Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Kata 'museum' berasal dari bahasa Latin, ialah kuil untuk memuja Muses yaitu sembilan dewi dalam mitologi Yunani yang masing-masing berkuasa dalam bidang epos, sejarah, puisi cinta, lagu, drama tragedi, himne, tari-tarian, komedi, dan astronomi.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Koleksi Wastra, Museum Sang Nila Utama, Pekanbaru

 

Museum Sang Nila Utama

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


Pkb_Museum.jpg

MUSEUM SANG NILA UTAMA, PEKANBARU

Papan nama Museum Sang Nila Utama terlihat elok dari Jalan Sudirman. Tak sering menemukan papan nama yang mencerminkan kecantikan arsitektur lokal. Ukiran selembayung dengan kuning terang terasa memikat hati. Sayang, beberapa huruf dibiarkan tanggal.

Bangunan museum seluas 1200 meter persegi mengadopsi rancangan rumah adat Melayu Riau. Keindahan selembayung, singap, sayap layangan, lebah bergantung (lesplang), dan klik-klik sangat menarik mata. Apa itu segala macam, silakan bertandang dan pasti pemandu museum akan sigap menjelaskan selayang pandang arsitektur rumah adat.

 

Pkb_Muara_Takus.jpg

MINIATUR CANDI MUARA TAKUS

Sejarah peradaban di Bumi Lancang Kuning dapat dirunut panjang kebelakang. Beberapa fragmen kecil masa Hindu-Buddha dapat dijumpai di museum sebagai miniatur Kompleks Percandian Muara Takus (abad XI-XII) dan replika Prasasti Pasir Panjang yang diperkirakan berasal dari masa yang sama dengan berdirinya Muara Takus.

Sedangkan koleksi era Kerajaan Melayu berupa miniatur Istana Siak, replika mahkota Sultan Sri Indrapura, dan payung kebesaran.

 

Pkb_Sepeda.jpg

SEPEDA SOEMAN HS

Suasana museum terasa agak muram karena kurangnya penerangan namun koleksi pastinya tertata rapi dalam lemari kaca. Beberapa yang menarik perhatianku:

  • Kereta angin Soeman HS. Nama ini pernah aku dengar di bangku sekolah. Seorang sastrawan, penulis Anak Perawan di Sarang Penyamun. Eeh! salah ta, harusnya Mencari Pencuri Anak Perawan. Dengan sepeda inilah semasa hidupnya si Bung berkeliling mencari angin dan inspirasi untuk memajukan peradaban Melayu. Bung Soeman juga pendiri sekolah menengah atas yang pertama di Pekanbaru.

 

Pkb_HT.jpg

TANJAK LAKSAMANA HANG TUAH

  • Kedua, tanjak Laksamana Hang Tuah. Tanjak atau tengkuluk ialah kain kepala, kita mungkin lebih mengenalnya dengan sebutan destar. Bermacam-macam destar adanya; destar dendam tak sudah, layar temasik, helang menyongsong angin, dll. Dari nama pun sudah berasa kerennya. Sayang museum hanya memamerkan satu jenis destar.

  • Koleksi ragam wadah air. Cerek kuningan berbentuk buah labu parang dari Bengkalis; teko dan cawan kopi dari kayu, asal Kampar; teko dari masa Dinasti Tang. Walau hanya wadah minum toh dibikin artistik, mencerminkan gandrungnya manusia kepada indah.

 

Pkb_Wastra.jpg

KOLEKSI WASTRA

Senang banget menemukan batik riau. Tapi kok begini di label museum tertulis, 'Di Riau diperkirakan pengetahuan membuat batik pernah berkembang di Kerajaan Daik Lingga, Indragiri, dan Siak, yang dikenal dengan nama kain cindai.' Padahal ada loh pantun: Apa guna orang bertenun / Untuk membuat kain cindai / Apa guna orang berpantun / Untuk memperbaiki laku perangai.

 

Pkb_Kopi_Kayu.jpg

WADAH KOPI DARI KAYU

Museum Sang Nila Utama, tidak mudah aku mencapainya. Bermula dari satu hari yang tersisa aku bawa lari ke Pekanbaru. Naik travel. Sembilan malam lewat ketika tiba, setelah enam jam perjalanan dengan mobil semi-bonnet yang (untungnya) tak pernah dipacu melebihi 80 km/jam.

Hotel yang direkomen sebagai 'clean, modern rooms' nyatanya kumal. Tak soal malam yang sudah tiba aku melangkah keluar dari pelataran hotel. Kutoleh langit, lintang waluku di atas kepala. Bintang-bintang, memberi rasa homey. Menyeruak rasa apakah aku memang cukup sinting untuk datang ke Pekanbaru hanya karena hendak pergi ke museum.

Seorang ibu di gerai kelontong yang masih buka. Aku tanya tentang penginapan sekitar. Dia memberiku sebuah nama. Sebuah hotel baru. Temannya menjelaskan arah dengan cara bicaranya yang bergegas-gegas.

Dua kelokan, aku pun tiba. Hotel hanya dua lantai, mentereng luarnya. Kamar standar 227 ribu. Bukan ukuran murah untuk kantong backpacker. Dapat kamar #221 di lantai dua. Setelah mandi kutemukan pendingin tak bekerja dengan baik, jendela tak bisa dibuka, seprai bercak-bercak kuning. Setidaknya masih tertolong karena aku bawa sleeping bag dan kipas. Ingat Papa berkata agar jangan marah karena hal-hal kecil. Tapi ketika malam bergerak larut dan tidur tak menjadi mudah, jengkel pun bertambah-tambah. Duh!

 

Pkb_museum_trotoar.jpg

TROTOAR MUSEUM

Pagi bangun dengan perasaan yang lebih baik. Terlebih setelah secangkir kopi membasahi kerongkongan. Semangat pun menggeliat kembali. Siap menyongsong hari baru tanpa beban kemarin.

Segera aku meluncur dengan busway ke Museum Sang Nila Utama. Jalan Sudirman, bukan main panjangnya. Turun di Awal Bros, lewati jembatan penyeberangan, kemudian Taman Budaya. Tiga ibu berkaos kuning duduk di rerumputan samping trotoar. Satenya kelihatan enak! Mereka tersenyum mendengar komentarku. Museum masih di depan ya Bu...


Pkb_Ruang_Koleksi.jpg

RUANG KOLEKSI

Sang Nila Utama, sebuah nama yang comel sekaligus menggelitik. Siapakah dia yang diambil namanya untuk museum di ibukota Provinsi Riau.

Ringkas cerita menurut Buku Panduan Museum Negeri Provinsi Riau 'Sang Nila Utama' (2011) sebagai berikut. Banyak bangsawan Sriwijaya meninggalkan negerinya ketika kerajaan runtuh. Diantaranya Sang Sapurba dan putranya Sang Nila Utama. Mereka tiba di Kerajaan Riau dan disambut dengan baik. Kelak Sang Nila Utama menikah dengan putri kerajaan Wan Sri Beni, dan dinobatkan sebagai raja yang berkedudukan di Pulau Bintan. 'Adapun setelah dinobatkan sebagai Raja Bintan, Sang Nila Utama menjalankan roda pemerintahan kerajaannya dengan penuh kearifan dan bijaksana.'

Kedua, versi Wikipedia: Sang Nila Utama adalah pangeran Sriwijaya yang mengembara sampai ke Bintan. Dia diterima dengan baik oleh ratu. Beberapa hari kemudian, pangeran berburu ke Temasek. Ketika mendarat di Pulau Temasek terlihat olehnya kelebat makhluk berkaki empat yang tak pernah diketahuinya. Menurut Sang Mangkubumi itu singa. Raja melihatnya sebagai pertanda baik, lalu berujar bahwa tempat itu akan dinamakan Singa Pura, Negeri Singa artinya. Demikian dikenal Sang Nila Utama mendirikan Kerajaan Singapura dan bertahta selama 48 tahun. Setelah wafat, dimakamkan di kaki Bukit Larangan.

 

Pkb_Tiket.jpg

TIKET TRANS METRO PEKANBARU

Pekanbaru, Februari 2012, pukul satu. Menunggu bus Trans Metro Pekanbaru di Halte Mayang Terurai. Bus datang setelah keringat bak terguyur hujan. Sepanas ini ya Pekan. Meninggalkan Jalan Tuanku Tambusai, bergelinding roda melewati Patung Tarian Rakyat yang sebelumnya dinamai Patung Zapin.

Transit di Halte Kantor Pos, ganti bus jurusan Pandau. Turun nanti di Halte Bandara.

Ternyata alih-alih halte semestinya, penumpang diturunkan di 'halte' beberapa ratus meter sebelum bandara. Hanya berupa undakan kecil untuk penumpang turun tanpa perlu melompat. Seorang pengojek tahu-tahu sudah muncul menawarkan jasa. Aku bilang mau jalan kaki saja, tapi dia tak yakin. Tapi aku benar-benar berjalan hingga ke Bandar Udara Sultan Syarif Karim II. Selangkah demi selangkah aku susur jalan berapit pohon-pohon kelapa sawit kacak itu. Di dekat bandara, Halte Bandara berdiri untuk apa. Hiks! Apa pasal Pak Cik, transport umum dibikin payah macam nih.

 

 

Tanggal Terbit: 01-01-2014

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.