Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Kata 'museum' berasal dari bahasa Latin, ialah kuil untuk memuja Muses yaitu sembilan dewi dalam mitologi Yunani yang masing-masing berkuasa dalam bidang epos, sejarah, puisi cinta, lagu, drama tragedi, himne, tari-tarian, komedi, dan astronomi.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Trowulan, Trowulan, Jawa Timur

 

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


BRI_gedung.jpg

MUSEUM BANK RAKYAT INDONESIA


Khitan di negeri ini acap menjadi hajatan besar dan menarik mata, tidak saja sekarang tetapi sedari dulu. Tak kurang naturalis asal Inggris, Alfred Russel Wallace tertarik mengisahkan perhelatan yang disaksikannya di Mojoagung pada tahun 1861, 'I found them all in the midst of a five days’ feast, to celebrate the circumcision of the Waidono’s younger brother and cousin..' Lengkap dengan iringan gamelan, '...A native band, or Gamelang, was playing almost all the evening, and I had a good opportunity of seeing the instruments and musicians...'

 

Pramoedya Ananta Toer pun memulai novel Perburuan yang mengagumkan dengan, 'Bunyi gamelan yang penghabisan telah lenyap di udara senja hari. Sepagi anak lurah Kaliwangan telah disunati.'

Tapi pesta khitan melahirkan pemikiran untuk membantu liyan mungkin tak banyak yang pernah mengalaminya. Raden Aria Wirjaatmadja di suatu pesta mengetahui bahwa biaya perhelatan dipinjam dari rentenir sehingga Beliau terdorong untuk mendirikan bank agar masyarakat tidak perlu meminjam uang dengan bunga tinggi. Cita-cita itu tercapai dengan berdirinya De Poerwokertosche Hulp-en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren atau Bank Priyayi pada tahun 1895.

 

BRI_replika.jpg

REPLIKA GEDUNG PERINTIS
BANK RAKYAT INDONESIA

Satu abad lebih telah berlalu. Di sini bank pertama didirikan oleh anak negeri. Setelah melalui beberapa kali pergantian nama, kini kita mengenalnya sebagai PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dengan moto 'Melayani dengan Setulus Hati'.

Replika Gedung Perintis Bank Rakyat Indonesia dibangun di lokasi Bank Priyayi. Gedung ini serupa dalam hal bentuk dan ukuran, bahkan sejumlah bagian seperti kosen jendela, pintu, langit-langit, atap adalah asli dari bangunan semula.

Melongok melalui jendela yang terbuka tampak diorama Wirjaatmadja menerima dua peminjam uang. Jam dinding tua dan dua bingkai foto/lukisan tergantung di dinding putih. Di samping meja kerja terdapat payung kebesaran dan tombak. Sebuah kursi goyang di pojok ruangan nan mungil. Dari ruangan sederhana inilah bermula BRI yang kini memiliki aset ratusan trilyun, ribuan cabang dari Sabang sampai Merauke, dan hampir 30 juta nasabah. Siapa menyana, bahkan ide itu timbul dari hati nurani yang tergerak untuk menolong orang lain dari berutang kepada rentenir.

 

BRI_ruangan.jpg

RUANG PAMERAN

Selain Gedung Replika kompleks Museum Bank Rakyat Indonesia masih memiliki Gedung Museum. Terdiri dari lantai dasar melukiskan perjalanan BRI dari masa ke masa, serta lantai satu memamerkan koleksi Wirjaatmadja, mata uang yang pernah beredar di Indonesia. Sejumlah diorama dan lukisan diantaranya yang unik adalah 'repotan' yaitu para pamong desa melapor kepada Patih Purwokerto Wirjaatmadja, dihadiri pula oleh asisten residen.

Atmosfer museum merefleksikan aura bahwa dia dibangun untuk menghormati serta mengenang jasa-jasa pendiri dan para pendahulu maupun sebagai 'salah satu perwujudan rasa terima kasih sebagai generasi penerus kepada para pendahulu'.

 

BRI_arca.jpg

MONUMEN RADEN ARIA WIRJAATMADJA

Patung Patih Purwokerto Raden Aria Wirjaatmadja (1831-1909) di taman mungil. Aku memang cenderung melihatnya sebagai monumen noblesse oblige. Memori bahwa ada juga di atas pundak manusia Tuhan meletakkan darma atau tugas terhadap sesama, melebihi liyan; dan oleh perjuangan hidup yang membawa kebaikan bagi masyarakat maka dia dihormati. Demikian pula keturunan-keturunannya mengemban amanat, melanjutkan karya kemanusiaan yang telah digagas, dirintis, dibangun oleh orangtua maupun pinisepuh di keluarganya. Demikianlah aku kira, hakikat ningrat.

 

 

 

Tanggal Terbit: 03-03-2013

 

 
  Copyright © 2009-2020 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.