Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Diperkirakan lebih dari tiga juta kapal karam yang saat ini ada di dasar laut di seluruh dunia (Galeri Arkeologi Maritim, Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta).

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Karmawibhangga, Borobudur, Jawa Tengah

 

Rumah Kelahiran Bung Hatta

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


 

Hatta_Rumah.jpg

RUMAH KELAHIRAN BUNG HATTA

Pengantar
Salah satu usaha untuk mengenang salah seorang dari Proklamator Kemerdekaan Indonesia adalah dengan mengabadikan kehidupan dan penghidupannya. Usaha ini dilakukan berupa menghadirkan kembali suasana kehidupan masa lalunya dengan membangun kembali rumah kelahiran Bung Hatta.

Membangun kembali rumah kelahiran Bung Hatta bertujuan bukan saja sebagai salah satu usaha untuk mengenang dan menghargai jasa-jasa beliau, tetapi lebih ditujukan untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangannya. Dengan membangun rumah tersebut, diharapkan para generasi penerus dapat mempelajari dan lebih memahami kepribadian serta ketokohan beliau sehingga muncul sebagai pemimpin terkemuka di Republik ini.

Sekilas tentang Bung Hatta
Bung Hatta dilahirkan di rumah ini pada tanggal 12 Agustus 1902. Beliau adalah anak dari Haji Muhammad Djamil dan Saleha, dan merupakah keturunan kedua dari Syech Batuhampar yang bernama Syech Abdurrahman. Bung Hatta tinggal di rumah ini dari tahun 1902-1913 sebelum pindah ke rumah baru di depan rumah ini. Walaupun relatif singkat, tetapi suasana dari kehidupan di rumah ini memberikan kenangan yang mendalam serta berperan besar dalam pembentukan watak beliau. Disiplin kerja, ketepatan waktu, kasih sayang yang dilihat Bung Hatta pada kehidupan rumah ini sebagian memberikan andil dalam proses pembentukan kepribadiaan beliau.

Kakek Bung Hatta yakni H. Marah yang dipanggil Pak Gaek pada masa kecil Bung Hatta, mengusahakan pengangkutan pos (kontraktor pos) dari Bukittinggi, Lubuk Sikaping terus ke Sibolga (Memoar Bung Hatta, hal.6-8). Sebagai kontraktor pos partikelir pada masa itu, Bung Hatta melihat cara kerja kakeknya dalam mempersiapkan segala kebutuhan pekerjaan tersebut. Ketepatan waktu, perawatan, teliti, disiplin kerja, organisasi yang baik, dan kasih sayang yang ditunjukkan Pak Gaek, memberikan pengalaman yang berbekas di pikiran Bung Hatta. Dikatakan juga bahwa kolam (tabek), kereta kuda, kandang kuda dan suasana lingkungan merupakan hal yang memberikan kesan kepada beliau.

Bung Hatta menimba pendidikan sekolah dasarnya di Europese Lagere School (ELS) di Bukittinggi. Di Meer Uitgebreid Lager Orderwijs (MULO, sekarang SMP 1, Padang) dan Prins Hendrikschool (PHS) di Batavia. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda (1921-1932) pada Nederlandsche Handels-Hoogeschool, sekolah dagang tinggal di Rotterdam (Belanda).

Perjuangan Bung Hatta sudah dimulai sejak sekolah, yaitu bersama teman-teman seperjuangan mendirikan Jong Sumateranen Bond, baik di Padang maupun di Batavia, dan perjuangan ini dilanjutkan di negeri Belanda. Melalui organisasi 'Perhimpunan Indonesia (PI)' yang kemudian menjadi organisasi politik yang sangat diperhitungkan oleh Belanda dan organisasi internasional.

Begitu dianggap berbahaya, tokoh Bung Hatta bagi Belanda dan Jepang dalam memperjuangkan kemerdekaan, maka beliau harus menderita dalam pengasingan antara lain ke Digul, Banda Naira, dan Bangka.

Karena begitu beratnya perjuangan untuk kemerdekaan, beliau bertekad dan menyatakan bahwa dia baru akan menikah setelah Indonesia merdeka. (Hal ini terbukti Bung Hatta baru menikah setelah kemerdekaan RI). Perjuangannya diteruskan dalam berbagai bentuk sampai akhir hayatnya tanggal 14 Maret 1980. Saat ini beliau dikenang sebagai salah seorang Proklamator Kemerdekaan dan Pendiri Republik ini (the founding father).

Pembangunan Kembali Rumah Kelahiran Bung Hatta
Gagasan pembangunan kembali (rekonstruksi) rumah kelahiran Bung Hatta ini bermula dari Ketua Yayasan Pendidikan Wawasan Nusantara (sekarang bernama Yayasan pendidikan Bung Hatta) yang mengelola universitas yang memakai nama besar Bung Hatta. Setelah sekian lama tertunda baru pada bulan September 1994, lahan rumah tersebut dapat dibebaskan oleh pemerintah daerah kota Bukittinggi.

Pada bulan November 1994 sampai dengan Januari 1995 dimulailah penelitian untuk mendapatkan bentuk rumah yang akan dibangun. Didasarkan kepada foto yang ada dalam memoar Bung Hatta (hal. 7) dan beberapa foto yang masih disimpan oleh keluarga, maka mulailah menginterpretasikannya kedalam gambar perencanaan.

Rumah Bung Hatta yang terbuat dari struktur kayu diperkirakan dibangun tahun 1860-an dan mengalami masa pasang surut secara fungsi dan fisik karena sudah tua dan runtuh pada tahun 1960-an. Sebelum dibeli oleh Haji Sabar, bangunan belakang rumah tersebut masih berfungsi dan dihuni oleh beberapa keluarga secara bergantian.

Pelaksanaan pembangunan baru dimulai pada tanggal 15 Januari 1995 dan diresmikan pada tanggal 12 Agustus 1995, yang bertepatan dengan hari kelahiran Bung Hatta dan peringatan 50 tahun Indonesia Merdeka. Pembangunan rumah ini menghabiskan 266 meter persegi sasak dari batuang (bambu) yang didatangkan khusus dari Batusangkar, 525 meter persegi tadir pariang dari Payakumbuh, 75 meter persegi kayu banio tampuruang dari Muara Labuh, kayu ruyuang, 1.600 zak Semen Indarung, 336 meter persegi pasir pasang, 138 meter persegi batu kali dari Padang Tarok, 25.000 buah batubata dari Payakumbuh serta material pendukung lainnya.

Untuk kelengkapan rumah seperti kunci-kunci, grendel, dan tiang kuno didapat dari berbagai pihak dan masyarakat sekeliling sehingga tampilan rumah ini mendekati aslinya.

Kelengkapan Rumah Kelahiran Bung Hatta
Untuk mengembalikan suasana lalu, rumah ini juga dilengkapi dengan peralatan seperti tempat tidur (kui) kuningan dari Inggris, kero hitam (tempat tidur hitam), tempat tidur ukir yang digunakan oleh Bung Hatta serta perabotan lainnya seperti kursi, meja dan beberapa koleksi foto serta lukisan yang berasal dari pihak keluarga.

Penataan lanscape luar rumah diusahakan seperti suasana awalnya, seperti dengan ditanamnya tiga pohon jambak di bagian depan rumah, murbai di depan kapuk (bagian belakang rumah), dan pohon sawo di depan istal.

Untuk tanaman pendukung lainnya ditanam beberapa tanaman yang sudah mulai jarang ditemukan pada saat ini seperti tetehan, bungo kuniang, adam dan hawa, pinang rajo, kaladi aie dan tanaman hias lainnya.

Pelaksanaan pembangunan rumah ini didukung oleh tenaga tukang sebanyak 40 orang, ditambah dengan tukang khusus untuk bangunan kapuk dan penanam tanaman.

Sebagai sebuah rumah yang sarat dengan kandungan sejarah, secara umum rumah ini juga dapat menggambarkan dan menceritakan suasana masa lalu tentang teknologi pembangunan rumah, situasi dan kehidupan masyarakat masa lalu dan khususnya kehidupan keluarga besar Bung Hatta. Untuk masa yang akan datang, bangunan ini sangat berguna untuk misi pendidikan, sejarah serta objek wisata.

Sumber: Brosur 'Museum Rumah Kelahiran Proklamator Bung Hatta'. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Bukittinggi, Sumatera Barat.

 

Alamat:
Rumah Kelahiran Bung Hatta Proklamator RI
Jalan Soekarno-Hatta No. 37
Bukittinggi

Jam Kunjungan:
Senin - Minggu, mulai pukul 08.00

Tiket:
Sumbangan

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.