Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Batu nisan van Imhoff, Gubernur Jenderal Belanda yang memberi nama Buitenzorg kepada Bogor, berada di Museum Wayang, Jakarta.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Pinang di depan Museum Seni Rupa dan Keramik

 

Museum Nyamuk

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


MN_preparat.jpg

PREPARAT NYAMUK

Dalam satu tarikan napas kita, dia telah mengepakkan sayapnya seribu kali. Imajinasi pun sulit membayangkan. Apalagi dia sangat kecil. Masih lebih besar biji semangka. Hidupnya juga tak pernah panjang. Jantan seminggu. Betina sampai dua minggulah, maksimal sebulan. Hari-hari disantap macam-macam makhluk. Capung, cecak, laba-laba, burung, kelelawar. Manalagi manusia dan pestisida membunuhnya sejak dahulu kala. Toh sampai sekarang survive dia, ada dimana-mana malahan. Di sekitar manusia, hutan, gurun, kutub. Sungai Nil, Himalaya, dia beterbangan. Ngung..ngung..ngunngg...

Nyamuk!
Nama yang keturunan Adam berikan. 

 

MN_museum.jpg

MUSEUM NYAMUK

Rabu, 29 Februari 2012. Di hari yang jarang-jarang ada, tanpa rencana aku terus saja ke Ciamis dari Bandung. Tiba di Ciamis aku bertanya tetapi orang kelima masih tak bisa melokasi Museum Nyamuk. Aku mulai curiga. Ada yang tak beres. Akhirnya dapat info dari Bungsu jika museum adanya di Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis. Bukan Ciamis kota dan itu artinya masih seratus kilo lagi oyy...

 

 

MN_zodia.jpg

ZODIA, HERBARIUM

Yeah! setelah menempuh perjalanan panjang sekali lagi...sampai juga. Bekalnya penasaran seperti apa sih Museum Nyamuk. Begini ternyata isinya dalam satu kompleks: Teater Nyamuk, Museum, Insektarium, dan Tompen. Terakhir itu singkatan dari tanaman obat malaria dan pengusir nyamuk. Bentuknya sebuah taman. Wow! ada tuh zodia paling gede yang pernah kulihat seumur-umur. Pak Arda mengatakan zodia gampang banget tumbuh di situ. Mungkin tahu nyamuknya banyak ya Pak ^_^

Nih ajaibnya lagi. Si zodia cumah keluar baunya jika gerak, pelan sekalipun seperti disentuh silir. Pantes kok pernah aku mencium zodia tapi ga ada baunya. Rupanya gitu tah rahasianya.

 

MN_rumah_nyamuk.jpg

RUMAH NYAMUK

Insektarium adalah tempat atau museum yang memamerkan serangga yang masih hidup. Namanya museum nyamuk maka di insektarium kita akan menemukan rumah macam-macam nyamuk, jentik-jentik, telur nyamuk. Kerennya, ruangan ini diberi AC. Nyamuk-nyamuk hidup nyaman euy...

 

MN_nyamuk.jpg

MUSEUM NYAMUK

Pamungkas tentu saja museum, diresmikan 2009. Luarnya aku suka karena nyamuk gede di dindingnya. Soalnya aku memang suka nyamuk. Atau mengagumilah katakan. Waktu kecil aku sudah cukup gila untuk hepi2 saja digigit nyamuk demi bisa melihat nyamuk dari dekat dan menikmati kecantikannya yang ruwet. Bertanya-tanya kepada diri sendiri hal-hal seperti berapa lama diperlukan Sang Pemahat untuk membuatnya jadi.

Dalam perasaan sampai sekarang, nyamuk masihlah miniatur dari kompleksitas yang sempurna...

Ketika kecil aku memang bertanya mengapa kita membunuh nyamuk. Karena nyamuk bisa bikin kita sakit, gitu dulu aku diberitahu. Sekarang aku rasa manusia lebih sering dibikin sakit oleh pola makan ga benar daripada nyamuk yaah..

 

MN_toxor.jpg

NYAMUK TOXOR

Museum Nyamuk memamerkan beratus-ratus nyamuk yang dikategorikan dalam enam genus yaitu Aedes, Anopheles, Culex, Armigeres, Mansonia, Toxorynchites. Nah, si toxor keren banget. Warnanya superb, biru metalik. Seumur-umur baru kali ini lihat nyamuk segede toxor jadi spontan aku bertanya, 'Kok saya nda pernah digigit nyamuk sebesar ini, Pak.' Kalau sama Andhita (masuk TK tahun ini) pasti dijawab memangnya pengen ^_^

Toxor..rasa-rasa...kok familiar yaa..

Pulangnya aku cari buku Mosquito yang dulu beli di QB. Ah! Ini dia ternyata. Temans ingat ga ambar di film Jurrasic Park. Dalamnya ada nyamuk dan ceritanya darah dinosaurus yang dimakan si nyamuk diambil DNA-nya untuk dibikin dino.

Nah si nyamuk tak lain tak bukan adalah toxor.

Tentang toxor yang terkurung di ambar itu, kata pakar nyamuk Andrew Spielman di Mosquito, 'It's amusing to note, however, that the amber-encased mosquito depicted in Steven Spielberg's film treatment of the book appears to be a Toxorynchites, a giant mosquito that is one of a few mosquitoes that will never drink blood. Its mouthparts are not up the job.'

O~oh! Ternyata si toxor asli makanannya nektar jadi tak akan menggigit manusia maupun dinosaurus.

 

MN_mounting.jpg

ALAT MOUNTING

Selain sejumlah nyamuk, museum juga memamerkan herbarium, alat bedah nyamuk, aneka alat mounting dan pinning, susceptibility kits untuk menguji resistensi nyamuk terhadap insektisida, dll. Siklus Hidup Nyamuk dilengkapi preparat jentik dan telur nyamuk. Sayang ga dilengkapi mikroskrop *kemantepan 'r' oih*

Ada juga model nyamuk aedes. Eh! kurang anopheles dan culex untuk melengkapi The Big Three yang bikin puyeng ilmuwan-ilmuwan kesehatan masyarakat.

 

MN_zodia.jpg

ZODIA, KOLEKSI HERBARIUM

Yeah...nyamuk. Satu kata yang acap kita hubungkan dengan penyakit. Padahal hanya nyamuk betina yang menggigit manusia untuk kebutuhan bertelur. Sebagian waktu betina dan jantan makannya nektar. Juga tidak setiap kali digigit nyamuk maka kita akan sakit karena tidak semua nyamuk betina membawa 'bibit penyakit' atau vektor istilah kerennya.

Tapi asal nyamuk kita tabok ya..

D.H. Lawrence pernah menulis puisi tentang nyamuk: The mosquito knows full well / small as he is he's a beast of prey / But after all he only takes his bellyful / he doesn't put my blood in the bank.

Hanya nyamuk kelihatannya dia tapi tak mengambil lebih dari kenyang perutnya. Jika kita berkawan dengan nyamuk mungkin dia bisa menjaga dan mengajari kita melihat batas sehingga tercegah diri dari kelampauan yah..

 

 

Tanggal Terbit: 02-12-2012

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.