Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Kata 'museum' berasal dari bahasa Latin, ialah kuil untuk memuja Muses yaitu sembilan dewi dalam mitologi Yunani yang masing-masing berkuasa dalam bidang epos, sejarah, puisi cinta, lagu, drama tragedi, himne, tari-tarian, komedi, dan astronomi.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Aksara Lontarak, Museum La Galigo, Sulawesi Selatan

 

Pusat Informasi Majapahit

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


pim_celupak.jpg

CELUPAK

Suatu malam di abad keempat belas, bintang Canopus di langit ibukota Majapahit bersinar terang. Di rumah beratap genteng seorang kawi melanjutkan kakawin yang ditulisnya sejak beberapa waktu lalu. Tekun dia menorehkan di atas lontar: Bhinneka tunggal ika. Sejenak pengerupak tangannya terhenti, sebelum kemudian dengan kemantapan hati dilanjutkan: tan hana dharma mangrwa. Tanpa pernah membayangkan bahwa bangsa baru akan lahir kelak, mencakup Bumi Majapahit, dan mengadopsi kalimat yang baru diselesaikannya sebagai semboyan negara. Sang kawi, Empu Tantular sebagai nama samaran dia dikenal.

Namun penerangan seperti apa yang menaungi sang empu dengan sinarnya yang menyirnakan gelap sehingga satu per satu aksara Jawa Kuna dapat ditoreh tanpa cela. Di Galeri Koleksi Tanah Liat, Museum Trowulan menyembul sebuah celupak yang digunakan oleh masyarakat Majapahit untuk penerangan. Terbuat dari tanah liat dengan cerat sebagai tempat sumbu. Untuk bahan bakar digunakan minyak kelapa dan minyak jarak. Mungkin seperti inilah lampu pelita yang pernah menerangi ruangan Kakawin Sutasoma dicipta.

Memang, dengan bantuan sedikit imajinasi sungguh sedap menikmati koleksi-koleksi Museum Trowulan. Meski tidak tampaknya mampu mencerminkan kebesaran Kerajaan Majapahit namun setidaknya menegaskan bahwa Majapahit sungguh pernah eksis.

 

pim_bajang_ratu.jpg

CANDI BAJANG RATU, TROWULAN

Beberapa abad silam keraton Kerajaan Majapahit berdiri di kawasan yang kini merupakan bagian dari Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Orang-orang dari seberang lautan berdatangan meski nagara atau ibukota tak mudah dicapai. Terkisah dalam Kakawin Nagarakretagama, 'Itulah sebabnya berduyun-duyun tamu asing datang berkunjung / Dari Jambudwipa, Kamboja, China, Yamana, Campa, dan Kamataka / Goda serta Siam mengarungi lautan bersama para pedagang / Resi dan pendeta, semua merasa puas, menetap dengan senang.'

Kapal-kapal besar dari negeri asing mula-mula akan mendarat di Tuban, pelabuhan Majapahit tempat rempah-rempah dari Maluku didatangkan untuk selanjutnya bersama dengan berbagai hasil bumi dikirim ke Malaka. Dari Tuban pelayaran diteruskan ke Gresik yang memakan waktu setengah hari; selanjutnya menuju Surabaya sejauh 7 mil di selatan. Kemudian perahu kecil seperti sampan akan membawa penumpang menyusuri Kali Mas menuju pelabuhan di Canggu, tak jauh dari Mojokerto. Tiba di Canggu, masih diperlukan perjalanan darat selama setengah hari untuk tiba di ibukota.

Zaman sekarang Majapahit sangat gampang dituju. Bis-bis besar menuju Surabaya dan macam-macam angkutan umum lalu lalang di sini setiap hari. Hari itu aku naik bis menuju Trowulan dari terminal Nganjuk. Tidak sampai dua jam aku sudah menjepret foto pertamaku di museum: Dewi Tara mungil, ditemukan di Karangbesuki, Malang.

pim_gobog.jpg

MATA UANG GOBOG

Museum Trowulan atau tepatnya Pusat Informasi Majapahit (PIM) setakat ini memiliki tiga galeri; Koleksi Logam, Koleksi Batu/Koleksi Tanah Liat, Koleksi Prasejarah. Dua galeri pertama memamerkan terutama artefak-artefak yang berasal dari masa Majapahit. Banyak yang aku sukai dari Museum Trowulan, diantaranya adalah label museum yang informatif. Bukan mudah menemukan museum yang cukup peduli untuk menginformasikan koleksi-koleksinya dengan baik kepada pengunjung.

Galeri Koleksi Logam. Terdiri dari perlengkapan upacara keagamaan (bejana amerta, genta, pedupaan), instrumen musik (bende, kenong, kempul), blencong yaitu lampu minyak untuk menerangi kelir layar putih di depan dalang, perhiasan (gelang, kelat bahu, tiara), tosan aji (keris), alat rumah tangga (perunggu, gayung, sendok sayur, teko), mata uang (ma, gobog, kepeng).

Perlengkapan binatang seperti klintingan dan kluntung mengantar imajinasi kita kepada sapi-sapi kekar yang membantu kawula Majapahit membajak sawah sehingga panen melimpah dan beras diekspor ke Palembang, Jambi, Malaka. Beras juga dibawa ke Kepulauan Maluku untuk ditukar dengan rempah-rempah, gilirannya rempah-rempah kemudian dijual ke Malaka. Sanggurdi yang diukir dengan teliti menunjukkan kuda adalah binatang yang penting.

Di galeri ini juga terdapat sebuah contoh sumur. Pada masa Majapahit, terdapat tiga macam sumur, yaitu sumur berbentuk persegi dari batubata untuk tujuan ritual, sumur bata lengkung untuk keperluan rumah tangga, sumur jobong dari bahan gerabah ditemukan di kawasan persawahan.

pim_miniatur_candi.jpg

MINIATUR CANDI

Galeri Koleksi Batu/Tanah Liat. Koleksi batu sebagian terdiri arca-arca. Diantaranya arca Ganesha, Harihara, dan perwujudan dalam aspek Siwa. Arca terakhir meletakkan sepasang tangan di dada dan membawa kuncup bunga padma sebagai lambang moksa.

Koleksi tanah liat meliputi arca terakota, miniatur candi sebagai tempat pemujaan di rumah-rumah, miniatur rumah, selubung tiang, kelereng, kendi majapahit, dll.

Galeri Prasejarah. Relatif sederhana dengan beberapa koleksi dari masa prasejarah.

Di pendopo belakang museum terdapat koleksi batu relief dari masa Majapahit maupun arca-arca dari berbagai tempat di Jawa Timur. Salah satu pamungkas adalah arca Wisnu naik Garuda dari Percandian Belahan di lereng Gunung Penanggungan, Pasuruan. Arca ini adalah perwujudan Raja Airlangga yang terkenal berhasil membangun dan mempersatukan negeri yang terpecah belah setelah serangan Raja Wurawari pada permulaan abad ke-11. Negeri kembali makmur, rakyat sejahtera, sastra berkembang. Oleh sebab itu saat wafat, Airlangga diwujudkan sebagai Wisnu Sang Penyelamat dan Pemelihara dunia yang mengendarai burung garuda, demikian menurut keterangan yang aku baca di PIM.

 

pim_terakota_asing.jpg

TERAKOTA ORANG ASING

Diantara keistimewaan PIM adalah koleksi arca terakota; dikelompokkan sedemikian rupa sehingga pengunjung dapat segera mengenali aneka arca terakota menurut ciri-cirinya. Arca terakota anak-anak laki-laki berambut kuncung, anak perempuan dikuncir. Arca perempuan memangku anak, atau memetik wina; banyak diantaranya menunjukkan tata rambut menawan. Arca laki-laki terdiri dari tiga golongan yakni pendeta Siwa/Buddha, bangsawan, rakyat biasa. Golongan terakhir umumnya bertelanjang dada.

Terakota wajah asing diantaranya arca orang China diciri oleh sepasang mata sipit dan memakai jubah. Sedangkan arca orang Arab berhidung mancung dan berkopiah.

Selain itu masih terdapat arca terakota dengan wajah dideformasi. Kemungkinan berfungsi melukiskan tokoh punakawan yang berwajah lucu tetapi toh tanpa gagal memancarkan kualitas kebaikan, kejujuran, dan kesetiaan. Karakter wajah seperti ini antara lain dijumpai pada relief cerita Panji di Gunung Penanggungan.

Diantara koleksi penting adalah arca Hariti, Dewi Pelindung Anak-anak dan Dewi Kesuburan karena sangat jarang ditemukan arca terakota dewa-dewi.

pim_maja_wringin_lawang.jpg

POHON MAJA DI WRINGIN LAWANG

Pukul 14.30 PIM tutup; lebih cepat dari biasa selama bulan puasa. Duduk sejenak di bangku depan museum. Capek memang sudah menjalar. Hari itu pagi-pagi dari Kediri soalnya. Tapi untuk berhenti dan mencari penginapan kok ya matahari saja masih berasa teriknya. So, lanjutlah! Hitung-hitung sambil mencicipi imajinasi suatu hari yang hampir sore pernah berdiri di sini ibukota dan keraton sebuah kerajaan besar. PIM sendiri berdiri di kawasan alun-alun pada zaman Majapahit.

Keluar dari PIM aku melangkah menuju Candi Bajang Ratu. Rimbun daun mangga dan glodogan berusaha menaungi orang-orang yang lalu lalang di Jalan Pendopo Agung. Di sebelah kanan sekali tempo adalah bangsal manguntur (wanguntur) dan di tengahnya bangsal witana yaitu balai Raja Hayam Wuruk (1350-1389) bertahta di singgasana menerima orang-orang yang menghadap. Di tempat ini pula pada tahun 1264 Saka, bulan Bhadra (Agustus-September 1362 M), Hayam Wuruk atas perintah sang ibunda Tribhuwana Wijayatunggadewi menyelenggarakan upacara sraddha untuk memuliakan neneknda yaitu Sri Rajapatni setelah 12 tahun mangkat. Suara terompet kerang, drum, dan bermacam-macam persembahan megah pernah memeriahkan tanah ini pada suatu ketika.

Langkah-langkah kaki mengantarkanku ke sebuah simpang. Di sekitar sini dulu pernah tumbuh deretan pohon bodhi berhadapan dengan tembok benteng yang tinggi lagi tebal, mengeliling keraton ke arah selatan dengan total panjang sekitar 2,5 kilometer. Masa itu di dalam kutha atau benteng terdapat bermacam-macam bangunan. Diantaranya puri yang dihuni oleh Raja Hayam Wuruk, puri kediaman Sri Krtawarddhana (ayah Hayam Wuruk), dan puri Bhre Pajang (adik Hayam Wuruk) bersama suaminya Sri Singhawarddhana. Tiang-tiang puri dilukiskan Empu Prapanca dalam Kakawin Negarakretagama sebagai penuh ukiran dan pohon-pohon cempaka, nagasari, tanjung, dan lain-lain tumbuh di halamannya. Keindahannya, dilukiskan bagaikan kahyangan.

Dari simpang aku mengiri mengikuti Jalan Jayanegaran menuju candi. Suatu tempat di sebelah kiri yang tak jauh dari jalan pernah berdiri dua kuwu (rumah), masing-masing dihuni oleh Patih Gajahmada dan Bhatara Narapati. Sedangkan di utara lagi adalah Candi Siwa yang megah dan Candi Buddha beratap tingkat tiga.

Tersisa sekarang dari keagungan keraton Majapahit, tak ada. Sic transit gloria mundi? Satu hal yang aku tahu, segala yang berawal memiliki akhir.

Malam aku menginap di Jalan Damarwulan. Esok pagi-pagi perjalanan dilanjutkan. Destinasi pertama: Wringin Lawang. Di pojok jalan, seorang pria mengeluarkan celengan babi dan arca terakota untuk dijemur. Iseng aku bertanya berapa arca terakota dijual. Setelah ragu sejenak, dia menjawab, 'Dua ratus.' Aku mencoba mengangkat si arca, cukup berat ternyata.

 

Tanggal Terbit: 09-10-2011

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.