Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Meteorit Jatipengilon, jatuh pada tahun 1884 di dekat Madiun, Jawa Timur, sekarang disimpan di Museum Geologi, Bandung. Sebagian fragmen kecil disimpan di Museum national d'Histoire naturelle, Paris; Museum for Naturkunde, Berlin; National Museum of Natural History, Washington; Harvard University; Max Planck Institute, Mainz, Jerman; Geological Survey of India, Calcutta, dll.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Kupu-kupu, Bantimurung, Sulawesi Selatan

 

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


BUNGA TAK LAYU: INGGIT GARNASIH
dalam BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT


inggit_kembang.jpg

 

Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat ditulis pada tahun 1960an. Membacanya, kita akan menemukan bahwa Inggit Garnasih masih hidup dalam kenangan indah Bung Karno. Setidaknya setelah 20 tahun bercerai, toh Bung Karno tuturkan kepada Cindy Adams, 'Demikianlah, di tahun 1922...aku kembali ke Bandung...kepada cintaku yang sejati.'

Suasana mereka bertemu pada 1921 pun dikisahkan dengan mesra yang bikin iri, '...di depan pintu masuk dalam suasana setengah gelap dibingkai lingkaran cahaya dari belakang...Dia memiliki bentuk tubuh yang kecil, dengan sekuntum bunga merah menyolok di sanggulnya dan sebuah senyuman yang mempesona.'

Sang Proklamator meneruskan seperti kemarin saja terjadi, peristiwa lebih dari empat dekade silam tersebut, 'Saat pertama aku melangkah masuk, aku berkata dalam hati, 'Oh, luar biasa perempuan ini.'' Love at first sight? Aku yakin itu.

 

inggit_inggit.jpg

FOTO IBU INGGIT GARNASIH

Dua tahun kemudian Bung Karno dan Inggit Garnasih menikah. Saat itu BK berusia 21 tahun adalah mahasiswa tahun kedua Sekolah Teknik Tinggi (ITB sekarang) juga pejuang politik yang matang.

Sedangkan Inggit senantiasa dan aktif mendukung karier politik BK. Dalam memoar, Ali Sastroamijoyo mengingat Inggit sebagai istri yang selalu menemani BK kemana pun dia pergi melakukan propaganda untuk PNI. Sedangkan dalam kenangan BK, '...Inggit sangat penting bagiku. Dia adalah ilhamku. Dia adalah pendorongku.'

Pada tanggal 25 Mei 1926, BK diwisuda. Inggit memahami meski keuangan mereka sulit namun sang suami menolak tawaran proyek besar dan bekerja untuk Hindia Belanda karena itu berarti secara diam-diam dia membantu rezim kolonial menindas rakyat, 'Bagi kami kemiskinan bukanlah sesuatu yang perlu membuat malu. Kami semua orang yang berpikiran idealis.'

Semasa di Bandung finansial keluarga sebagian besar ditopang Inggit, 'Di masa itu orang telah mengakui aku sebagai pemimpin, tetapi keadaanku masih tetap melarat. Inggit mencari penghasilan dengan menjual bedak dan alat-alat kecantikan yang dibuatnya sendiri di dapur kami. Selain itu kami juga menerima orang yang indekos...' BK tak pernah lupa. Suatu hari di Bengkulu, BK yang tak hendak menceraikan Inggit berujar, 'Kau menjadi tulang punggungku dan tangan kananku selama separuh umurku.'

 

inggit_ruang_tengah.jpg

RUANG TENGAH

Pada akhir 1930, BK dijebloskan ke Penjara Sukamiskin. Dua kali seminggu Inggit diperbolehkan menjenguk. Dia berjalan kaki dari Bandung untuk Bung Karno; membawakan makanan serta menyelundupkan buku dan uang, sekaligus berita dari teman-teman di luar melalui sistem lubang jarum, 'Katakanlah Inggit mengirimkan kitab Alquran pada tanggal 24 April. Aku harus membuka bab 4 halaman 24 dan dengan ujung jari aku meraba dengan teliti satu halaman itu. Di bawah huruf-huruf tertentu terdapatlah bekas lubang jarum...'

Saat BK keluar dari penjara, 'Sekalipun aku telah minta agar bertindak bijaksana dengan tidak mengadakan penyambutan secara besar-besaran, Inggit dan dua ratus pengikut setia berbaris dengan tertib di pinggir jalan pada pagi yang cerah saat aku dibebaskan.'

Sesungguhnya sebelum BK ditangkap, Inggit telah mendapat penampakan selama lima malam terturut-turut. Oleh sebab itu ketika BK harus pergi ke Solo untuk menghadiri rapat umum, 'Inggit dengan sedih berjalan mengikutiku sampai ke pintu depan. Wajahnya lesu dan tegang. Selagi aku pergi, suatu gelombang firasat telah meliputi dirinya. Dengan lemah-lembut ia memanggil dengan nama kecilku, 'Kus,' katanya pelan, 'Kau jangan pergi!''

Kedekatannya dengan BK telah mengasah sanubari Inggit untuk dapat merasakan bencana yang akan menimpa orang yang dicintainya. Ketika ketakutan Inggit menjadi nyata dan BK dipenjara, dia menjenguk di setiap saat yang mungkin selama satu tahun itu. Tak kisah dia mesti berjalan kaki Bandung-Sukamiskin, tak kurang dari tiga jam sekali tempuh, saat terik maupun hujan, tak naik dokar demi menghemat setiap sen yang mungkin. Ketika BK keluar dari penjara, dia ada di sana menyambutnya.

Bahkan ketika BK diasingkan ke Ende, Inggit ikut berlayar. Tinggal di pondok beratap ilalang, tanpa listrik, tanpa air leding, 'Inggit tidak pernah mengeluh...tetapi aku juga dapat merasakan, bahwa dia diliputi kesedihan. Istri mana yang tidak sedih menyaksikan suaminya dilucuti daya hidup, ambisi, semangat untuk hidup...Setiap kali Inggit memandangiku, setiap kali pula darah menetes dari urat darahnya. Memang terasa lebih berat melihat orang yang kau cintai menghadapi penderitaan daripada bila kau mengalami sendiri penderitaan itu.'

Sulit membayangkan BK melewati masa-masa berat dalam hidupnya tanpa tegar sekaligus lembut Inggit Garnasih.

 

inggit_ruang_2.jpg

FOTO BUNG KARNO DAN IBU INGGIT

Inggit memuja suaminya, BK tahu jelas, 'Dalam hidupnya tidak ada yang lain kecuali aku, serta apa yang kupikirkan dan kuharapkan dan kuimpikan. Aku berbicara; dia mendengarkan. Aku gembira, dia mensyukuri.'

Tak pernah disangkanya, BK pun menurutku, memuja Inggit, 'Dia memberiku cinta, kehangatan, sikap tidak mementingkan diri sendiri...'

Tak segan BK menyebut Inggit sebagai 'keberuntungan yang utama' bahkan penangkapan pertamanya terjadi dianggapnya karena dia tidak disertai istri tercintanya, 'Inggit selalu menjadi jimat keberuntunganku. Ke mana saja aku pergi, dia selalu ikut. Saat aku ditangkap itu, Inggit untuk pertama kalinya tidak menemaniku.'

 

inggit_depan.jpg

RUMAH BERSEJARAH IBU INGGIT GARNASIH

Sepanjang membaca biografi BK, aku terlongo-longo menemukan betapa manisnya BK mengenang Inggit, 'Dengan Inggit berada di sampingku, aku melangkah maju memenuhi perjanjianku dengan sang nasib.' Mengingat biografi itu ditulis ketika mereka telah berpisah selama 20 tahun.

Tak dia lupakan derita sang istri ketika mereka dipaksa berjalan dari Moko-Moko, Bengkulu ke Padang, '..Istriku hanya memiliki sandal terbuka seperti hanya dipakai perempuan Indonesia, sehingga kakinya sering tergores duri rotan dan rumput liar setinggi lutut. Kaki Inggit lecet dan bengkak.'

Maupun kasih sayang Inggit ketika BK dipukuli kempetai yang tidak mengenalinya karena terlambat memadamkan lampu di rumah, 'Inggit yang jatuh berlutut menjerit, 'Jangan...jangan pukul dia. Sayalah yang harus bertanggung jawab, bukan dia. Ini bukanlah kesalahan dia. Mohon dia dimaafkan. Saya yang melakukannya.''

 

inggit_foto.jpg

BENGKULU, 1938

Aku bertanya seperti apa ketika seorang pria merasa perlu untuk mengisahkan dalam biografinya hal-hal seperti, '...Aku senantiasa makan bersama-sama dia, menyantap makanan yang dia masak, seperti sayur lodeh, yaitu sayuran yang dimasak dengan santan yang kusukai, atau oncom yang juga kusenangi, ataupun makanan lezat lain yang khusus dibuatnya untuk menyenangkan hatiku.'

Maupun suatu hari di Penjara Banceuy, 'Istriku hanya menatap ke dalam mataku dan dengan penuh perasaan cinta, dia bertanya, 'Apa kabar?'' Membawa dirinya kembali kepada suatu ketika, 'Kami terlalu mencintai satu sama lain sehingga beban berat ini kami pikul bersama dalam hati kami.'

Atau 'hal sepele' seperti saat kembali ke Jakarta di masa pendudukan Jepang, 'Malam itu Inggit dan aku berjalan-jalan di sekitar rumah kami yang baru, yang terletak di sebuah kawasan elite di Jakarta dengan jalanan lebar penuh pepohonan...'

Seorang pria ketika dalam autobiografi dia masih menceritakan begitu banyak, maupun menyisipkan dengan berbagai cara tentang mantan istrinya. Baik kenangan indah maupun pengorbanannya. Katakan satu hal bagiku. Setelah tahun-tahun yang panjang, ada yang tak berlalu.

Dia, di saat muda adalah pria yang mencintai sang istri dengan gairah dan bara, 'Aku sebenarnya ingin berteriak, bahwa aku mencintainya...' Melihat kembali di usia senja, dia menemukan bersama sang istri adalah masa-masa bahagia dalam hidupnya, 'Dia waktu itu, dan sampai sekarang, masih seorang perempuan yang budiman.' Walau kemudian Bung Karno kawin lagi, aku percaya di lubuk hatinya dia sesungguhnya tak pernah berhenti mencintai perempuan bernama Inggit Garnasih.


...Tu vois, je n'ai pas oublié
La chanson que tu me chantais..

Jacques Prévert, 1945

 

Tanggal Terbit: 17-09-2012

 

 
  Copyright © 2009-2020 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.