Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Pelayaran orang-orang Makasar dan Bugis mulai abad ke-15 telah mencapai seluruh perairan Nusantara. Gambaran tentang luasnya daerah-daerah yang dikunjungi terlihat dengan jelas pada tulisan tentang hukum laut Amanna Gappa dan peta laut Bugis (Museum Sejarah Nasional, Jakarta).

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Replika Patung Hermes, Museum Sejarah Jakarta

 

Museum Tuanku Imam Bonjol

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


bonjol_patung.jpg

PATUNG TUANKU IMAM BONJOL

Pagi sudah beberapa saat menyingsing ketika aku turun dari angkot merah yang mengangkutku ke Terminal Aur Kuning. Seorang laki-laki bertanya mau kemana, aku bilang Bonjol. Ditunjukkannya bus tiga perempat warna putih sambil berteriak kepada temannya yang sedang mengikat barang di atap bus, 'Marao!'

Pukul setengah delapan sudah.
Arak-arakan awan putih di atas kepala. Gunung Merapi terlihat perbawa di kejauhan. Dingin hanya sesayup. Bukittinggi di bulan Februari tanpa udara yang menusuk.

Tak lama kemudian bus jurusan Rao pun berangkat. Sempat ngetem dua kali yang cukup lama di simpang. Panjang jalan sampai ke Bonjol dua jam. Berkelok-kelok di tengah pohon-pohon cokelat dan durian. Memasuki Kabupaten Pasaman, mahoni mulai terlihat. Aku diturunkan beberapa meter sebelum garis ekuator Bonjol. Mana museumnya, Pak. Kondektur menunjuk ke kanan. Tampak papan nama: Museum Tuanku Imam Bonjol dan Taman Wisata Equator.

 

bonjol_arsitektur.jpg

MUSEUM TUANKU IMAM BONJOL

Bangunan museum mengadopsi arsitektur Minang yang mengagumkan. Hanya suasana didalam agak temaram. Lantai I terdiri dari ruang resepsionis, sayap kiri terdapat perpustakaan, dan relief perlawanan Imam Bonjol di sayap kanan. Sejumlah benda dipamerkan dalam lemari kaca yang sederhana seperti kain songket, pakaian pria motif Taluak Balango hingga teropong dan topi belanda/meneer. Sebagian besarnya dapat dijumpai di Lantai II.

Koleksi di lantai atas didominasi oleh rupa-rupa (contoh) tipe senjata yang digunakan saat Perang Padri. Sewah yaitu senjata tangan dengan tangkai kayu yang dilumasi racun pada bagian ujung, tombak berkait dan tombak lurus juga untuk berburu, keris sebagai senjata menyerang dari jarak dekat, sumpitan dan busur, bedil balansa yang dirakit di Bonjol. Aku perhatikan bodi si bedil berbahan kayu.

 

bonjol_meriam.jpg

MINIATUR MERIAM

Pedang adalah jenis senjata yang umum digunakan semasa Perang Padri. Ditilik-tilik, nih ada gagang yang mirip-mirip pedangnya kesatria Camelot (kebanyakan menonton Merlin hee).

Dua koleksi yang tak boleh dilewatkan adalah duplikat katapel pada masa Perang Padri hasil rakitan Abu Yazid serta miniatur meriam yang pernah digunakan Tuanku Imam Bonjol (mirip katapel di film How to Train Your Dragon loh). Meriam asli menurut label museum masih berada di Pasar Bonjol, Ganggo Hiliar tak jauh dari benteng pertahanan Tuanku Imam Bonjol di Bukit Tajadi (Tak Jadi).

 

bonjol_senjata.jpg

KOLEKSI SENJATA

Selain senjata masih terdapat koleksi berupa peralatan rumah tangga di dapur umum saat Perang Padri seperti cerek, baki, lumpang atau lesung, serta periuk tembaga untuk menanak nasi. Di lemari kaca tersimpan satu setel duplikat pakaian padri yaitu pakaian kesatuan pasukan padri. Sedangkan pakaian asli dimiliki oleh ahli waris.

Sejumlah lukisan tanpa keterangan menghiasi dinding ruang pameran. Diantaranya menggambarkan suasana di medan perang, kesibukan para pandai besi di bengkel senjata, perempuan-perempuan di dapur umum. Juga lukisan perundingan Belanda dan Tuanku Imam Bonjol di Palupuh pada Oktober 1837.

 

bonjol_bocah.jpg

TOYA & ZEKI

Tengah mengamati koleksi, muncul dua bocah kecil yang sudah duduk di kelas lima. Wajah-wajah yang menyiratkan kebaikan hati dan jernih. Peserta ceramah mereka, dalam rangka peringatan Maulid Nabi se-Bonjol yang diselenggarakan di Masjid Syuhada, sebelah museum. Sebuah pantun diselipkan anak-anak di awal ataupun akhir ceramah. Aku dengar dari Bu Dessy jika Bonjol terkenal dengan keahlian berpantun. Ayo tuliskan pantun kalian, sambil kusodorkan notes. Tulis juga ya nama kalian.

Zeki tertawa nakal menunjuk nama yang ditulis temannya: Montoya Peto Syarif. Ternyata dua kata terakhir adalah nama bocah Tuanku Imam Bonjol. Dadak sadar jika TIB sebenarnya bukan nama tapi sebutan yang artinya ulama besar dari kota Bonjol.

 

bonjol_lukisan.jpg

TUANKU IMAM BONJOL

Di bangku sekolah TIB diperkenalkan kepada kita sebagai pahlawan nasional atau pahlawan Perang Padri. Namun sisi besar seorang manusia seperti TIB bagiku adalah di satu titik dalam hidupnya dia berani mempertanyakan tindakannya. Benarkah apa yang telah dilakukannya, memerangi sesamanya selama bertahun-tahun. Benarkah telah sesuai dengan ajaran agama, 'Adapun hukum kitabullah banyaklah nan terlampau dek oleh kita. Itupun bagaimana pikiran kita.'

Untuk mencari tahu tentang 'kitabullah nan adil' yaitu hukum Kitabullah sebenarnya, TIB mengutus Tuanku Tambusai dan beberapa orang lagi ke Mekah. Utusan kembali membawa kabar yang tidak diantipasi. Memerlukan kebesaran jiwa untuk bisa bertindak sebagaimana dilakukan oleh TIB selanjutnya.

Sebagaimana disimpulkan Jeffrey Hadler (2008), 'Tuanku Imam Bondjol is chastened and repentant. He immediately returns the spoils of war and calls a great meeting of all the Tuanku and hakim (judges), basa and panghulu (customary rulers), declaring a truce and promising that he will no longer interfere in the work of the traditional authorities.'

...

Saat aku melangkah keluar dari museum tengah hari sudah tiba. Seekor elang hitam melayang di arah barat daya langit museum. Bentangan sayapnya tak ragu. Leluasa tiada gentar menggayuti. Namun toh dengan anggunnya dan permai dia terbang di langit nan biru.

Kakak kapan ke sini lagi, tanya Toya setelah kami bersalaman dan mengucapkan selamat tinggal di Monumen Equator. Sulit untuk mengatakan mungkin tidak akan datang lagi. Berhadapan dengan pilihan, seringkali jujur adalah lebih baik.

 

 

 

 

Tanggal Terbit: 22-04-2012

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.