Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Museum-museum di Taman Mini Indonesia Indah: Museum Asmat, Museum Indonesia, Museum Istiqlal, Museum Keprajuritan Indonesia, Museum Komodo dan Taman Reptilia, Museum Listrik dan Energi Baru, Museum Minyak dan Gas Bumi, Museum Olahraga, Museum Penerangan, Museum Prangko Indonesia, Museum Pusaka, Museum Serangga dan Taman Kupu, Museum Telekomunikasi, Museum Timor-Timur, Museum Transportasi.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Radya Pustaka, Solo

 

Rumah Bersejarah Inggit Garnasih

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


inggit_ruang_1.jpg


RUMAH BERSEJARAH INGGIT GARNASIH
JALAN INGGIT GARNASIH NO.8
BANDUNG

 

 

Pengantar
Rumah yang berada di ujung jalan, Jalan Ciateul No.8 Bandung, yang sejak bulan November 1997 berganti nama, menjadi Jalan Inggit Garnasih. Hal ini merupakan wujud penghormatan dan penghargaan kepada salah seorang perempuan yang gigih ikut merintis kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia, bertempat tinggal di rumah tersebut, yaitu Inggit Garnasih. Penggantian nama jalan tersebut bertepatan dengan pemberian Tanda Kehormatan 'Bintang Mahaputera Utama' kepada tokoh bersejarah ini, berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 073/TK/1997 tanggal 11 Agustus 1997, yang penyerahannya dilaksanakan pada tanggal 10 November 1997.

Secara administratif termasuk RT 02 RW 07 yang berada di wilayah Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astana Anyar, Kota Bandung. Rumah bersejarah ini terletak kurang lebih tiga kilometer dari Mesjid Agung Bandung dan Pendopo Kabupaten, atau kurang lebih setengah kilometer sebelah utara dari Monumen Bandung Lautan Api (Lapangan Tegallega) atau Museum Negeri Sri Baduga Provinsi Jawa Barat.

Demi penyelamatan aset sejarah dan dengan kebesaran hati dan jiwa keluarga besar Inggit Garnasih, 'Rumah Bersejarah Inggit Garnasih' diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pemeliharaan dan pemanfaatan sepenuhnya dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Provinsi Jawa Barat. Sebagai langkah awal, diantaranya penyebaran informasi dan publikasi objek rumah dan kejuangan tokoh Inggit Garnasih melalui leaflet ini.

Selanjutnya, direncanakan akan dikembangkan dalam bingkai Pusat Studi Peranan Kaum Ibu dalam Perjuangan Bangsa, yang didalamnya terdapat museum peranan Inggit Garnasih dan perpustakaan. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkembangkan rasa patriotisme dan nasionalisme pada generasi muda bangsa Indonesia. Di rumah inilah tokoh besar bangsa Indonesia, Soekarno ditempa sehingga menjadi tokoh yang disegani baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Dalam upaya mewujudkan hasrat pemanfaatan dan pengembangan Rumah Bersejarah Inggit Garnasih tersebut diperlukan peran aktif dari seluruh komponen masyarakat.

Nilai Kesejarahan Rumah Inggit Garnasih
Rumah Inggit Garnasih merupakan bangunan cagar budaya, heritage bagi bangsa Indonesia, sesuai Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, harus dilindungi dan dilestarikan karena memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi bangsa dan negara Indonesia. Berfungsi bagi pemahaman, pengembangan dan pemanfaatan sejarah, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan pariwisata demi pemupukan kesadaran jatidiri bangsa dan kepentingan nasional.

Keberadaan rumah Ibu Inggit Garnasih masih belum banyak diketahui masyarakat umum, 'bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah' tentunya kita akan berusaha menggali jejak-jejak anak bangsa terdahulu kita yang telah mengukirkan hasil karya terbaiknya untuk bangsa.

Mengacu pada catatan dan bukti sejarah, bahwa rumah mungil di Jalan Ciateul itu ditempati Inggit Garnasih dan Soekarno sejak tahun 1926 sampai dengan pertengahan 1934. Saat itu rumah masih berbentuk panggung.

Sebelum Soekarno dan Inggit Garnasih dibuang ke Ende, Flores, maupun Bengkulu, tanah dan rumah itu mempunyai andil besar mewarnai perjalanan perjuangan Soekarno sebagai Bapak Bangsa dan sebagai tempat bertemunya Soekarno dengan kawan-kawan seperjuangannya berdiskusi untuk mencapai Indonesia Merdeka. Pemikiran, konsep, serta ide yang selalui didiskusikannya itu akhirnya melahirkan PNI 4 Juli 1927, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan sebagai ganti dari PNI dibentuk PARTINDO 29 April 1931. Bagi para pejuang kemerdekaan dan rakyat Indonesia mempunyai ikatan batin dengan tempat tersebut, karena di tempat itulah pernah menjadi dapurnya perjuangan sebagai tempat berkumpulnya para pelopor kemerdekaan seperti Suyudi, Agus Salim, Ki Hajar Dewantoro, HOS Tjokroaminoto, Kyai Haji Mas Mansur, Sartono, Hatta, Moh. Yamin, Ali Sastro, Asmara Hadi, Ibu Trimurti, Otto Iskandardinata, Dr. Soetomo, M.H. Thamrin, Abdoel Muis, Sosro Kartono (kakak dari Ibu Kartini), dan lainnya saling adu intelektual untuk menciptakan satu rasa dalam membangun bangsa, mewujudkan cita-cita kemerdekaan bagi negara Indonesia.

Bahkan ketika Soekarno dimasukkan kedalam penjara Banceuy dan Sukamiskin, di rumah itu Inggit Garnasih berjuang sendirian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan Soekarno di penjara dengan cara menjahit baju, menjual kutang, bedak, rokok, dan menjadi agen sabun dan cangkul walaupun kecil-kecilan.

Pada waktu terjadinya penyerangan Agresi Militer Belanda I dan II (1946-1949) dan terjadi Bandung Lautan Api, Inggit beserta anak cucunya mula-mula mengungsi ke Banjaran, kemudian ke Garut di sebuah desa dekat Leles. Pada akhir tahun 1949, Inggit kembali ke Bandung dan menetap di rumah H. Doerrasjid di Gedung Bapa Rapi dan mengutarakan ingin memiliki rumah sendiri seperti dulu.

Atas prakarsa Asmara Hadi menantunya dengan dibantu rekan-rekan seperjuangannya seperti Winoto, Supardi, Ibu S.K. Trimurti, Ibu Rusiah Sardjono, Gatot Mangkoepradja, A.M. Hanafi dan lainnya, terkumpullah sejumlah dana untuk membeli sebuah tanah dan membangun sebuah rumah. Di sinilah sejarah berulang ternyata tanah yang dibeli dan yang akan dibangun rumah untuk Inggit adalah tanah yang dulu berdiri rumah panggung tempat tinggal Inggit dan Soekarno di Jalan Ciateul, Astana Anyar.

Pembangunan rumah dipercayakan kepada Sugiri. Tahun 1951 rumah mungil dengan gaya Belanda telah selesai, maka sejak itulah Inggit menetap sampai akhir hayatnya.

Perjalanan Hidup Inggit Garnasih
Inggit Garnasih lahir di tatar Sunda Bumi Parahyangan tepatnya di Desa Kamasan, Banjaran, Kabupaten Bandung, 17 Februari 1888 dari pasangan Bapak Ardipan dan Ibu Amsi. Nama itu diberikan dengan penuh makna dan harapan, kelak menjadi anak yang tegar, segar, menghidupkan dan penuh kasih sayang.

Harapan itu menjadi kenyataan, menginjak dewasa Garnasih menjadi seorang remaja putri yang cantik dan menarik, sehingga kemanapun ia pergi selalu menjadi perhatian masyarakat sekitar terutama para pemuda. Diantara mereka sering melontarkan kata-kata 'mendapat senyuman dari Garnasih sama dengan mendapat uang seringgit' (pada saat itu satu ringgit sama dengan 2,5 gulden Belanda dan nilainya masih sangat tinggi) yang akhirnya julukan inilah yang kelak merangkai namanya menjadi Inggit Garnasih.

Tahun 1900 pada usia kurang lebih 12 tahun, Inggit Garnasih memasuki gerbang perkawinan pertamanya, dengan Nata Atmadja yang menyandang jabatan sebagai patih pada Kantor Residen Belanda. Namun sayang perkawinannya tidak lama, berakhir dengan perpisahan.

Setelah berpisah dengan Nata Atmadja, Inggit dilamar oleh H. Sanoesi seorang pedagang kaya dan sukses, beliau juga seorang tokoh organisasi perjuangan Sarekat Islam Jawa Barat dan merupakan salah satu kepercayaan HOS Tjokroaminoto.

Bagi Inggit, perkawinan keduanya ini merupakan awal kehidupan memasuki dunia politik dan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pada waktu dilaksanakannya Kongres Sarekat Islam (1916), Inggit dipercaya untuk memimpin dapur umum, mengatur dan menerima undangan bagi seluruh peserta kongres yang datang dari seluruh tanah air.

Kehidupan rumah tangga Inggit dengan H. Sanoesi berjalan dengan mulus dan penuh kasih sayang, sampai ketika seorang pemuda bernama Soekarno datang dengan berbekal surat dari HOS Tjokroaminoto untuk meminta keluarga H. Sanoesi dapat menerima Soekarno tinggal di rumahnya sebagai anak indekosan dalam rangka student di HTS (sekarang ITB). Pada saat itu Soekarno sudah 'nikah gantung' dengan Oetari putri dari HOS Tjokroaminoto, namun dalam kehidupan sehari-harinya Oetari hanya dianggap adik oleh Soekarno bukan sebagai istri.

Cinta adalah anugerah sekaligus misteri, datang dan pergi tidak pernah kita ketahui, hal ini pulalah yang kemudian menjadikan prahara dan badai cinta diantara H. Sanoesi, Soekarno, dan Inggit. Soekarno jatuh cinta pada Inggit Garnasih begitu pula sebaliknya.

Namun dilandasi pengertian yang luhur dan keikhlasan yang suci akhirnya badai itu dapat diselesaikan dengan baik. Penyelesaian dan kesepakatan antara ketiganya ibarat sebuah mimpi dalam kenyataan. H. Sanoesi dengan segala keikhlasan hatinya menceraikan Inggit yang dikasihinya demi tujuan luhur untuk mendampingi Soekarno yang diyakininya kelak akan memimpin dan memerdekakan bangsa Indonesia. Sedangkan Oetari oleh Soekarno diceraikan dan dikembalikan secara baik-baik pada HOS Tjokroaminoto.

Tanggal 24 Maret 1923, Inggit dan Soekarno menikah. Dalam surat nikah dicantumkan usia Soekarno yang baru 22 tahun itu menjadi 24 tahun, sedangkan usia Inggit diturunkan satu tahun menjadi 35 tahun.

Ngkus, itulah panggilan sayang Inggit pada Soekarno. Baginya, Soekarno adalah suami, guru, mitra perjuangan sekaligus kekasih. Begitupun sebaliknya bagi Soekarno, Inggit adalah istri, mitra dalam berjuang, kekasih dan sekaligus merupakan sosok 'ibu' yang memberikan air kehidupan penyejuk jiwa. Kondisi inilah yang menjadi jiwa Soekarno tetap kokoh dan semangat menjalani suka duka dalam perjuangan.

Semula anak itu bernama Arawati, oleh Soekarno karena sering sakit dan rewel namanya diganti menjadi Ratna Juami yang kemudian akrab dipanggil Omi.

Dalam mengarungi kehidupan yang penuh perjuangan dan ketika Soekarno keluar masuk penjara, Inggit selalu sabar, setia dan siap membantu Soekarno. Pada tanggal 1 Agustus 1933, tepat dua tahun setelah Soekarno dibebaskan dari penjara Sukamiskin (1929-1931), dia kembali ditangkap polisi Belanda dengan tuduhan melakukan tindakan subversif, karena menulis risalah yang berjudul 'Mentjapai Indonesia Merdeka'. Kali ini pemerintah mengambil tindakan dengan menginternirnya ke Ende, Flores. Pada pertengahan Februari 1934, Soekarno dan keluarga (Inggit, Ibu Amsi, Omi, Mahasan, dan Karmini) tiba di Ende. Waktu di Ende, Inggit dan Soekarno dapat musibah yang mengakibatkan duka yang panjang, ibu tercintanya meninggal dunia bulan Oktober 1935. Ketika Soekarno menderita sakit malaria dan atas desakan Husni Thamrin, akhirnya pada tahun 1938 Pemerintah Belanda memindahkan Soekarno dan keluarganya ke Bengkulu.

Berawal dari kunjungan Hassan Din bersama istri dan anaknya Fatma inilah yang membuat jiwa Soekarno kembali jatuh cinta pada seorang perempuan. Kedatangan keluarga Hassan Din dan keluarga ke rumah Soekarno selain bersilaturahmi juga bertujuan meminta Soekarno agar dapat membantu untuk menjadi pengajar di Muhammadiyah sekaligus dapat memberikan dorongan kepada anaknya untuk dapat melanjutkan sekolahnya ke yang lebih baik seperti Omi (Ratna Juami) yang bersekolah di R.K. Vakschool. Sejak itu Fatma bergabung dengan keluarga Soekarno untuk didaftarkan di sekolah bersama Omi. Soekarno menitipkan Fatma di sekolah Muhammadiyah, dimana Soekarno sebagai salah satu gurunya. Selanjutnya Fatma mendapat nama tambahan dari Soekarno menjadi Fatmawati.

Fatma oleh Inggit diterima dengan senang hati dan dianggap anak serta diperlakukan dengan rasa kasih sayang seorang ibu sama seperti kepada Omi dan Kartika tidak dibeda-bedakan. Dari sinilah awal prahara rumah tangga Inggit dan Soekarno mulai goyah. Soekarno tertarik pada Fatma yang akhirnya Soekarno menyampaikan kepada Inggit keinginannya menikahi Fatma dengan alasan menginginkan keturunan. Pada waktu itu sebenarnya tidak terbersit dalam pikiran Soekarno untuk menceraikan Inggit yang setia mendampinginya dalam perjuangan selama 20 tahun baik suka maupun duka, akan tetapi Inggit tidak mau dimadu. Inggit tidak berhasil menyelamatkan kemelut rumah tangganya, akhirnya memutuskan untuk merelakan Soekarno suaminya yang dikasihi dan disayanginya menikah dengan Fatma.

Sepulangnya dari Bengkulu, Inggit kembali ke Bandung. Pada tanggal 29 Februari 1942, Inggit resmi bercerai dari Soekarno, yang disaksikan oleh Kyai Haji Mas Mansoer. Surat cerai diserahkan oleh Soekarno pada Inggit yang diwakili oleh H. Sanoesi.

Sejak itu selesailah tugas Inggit menghantar Soekarno sebagai pemimpin dan Bapak Bangsa menuju gerbang kemerdekaan Indonesia. Perjalanan hidup Inggit selanjutnya berlangsung dalam kesendirian dan berusaha menghidupkan dirinya dengan membuat bedak dan jamu.

Pengabdian dan perjuangan Inggit Garnasih
Dalam perkawinannya dengan Soekarno menjadikan Inggit memasuki dunia politik dan pergerakan kemerdekaan Indonesia yang lebih luas. Pengabdian dan perjuangan Inggit Garnasih, diantaranya:

  • Menjadi saksi proses lahirnya Peserikatan Indonesia yang kemudian berubah menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tanggal 4 Juli 1927, dimana suaminya Soekarno sebagai ketua, Mr. Iskak sebagai sekretaris merangkap bendahara dengan anggota pengurusnya Mr. Samsi, Mr. Sartono, dan Ir. Anwari.
  • Menjadi saksi lahirnya Sumpah Pemuda.
  • Mendampingi kegiatan Soekarno dalam setiap perjalanan ke berbagai kota ataupun tempat-tempat pengasingan Soekarno.
  • Dengan gigih dan tegar memberikan semangat hidup dan perjuangan kepada Soekarno pada saat dipenjara di Banceuy, Bandung. Meskipun harus bekerja mencari uang untuk kebutuhan hidupnya.
  • Membantu memberikan materi (data) untuk referensi Soekarno ketika menyusun pembelaan yang berjudul 'Indonesia Menggugat' di depan Pengadilan Landraad Bandung tanggal 18 Agustus 1930.

Di usia senjanya Inggit Garnasih hidup dengan tenang, beliau banyak dijadikan tempat bertanya dari berbagai kalangan tua maupun muda. Inggit selalu memberikan nasehat kepada para tamunya, bahwa dalam menjalani kehidupan hendaklah selalu membela rakyat dan harus selalu menjaga harkat dan harga diri sebagai bangsa yang besar. Kepada kaum wanita ia selalu berpesan untuk selalu menjadi pedamping suami yang setia, berani dan mandiri, sedangkan kepada anak cucunya ditekankah agar dalam membangun kariernya tidak menggantungkan atau meminta fasilitas kepada Soekarno yang saat itu menjadi Presiden Republik Indonesia.

Di masa menjadi Presiden RI, Soekarno pernah mengunjungi Inggit Garnasih di rumahnya Jalan Ciateul No. 8 Bandung, setelah mereka berpisah kurang lebih 20 tahun, Soekarno meminta maaf kepada Inggit atas segala kesalahannya yang telah menyakiti hatinya.

Pada waktu itu Inggit menjawab, 'Tidak usah diminta Ngkus, sudah lama Nggit memaafkan Ngkus. Ngkus pimpinlah negara dan rakyat dengan baik, seperti cita-cita kita dahulu.' Kunjungan kedua tahun 1960, Soekarno menjenguk Inggit yang sedang sakit karena kekurangan vitamin.

Mendapat kabar wafatnya Soekarno 21 Juni 1970, Inggit segera berangkat dari Bandung ke Jakarta dengan diantar anaknya (Ratma Juami). Dengan kondisi tubuh yang sudah renta dan perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, tetapi Inggit Garnasih menunjukkah keteguhan dan bertekad untuk menjenguknya karena yang meninggal itu bukan saja mantan suaminya atau bekas kawan seperjuangan selama 20 tahun di dalam suka dan duka, melainkan karena seorang pemimpin dan Proklamator Bangsa Indonesia. Ketika melihat jenazah Soekarno terbaring di dalam peti, terdengar suara lembutnya dan sayu sambil mengucapkan, 'Ngkus, geuning Ngkus teh miheulaan, ku Nggit didoakeun.' (Ngkus, kiranya Ngkus mendahului, Nggit mendoakan).

Dalam wawancara dengan wartawan, beberapa hari setelah meninggalnya Soekarno, Inggit Garnasih menyatakan bahwa harta pusaka peninggalan Soekarno adalah 'Negara kita ini, untuk kita semua, untuk seluruh rakyat dan untuk semua keturunan bangsa kita.' Harta yang dimaksud adalah 'kenangan yang tak terlupakan, yang ibu simpan di dalam hati, yang akan menemani ibu masuk ke dalam kubur.'

Kedua jawaban/pernyataan Inggit Garnasih itu sangat tepat, kalau ada harta yang Soekarno tinggalkan, yang pasti adalah kemerdekaan bangsa Indonesia. Sedangkan jawaban kedua pun sangat tepat. Karena tidak ada orang lain, tidak ada wanita lain, bukan Fatmawati, Hartini, ataupun Dewi, yang memiliki kenangan yang indah, tetapi tak seindah kenangan Inggit Garnasih dengan Soekarno.

Di saat menjelang akhir hidupnya karena usia lanjut, Inggit Garnasih menunjukkan dirinya seorang wanita yang berbudi luhur dan berjiwa besar. Keinginannya untuk bertemu dengan Fatmawati, karena istri Soekarno yang lain seperti Hartini dan Ariyati sudah sering mengunjunginya. Atas prakarsa Ali Sadikin, keinginan Inggit terpenuhi, pada tanggal 7 Februari 1980 terjadilah pertemuan antara seorang ibu dengan seorang yang pernah diakui sebagai anak yang kemudian saling bersaing untuk mendapatkan kasih sayang dari Soekarno. Pertemuan itu sangat mengharukan, keduanya saling berpelukan, dengan menangis Fatmawati meminta maaf, dengan ketulusan dan kebesaran jiwanya Inggit Garnasih memaafkan. Tiga bulan kemudian, Inggit Garnasih berpulang ek Rahmatullah (meninggal dunia) pada tanggal 13 April 1984 pada usia 96 tahun, dan dimakamkan di Pemakaman Umum PORIB, tepatnya di Jalan Makam Caringin - Kopo Bandung.

Begitu besar peranan dan jasa Inggit Garnasih dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia serta ikut berperan dalam membentuk karakter dan pribadi pemimpin bangsa, untuk itu Pemerintah Republik Indonesia telah memberikan tanda jasa kepada beliau berupa,

  1. Tanda Kehormatan 'Satyalantjana Perintis Kemerdekaan', yang dianugerahkan pada tanggal 17 Agustus 1961 ketika beliau masih hidup.
  2. Tanda Kehormatan 'Bintang Mahaputera Utama' berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 073/TK/1997 tanggal 11 Agustus 1997, yang penyerahannya dilaksanakan pada tanggal 10 November 1997 di Istana Negara dan diterima oleh ahli warisnya yaitu Ibu Ratna Juami.

 

Sumber: Brosur 'Rumah Bersejarah Inggit Garnasih'. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Bandung.

 

 

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.