Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Museum Negeri Sonobudoyo, Yogyakarta, memiliki koleksi genta pemanggil dewa.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Nasional, Jakarta

 

Rumah Kelahiran Bung Hatta

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


Hatta_Rumah2.jpg

RUMAH KELAHIRAN BUNG HATTA

Bukittinggi, Februari 2012. Enaknya di Bukittinggi awal tahun begini adalah makan durian di Kampung Tengah Sawah, tak jauh dari Jam Gadang. Satu hanya sepuluh ribu. Aku belinya durian di lapak Bu Anis persis di depan Surau Inyik Djambek, tempat Bung Hatta semasa kecil belajar mengaji di malam hari.

Di tengah aroma durian itulah imajinasi melalang dunia si Bung semasa kecil di surau ini, '...Aku cepat belajar mengetahui huruf Arab, cepat pandai membaca Juz Amma, yang diajarkan dengan menghafalkan sekali, tetapi berlagu aku tak pandai. Payah guru-tua mengajar aku berlagu, tetapi iramanya salah selalu. Akhirnya aku boleh membaca dengan hampir tak berlagu. Sering sekali aku ditertawakan oleh kawan-kawan yang semuanya seumur dengan aku, tetapi aku terima saja kekuranganku itu terhadap mereka.' Ouh...bisa dibayangkan itu. Laki-laki yang selalu begitu serius tapi juga begitu memikat. Memang tak pandai berlagu dia tapi pandai hidup bersih lahir dan batin.

 

Hatta_Makam.jpg

MAKAM SYEKH ABDURRAHMAN, BATUHAMPAR

Sudah sampai di Bukittinggi, tentu tak akanlah terlewati Rumah Kelahiran Bung Hatta di Kampung Pasar Bawah. Manalagi gampang dicapai dari Jam Gadang. Tinggal mengikuti saja Jenjang Ampat Puluh Ampat turun ke bawah. Tapi tempat yang benar-benar kutuju pertama adalah Batuhampar, sebuah desa di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Dikisahkan Bung Hatta, '...tempat ayahku dilahirkan ialah sebuah kampung yang tidak jauh letaknya dari Payakumbuh.’

Utamanya adalah karena dimakamkan di Batuhampar ulama besar Syekh Abdurrahman (1783-1899), kakek Bung Hatta. Aku memang seketika tertarik saat menemukan Bung Hatta mengisahkan pokok ajaran Syekh Abdurrahman, ‘...Allah tidak kekurangan suatu apa pun, tidak kurang hormat, tidak kurang kebesaran, tidak ingin disembah dan dipuji. Sembah dan pujian kepada Allah tidak lain maksudnya daripada didikan kepada diri sendiri, supaya menjadi orang yang baik dan cinta kepada yang benar yang ditunjukkan Allah, kepada yang adil dan jujur, serta kasih antara sesama manusia.’ Serasa untuk pertama kalinya mendengar seseorang akhirnya berucap dengan langsung menukik kepada esensi agama.

 

Hatta_Istal.jpg

KANDANG KUDA

Pulang dari Batuhampar itulah aku berlenggang ke Rumah Kelahiran Bung Hatta atau tepatnya Replika Rumah Kelahiran Bung Hatta. Didirikan di atas lahan rumah tua pernah berdiri. Dua kali aku ke sini untuk menikmati dari teras di lantai dua, ‘...pemandangan yang indah atas dua gunung sejoli, Merapi dan Singgalang, seolah keduanya berdiri sedang berbimbing tangan.’ Maupun berbagai hal yang dikisahkan dalam Untuk Negeriku, Sebuah Otografi (seluruh kutipan dicuplik dari memoar ini) seperti kali kecil yang mengalir di sebelah kiri pekarangan rumah, jembatan ‘bersejarah’, kandang yang memuat 18 ekor kuda, tebat ikan kaluih di belakang rumah, rel kereta api di muka rumah.

 

Hatta_Ruang_Tamu.jpg

RUANG TAMU

Semasa kecil di Bukittinggi, Bung Hatta tinggal bersama ibu, kakek-nenek, dua paman (Mamak Idris dan Saleh), kakak kandung Rafi'ah, dan para pelayan. Tentang Pak Gaek (kakek) yang bergerak di bidang usaha pengangkutan pos, dalam memori Bung Hatta, ‘Semua pembantunya sampai kepada pelayan dan tukang kuda diperlakukan sama, ‘Kita sama-sama manusia,’ begitu sering ia berkata kepada anak-cucu.' Tentang Mak Gaek (nenek), ‘..seorang perempuan yang tegas, keras hati, dan teliti kerjanya, selalu menghendaki pekerjaan yang rapi.’

Diantara foto-foto di dinding sia-sia aku mencari sosok Syekh Arsjad yang dilukiskan, ‘Air mukanya yang jernih selalu, yang mencerminkan jiwa yang murni, kata-katanya yang selalu mendidik ke jurusan berbuat baik, ramah-tamahnya kepada segala orang...’ Beliau adalah paman tertua dari pihak ayah yang dipanggil Ayah Gaek oleh Bung Hatta, ‘Sikap beliau itu sangat menakjubkan aku. Di situlah aku belajar bagaimana mesti hidup dan bergaul secara Islam,’ dan diceritakan dalam berbagai kesempatan oleh Bung Hatta dalam memoar.

 

Hatta_Bukit_Barisan.jpg

BUKIT BARISAN DARI TERAS BELAKANG

Rumah Kelahiran Bung Hatta terdiri dari sebuah bangunan utama bertingkat dua. Kamar bujang dan kedua pamannya di lantai satu. Kamar lahir Bung Hatta di lantai dua. Dari teras sini kita bisa melihat sepasang gunung di awal memoar Bung Hatta, ‘Aku dilahirkan di Bukittinggi pada tanggal 12 Agustus 1902. Bukittinggi adalah sebuah kota kecil yang terletak di tengah-tengah dataran tinggi Agam. Letaknya indah di ujung kaki Gunung Merapi dan Gunung Singgalang...,' sedangkan dari teras belakang, 'dan di sebelah utaranya kelihatan pula melingkung cabang-cabang Bukit Barisan.'

Di belakang bangunan utama terdapat dapur, kamar bujang, kamar mandi, kolam ikan, kandang kuda, lumbung, pohon murbei, dan aneka tanaman yang menyegarkan mata. Sebatang manggis mulai tinggi di samping kandang kuda. Sekali waktu aku lihat ramai bondol tunggir-putih bertengger dan ramai-ramai bersahutan di dahannya.

Sebuah buki atau bendi kecil parkir di dekat kandang kuda. Aku diberitahu jika itu buki yang ada di foto Bung Hatta umur sepuluh tahun saat hendak ke sekolah. Bisa jadi itu salah satu buki yang dimiliki keluarga tetapi aku kira itu bukan buki yang dinaiki Bung Hatta saat difoto. Teliti beberapa hal, diantaranya poros dan asesoris kuda seperti penutup mata maka kita akan menemukan perbedaannya.

 

Hatta_Kamar_Kelahiran.jpg

KAMAR KELAHIRAN BUNG HATTA

Satu yang terasa kurang adalah foto-foto karya Bung Hatta. Semasa mahasiswa, saat liburan Bung Hatta sering berjalan-jalan dan mengabadikan negara-negara Eropa dengan kamera kodak kecil ‘...banyak foto yang kubuat.’ Apalagi ternyata Bung Hatta sangat suka mengunjungi museum. Dalam memoar saat di Berlin, ‘...waktu lima hari itu habis dipakai untuk melihat gedung-gedung yang bersejarah, termasuk Reichstag – Dewan Perwakilan Rakyat – universitas dan beberapa musea...’ Lalu di Wina, '...Mula-mula melihat museum yang terpenting..’ Lalu Paris (1923), ‘Dengan Sastromoeljono aku dapat pergi bersama-sama ke Hotel des Invalides, makam Napoleon dan ke sebuah museum lukisan-lukisan yang kesohor...’

 

Hatta_Depan.jpg

RUMAH KELAHIRAN BUNG HATTA

Tadinya Bung Hatta bagiku tak lebih dari seorang wakil presiden pertama. Kemudian aku mulai mendengar kisah Bung Hatta dan sepatu Bally. Syukurlah kemudian terbit buku memoar/autobiografi sehingga berbagai hikmah, inspirasi, pelajaran hidup bisa ditimba dari sosok Bung Hatta. Dari situlah jika aku ditanya apakah boleh mengucapkan 'Selamat Natal' jika kita memeluk agama yang berbeda, aku akan menceritakan suatu hari dalam hidup Bung Hatta.

Saat liburan Natal pertama, Bung Hatta diajak Dahlan Abdullah keliling Eropa. Mula-mula mereka mengunjungi Jerman. Di sini mereka menyewa kamar di keluarga Jachnik di Papendamm No. 23. Pada malam Natal, Bung Hatta dan Dahlan bahkan menghadiahi kue natal untuk keluarga Jachnik dan sebuah keretaapi mainan yang dapat berjalan sendiri di relnya untuk si bocah, ‘Mereka gembira sekali dan sangat berterima kasih...’

 

Selamat Tahun Baru 2014

 

 

Tanggal Terbit: 05-01-2014

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.