapan dengannya, patung Sinta Obong.

Memang kian menambah rasa tentang benar yang ditulis Sindhunata di akhir bukunya, 'Anak-anak kera dan anak-anak raksasa ini telah kehilangan ayah-ayah mereka yang mati dalam peperangan. Tapi tiada kesedihan pada mereka. Tiada dendam dan permusuhan di antara mereka. Dan tiada peduli mereka akan api yang menjilat-jilat kejam Dewi Sinta...Mereka terus bersenda gurau. Lari berkejar-kejaran. Main gajah-gajahan...Dan mereka tidak berpikir apa-apa, kecuali bergembira. Kegembiraan mereka sekan mengejek: kisah dan riwayat yang dialami orang tua mereka ternyata hanyalah mimpi yang berakhir dengan kesia-siaan belaka.'

Di depan museum aku mencoba sekali lagi menunggu jika angin akan mengantar sekuntum kenanga.

 

Tanggal Terbit: 14-08-2011

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.