Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Pelayaran orang-orang Makasar dan Bugis mulai abad ke-15 telah mencapai seluruh perairan Nusantara. Gambaran tentang luasnya daerah-daerah yang dikunjungi terlihat dengan jelas pada tulisan tentang hukum laut Amanna Gappa dan peta laut Bugis (Museum Sejarah Nasional, Jakarta).

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Kupu-kupu, Bantimurung, Sulawesi Selatan

 

Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


sasmitaloka_museum.jpg

MUSEUM SASMITALOKA
PANGLIMA BESAR JENDERAL SUDIRMAN

Liburan kenaikan kelas tahun kemarin (2013) anak-anak diboyong orangtuanya (alias si adik dan istri) ke Yogyakarta semua. Aku dijadikan pemandu. Hari pertama ramai-ramai kami ke Candi Borobudur, Pawon, Mendut. Mestilah dalam sekali kayuh karena candi2 terletak dalam satu garis seperti Alnitak, Alnilan, Mintaka di langit. Tiga bintang di sabuk Orion yang terlihat sejajar dari Bumi meski sebenarnya saling berjauhan hingga ratusan tahun cahaya jaraknya.

Di Borobudur anak-anak ditunjukkan relief favoritku di dekat tangga timur. Ukiran sebuah mahkota tanpa sosok buddha. Mengapa. Karena bukan dengan bola mata manusia akan melihat buddha melainkan hati yang bersih. Hm. Little Prince banget: You can only see things clearly with your heart. What is essential is invisible to the eye.

Lunch@Jejamuran lalu lanjut ke Museum Gunungapi Merapi. Saat cerah Gunung Merapi terlihat melatarbelakangi museum. Info dari Museum tentang Gunung Merapi: ...adalah gunungapi termuda diantara kelompok gunungapi di Jawa bagian selatan. Muda2 galak hee...

Hari kedua lanjut lagi kelayapan ke candi tapi kali ini ke arah matahari terbit: Sambisari, Sari, Prambanan, Plaosan, Kalasan. Kalasan adalah nama desa yang sudah ada sejak dulu. Candi Plaosan karena memiliki arca Bodhisatva Maitreya dan Samantabhadra yang jarang ada di candi lain. Sedangkan Prambanan jagoku adalah relief Kumbakarna, si raksasa dari Kerajaan Alengka. Meski di pihak Kurawa, toh tidak berperang karena Rahwana melainkan membela tanah airnya.

 

sasmitaloka_ruang_tamu.jpg

RUANG TAMU
MUSEUM SASMITALOKA PANGLIMA BESAR JENDERAL SUDIRMAN

Hari ketiga kami mengunjungi tiga museum sekaligus karena letaknya yang saling berdekatan, ialah Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman, Museum Biologi, Museum Ki Hajar Dewantara. Nah, berbicara tentang Pak Dirman maka sejarah akan mengingatkan kita kepada satu kata: gerilya.

Kisah gerilya bermula saat Belanda menyerang dan menduduki Yogyakarta (19 Desember 1948), ibukota Republik Indonesia pada waktu itu. Dalam sidang darurat kabinet diputuskan Bung Karno dan Bung Hatta tetap bertahan di ibukota. Meski dengan resiko ditawan Belanda namun bukan tanpa pertimbangan lain. Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam mengemukakan, 'Lagi pula, menurut T.B. Simatupang, bila Sukarno-Hatta ikut bergerilya, diperlukan pengawal yang sangat banyak untuk menjaga keselamatan mereka. Mungkin sampai satu batalion untuk mengawal Sukarno dan satu batalion buat menjaga Hatta. Kita tidak memiliki personel sebanyak itu khusus untuk keperluan tersebut. Tertawannya pemimpin kita oleh Belanda, di sisi lain membuat peluang untuk berunding selalu tersedia ketimbang berada di tengah rimba.'

Pada saat Agresi Militer II, Belanda berhasil menduduki Yogyakarta dan menawan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Jenderal Sudirman pun memimpin TNI melakukan perlawanan dengan taktik gerilya selama hampir tujuh bulan, '...berperang dan bertahan di desa-desa, gunung-gunung dan hutan belantara. Dengan pasukan-pasukan kecil di luar kota, dan terus menerus tanpa mengenal waktu dan lelah, kita menyerang pasukan-pasukan Belanda dimana saja mereka berada...' (Tjokropranolo, 1992).

Nah, titik pertama rute gerilya yang legendaris tersebut adalah Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman karena gedung yang dibangun pada tahun 1890 ini adalah kediaman Pak Dirman selama periode 1945-1948. Bagaimana rasa ada di sini.

 

sasmitaloka_have_fun.jpg

FUN@MUSEUM

Pastinya anak-anak enjoy banget di museum. Bermain-main dan bergaya dengan senjata seperti meriam AT, senjata mesin (Browning machine gun) yang pernah digunakan TKR saat Pertempuran Palagan Ambarawa (Desember 1945) dan water mantel yang dirampas dari Sekutu. Tak urung mereka cukup serius memperhatikan berbagai diorama dan koleksi dari replika bangsal tempat Pak Dirman dirawat hingga foto-foto dan rute gerilya. Aku tak bisa menahan senyum menemukan mereka juga mengamati Sumpah Prajurit dengan pandangan mata yang kencang tetapi setelah itu berlenggang pergi dengan santai yang nyata. Tanpa komentar. Tanpa bertanya apa-apa. Tak seperti sebelum-sebelumnya.

 

sasmitaloka_mobil.jpg

MOBIL YANG MENJEMPUT PAK DIRMAN
MEMASUKI YOGYAKARTA, 10 JULI 1949

Kenangan transportasi selama gerilya yang dipamerkan di Museum diantaranya adalah tandu. Pada saat Belanda melancarkan Agresi Militer II tersebut, Pak Dirman baru saja meninggalkan rumah sakit karena operasi paru-paru. Kedua, dokar yang pernah digunakan Pak Dirman saat di Gunung Kidul. Pada waktu itu tidak ada kuda sehingga dokar ditarik dan didorong oleh para pengawal. Ketiga adalah mobil yang digunakan untuk menjemput Pak Dirman di Prambanan saat perjalanan kembali di akhir gerilya. Pada tanggal 10 Juli 1949 itulah, untuk pertama kalinya Pak Dirman memasuki Yogyakarta dan disambut parade kemenangan perang gerilya.

Namun warisan terbesar jika boleh dikatakan demikian, adalah, '...warisan Soedirman yang sesungguhnya adalah kultur ketundukan Tentara Nasional Indonesia terhadap supremasi sipil dan pilihan-pilihan demokratis.' (Opini, Tempo, 12-18 November 2012)

 

sasmitaloka_foto.jpg

JENDERAL SUDIRMAN

Yogyakarta, 27 Juni 2013. Hal membahagiakan dalam hidup adalah mengenal orang-orang yang memiliki nilai. Di dalam kehidupan bangsa Indonesia, kita pernah memiliki tokoh seperti itu, yang membanggakan karena keindahan watak kesatria sekaligus kepemimpinan yang berbobot.

Satu diantara mereka adalah Jenderal Sudirman, diutarakan Tjokropranolo, '...rasa bangga karena saya dapat mengabdi kepada seorang Panglima Besar di Indonesia, yang dapat menjadi suri tauladan bagi seluruh bangsa Indonesia khususnya bagi jajaran ABRI. Terutama ketauladanan beliau selama memimpin TNI dalam tugasnya mendobrak kekuatan akhir penjajahan Belanda di Indonesia. Tugas tersebut dilaksanakan oleh beliau dengan ikhlas dan tanpa pamrih, dan semua itu dilakukan demi kejayaan Bangsa Indonesia di masa-masa selanjutnya.'

 

 

Tanggal Terbit: 26-01-2014

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.