Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Prasasti Gajahmada beraksara dan berbahasa Jawa Kuno. Berisi tentang catatan meninggalnya Paduka Bhatara Sang Lumah ri Siwa Buddha, yaitu Raja Kertanegara, pada bulan (masa) Jyestha tahun 1214 Saka, dan peresmian sebuah 'Caitya' oleh Sang Mahamantrimukya Rakryan Mapatih Mpu Mada pada bulan Waisaka tahun 1273 Saka untuk memperingati gugurnya Paduka Bhatara (Museum Nasional, Jakarta).

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum UGM, Yogyakarta

 

Balai Penyelamatan Mpu Purwa

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


Mpu_Purwa_Arca.jpg

KOLEKSI BALAI PENYELAMATAN MPU PURWA

Meski tertulis alamat di Jalan Soekarno-Hatta namun Balai Penyelamatan Mpu Purwa tidak terletak persis di tepi jalan melainkan sekitar 300 meter dari gerbang Institut Pertanian Malang. Pintu masuk museum tidak melalui gerbang utama tetapi beberapa meter setelah gerbang. Halaman museum yang luas ditumbuhi aneka pepohonan dan beberapa artefak seperti makara, lingga, dan arca Buddha Aksobhya asal kompleks Percandian Singasari.

 

Mpu_Purwa_Brahma.jpg

ARCA BRAHMA, SINGASARI

Di lantai keramik teras museum duduk arca Brahma di atas teratai merah, juga berasal dari Singasari. Walaupun wajah sang dewa sudah aus tetapi keanggunan arca setinggi 159 cm masih tampak dari prabhamandala yang dihiasi motif lidah api, sirascakra motif pinggir awan, teratai di sisi kanan-kiri arca. Selain Brahma yang berarti sumber dari semua yang ada, sang dewa juga dipuja dengan nama Swayambhu yaitu pencipta yang tak terciptakan dan Pitamaha sang kakek moyang.

 

Mpu_Purwa_sengkala.jpg

RUANG PAMERAN

Sepasang Dwarapala di kanan-kiri pintu masuk ruang pameran, 'Sesuai dengan namanya, Dwara berarti pintu dan Pala berarti penjaga/penguasa (Suwardono, 2004).' Di tengah adalah replika arca Prajnaparamita yang terkenal dari Singasari. Arca asli disimpan di Museum Nasional adalah karya seni yang sangat ulung. Di atas pintu masuk tergantung papan sengkala Guna Paramita Acintya Bhakti yang menandai tahun pembangunan Balai Penyelamatan Mpu Purwa yaitu 2003 dan menyiratkan makna pengabdian yang tulus adalah sifat yang luhur.

 

Mpu_Purwa_Ganesha.jpg

ARCA GANESHA & PRASASTI PAMOTOH

Balai Penyelamatan Mpu Purwa hanya memiliki satu ruang pameran yang tertata rapi. Memang sekilas tampak sederhana. Sebagian besar koleksi berupa arca, diantaranya adalah Ganesha. Tidak duduk di atas teratai seperti umumnya tetapi di atas musaka, tikus kecil. Tapi bagaimana mungkin Ganesha mengendarai seekor tikus kecil. 'Hal tersebut tidak akan dapat dipahami secara riil. Oleh karenanya harus dipahami secara filsafat keagamaan yang mendasarinya,' demikian diterangkan label museum, 'Dalam bahasa Sanskerta, kata musaka diambil dari akar kata mus yang berarti mencuri. Seekor tikus secara diam-diam masuk kedalam barang sesuatu dan menghancurkannya dari dalam. Demikian pula halnya ego (keakuan) seseorang masuk kedalam jiwa dan akal pikiran tanpa disadari dan diperhatikan, itu secara diam-diam akan menghancurkan seluruh amal perbuatan dari yang bersangkutan. Hanya apabila ia dikendalikan oleh kebijaksanaan, ia dapat dimanfaatkan pada saluran yang berguna. Pengendali kebijaksanaan akal pikiran yaitu ilmu pengetahuan (dalam hal ini dewa ilmu pengetahuan adalah Ganesya).'

 

Mpu_Purwa_Prasasti.jpg

PRASASTI DANG HWAN HIWIL

Koleksi prasasti berupa Prasasti Dang Hwan Hiwil (Prasasti Dinoyo 2 bertarikh 773 Saka atau 851 M), Prasasti Muncang (944 M), Prasasti Kanuruhan (934/935 M), dan replika Prasasti Pamotoh (1198 M) berupa lempengan tembaga. Prasasti Dang Hwan Hiwil ditemukan di sebelah timur pertigaan Jalan Gajayana - MT Haryono saat dilaksanakan pekerjaan penggalian jalan. Karena dianggap menghalangi, bongkahan batu andesit sempat dihancurkan namun untung belum telanjur lebur ketika disadari dia adalah sebuah prasasti. Barangkali prasasti juga seperti manusia jika belum waktunya mati maka dia masih memiliki berkat untuk menemukan jalan hidup dan menunjukkan adanya.

Prasasti Muncang ditemukan di Desa Blandit-Wonorejo, Singasari mengenai penetapan sebidang tanah sebagai tempat suci untuk memuja Bhatara Sang Hyang Swayambhu di Walandit. Jadi semacam keppres di zaman sekarang yah.

 

Mpu_Purwa_Durga.jpg

DURGA MAHISASURAMARDINI

Dewi Durga atau Durga Mahisasuramardini nama lengkapnya adalah Sang Pembunuh Raksasa Asura Mahisa. Raksasa dalam arti musuh yang sangat tangguh yaitu Asura yang mampu mengobrak-abrik kahyangan para dewa. Siapakah Durga sesungguhnya. Aku hanya pernah mendengar dia menjelma dari energi atau kekuatan Wisnu dan Siwa yang menyatu dalam diri Dewi Parwati, diberkati dengan berbagai atribut dan senjata pemberian para dewa seperti trisula (Siwa), cakra (Krishna), pedang dan perisai (Kala), vajra (Indra), tombak (Dewa Agni), busur dan panah (Dewa Bayu), sangka (Dewa Baruna).

Meski Durga berhasil membunuh pasukan raksasa dan Asura Mahisa tetapi tidak tanpa pertempuran demi pertempuran yang dashyat. Tentu lalu kita akan membayangkan sebuah arca yang melukiskan suatu kemenangan yang gemilang. Sebaliknya justru arca-arca Durga di Jawa tidak terlihat sisa pertarungan akbar tersebut malahan (Durga 2009), 'The majority of Durga statues show a relaxed, serene figure without any traits of violence. Durga often smiles and has her eyes half-closed as in meditation.' Kenapa yah...

Koleksi arca Durga di Balai Penyelamatan Mpu Purwa terdiri dari Durga bertangan 8, 6, dan 4. Durga bertangan enam terutama menarik karena gaya pahatannya yang lemah gemulai seakan terdapat pengaruh kesenian Pala-India (Suwardono, 2004).

 

Mpu_Purwa_Ruang_Koleksi.jpg

BALAI PENYELAMATAN MPU PURWA

Koleksi Balai Penyelamatan Mpu Purwa berupa benda-benda cagar budaya dari zaman Kerajaan Kanjuruhan hingga Majahapit. Koleksi berasal dari benca cagar budaya yang selama ini dititipkan di Rumah Makan Cahyaningrat maupun perolehan melalui hibah dari berbagai instansi seperti Balai Pelestarian Arca Trowulan, Polwil Malang (Gedung Pakri), Gereja Kayutangan, maupun hibah perorangan. Ada juga yang berasal dari hasil sitaan Polsek Klojen.

Meski sederhana namun setiap koleksi dilabeli dengan baik dan pemandu Pak Sumantri sangat telaten. Banyak arca terlihat istimewanya setelah penjelasan Beliau. Terima kasih Pak Sumantri!

 

Referensi
Knirck-Bumke, K. dkk, 2009. Durga. Indonesian Heritage Society. Jakarta.
Suwardono, S., 2004. Mengenal Koleksi Bunda Cagar Budaya di Kota Malang Seri II. Pemerintah Kota Malang.

 

 

 

Tanggal Terbit: 12-01-2014

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.