Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Prasasti Gajahmada beraksara dan berbahasa Jawa Kuno. Berisi tentang catatan meninggalnya Paduka Bhatara Sang Lumah ri Siwa Buddha, yaitu Raja Kertanegara, pada bulan (masa) Jyestha tahun 1214 Saka, dan peresmian sebuah 'Caitya' oleh Sang Mahamantrimukya Rakryan Mapatih Mpu Mada pada bulan Waisaka tahun 1273 Saka untuk memperingati gugurnya Paduka Bhatara (Museum Nasional, Jakarta).

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Purbakala Sangiran, Sragen, Jawa Tengah

 

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


dwarapala.jpg

ARCA DWARAPALA, ABAD XII-XIV M
MUSEUM SONOBUDOYO, YOGYAKARTA

Pada tahun 1934 Java Instituut yang dipimpin oleh FDK Bosch memulai pembangunan sebuah museum di atas sebidang tanah pemberian Sri Sultan Hamengkubuwono VIII di bilangan alun-alun utara. Setahun kemudian Museum Sonobudoyo, artinya tempat budaya, berdiri. Koleksi museum mencerminkan perjalanan kebudayaan Jawa semenjak masa prasejarah, masa klasik, masa Islam hingga Bali. Sekarang museum dikelola oleh Dinas Kebudayaan, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Sono1_Pengenalan.jpg

RUANG PENGENALAN

Tiga ruang koleksi pertama ialah Ruang Pengenalan, Ruang Prasejarah, Ruang Klasik dan Peninggalan Islam. Di pintu Ruang Pengenalan terdapat sengkalan (susunan kata atau lukisan yang menunjukkan angka tahun; KBBI) atau kronogram Buta Ngrasa Hesthining Lata melambangkan tahun pembangunan museum, 1865 Jawa (1934 Masehi). Sedangkan sengkalan Kayu Winayang ing Brahmana Budha di gerbang menandai tahun peresmian museum, 1866 Jawa (1935 Masehi).

Ruang Pengenalan memperkenalkan secara singkat beberapa koleksi unggulan yang dimiliki Museum Sonobudoyo. Diantaranya Ruang Dewi Sri atau pasren berusia 2,5 abad, Genta Kalasan yang berbentuk stupa, dan yang unik wadah berbentuk bebek dari tempurung kelapa laut atau poh jenggi. Pohon kelapa laut adalah tumbuhan endemik Madagaskar yang berjarak satu samudera dari Indonesia. Kini kelapa laut ditanam di Kebun Raya Bogor.

 

Sono1_Dewi_Sri.jpg

ARCA DEWI SRI

Ruang Prasejarah menampilkan peninggalan masa prasejarah seperti replika kubur batu di Situs Kajar, Gunung Kidul, dan arca-arca megalitikum. Sebuah gebyog yang luar biasa memisahkan Ruang Prasejarah dan ruang pameran selanjutnya.

Ruang Klasik dan Peninggalan Islam memperkenalkan kekayaan museum melalui tema tujuh unsur kebudayaan universal yaitu sistem kemasyarakatan, sistem bahasa, sistem religi, sistem kesenian, sistem ilmu pengetahuan, sistem peralatan hidup, sistem mata pencarian hidup. Diantara koleksi sistem religi adalah arca Dewi Sri dengan setangkai padinya. Padi yang memberi kita nasi, tumbuh dari tanah bumi yang eksis tanpa konsep seperti kaya-miskin, kalah-menang.

 

Sono1_Batik.jpg

RUANG BATIK

Tiga ruang pameran selanjutnya memperkenalkan kekayaan budaya yang dikukuhkan UNESCO sebagai warisan dunia, yakni Ruang Batik, Ruang Wayang, Ruang Keris. Ruang Batik menyajikan aneka motif batik, cap batik yaitu alat cetak pembuat ragam hias batik, serta peralatan membatik yaitu canting, parafin, malam, tungku dan wajan, kipas, maupun proses pembuatan batik. Patung penari bedoyo Keraton Yogyakarta sudah tidak dipajang lagi.

Koleksi Ruang Wayang berupa Wayang Gedhog bersumber dari cerita Panji dari Kerajaan Kediri hingga Majapahit. Wayang Sadat bersumber dari Babad Demak dan Babad Tanah Jawi mengisahkan perjuangan penyebaran agama Islam oleh Wali Sanga. Wayang Wahyu bersumber cerita dari Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru.

Diantara koleksi Ruang Wayang Golek adalah wayang klitik cerita bersumber dari Serat Damarwulan (Babad Pajajaran sampai Majapahit), Wayang Golek Purwa Pasundan menceritakan kisah-kisah dari Mahabarata dan Ramayana, Wayang Dupara mengisahkan Majapahit hingga Perang Diponegoro.

Koleksi Ruang Topeng meliputi topeng cirebon cerita Mahabarata, topeng barong, topeng sabrangan (Madura), topeng bali, topeng yogyakarta cerita Panji.

Interior Ruang Batik hingga Ruang Topeng sekarang didominasi warna putih terang sehingga sebagian pengunjung mungkin akan bertanya apakah renovasi dilakukan dengan memperhatikan bahwa Museum Sonobudoyo dirancang oleh Thomas Karsten menurut konsep rumah bangsawan Jawa.

 

Sono1_Jateng.jpg

RUANG JAWA TENGAH

Ruang Jawa Tengah cukup leluasa menyajikan perabot meja, kursi, rana (penyekat ruangan) yang kaya dengan ukiran jepara dan kudus. Gebyog dari Kudus adalah yang paling menonjol. Lain-lain berupa maket rumah tradisional jawa, miniatur Candi Borobudur, miniatur tandu keluarga raja dan slanggan (alat angkut perlengkapan upacara).

Koleksi Ruang Emas berupa kerajinan dari kuningan dan perak seperti pedupaan, klintingan, pakinangan, blencong, ceret, aneka wadah. Tak ada emas yang dipamerkan. Kiranya tak terlepas dari faktor pencurian puluhan benda emas pada tahun 2010.

 

Sono1_bali.jpg

PATUNG PENARI KERIS

Salahsatu yang terbaik dari Bali di Museum Sonobudoyo adalah Bale Gede atau Bale Banjar. Sebuah balai di dalam kompleks Candi Bentar tempat diselenggarakannya musyarawarah maupun tempat upacara daur hidup. Sepasang patung kayu menjulang lebih tinggi dari rata-rata orang dewasa masing-masing menunjukkan raut suka dan duka sebagai lambang kelahiran dan kematian. Sayang sekali lumut dibiarkan subur menjalar. Jelas terlihat kerusakan yang telah ditimbulkannya di Bale Gede.

Ruang senjata memamerkan aneka senjata seperti clurit, gobang, pedang, pisau pengukir, senjata berpamor. Ruang Permainan Tradisional menyajikan alat-alat peraga permainan maupun foto-foto permainan seperti ancak-ancak alis, jamuran, cublak-cublak suweng. Paling raksasa adalah alat permainan adu kemiri yang berasal dari abad XVIII.

Terakhir adalah Ruang Bali, tak pelak dengan aneka ukiran dan pahatan yang ekspresif seperti patung Dewa Wisnu, penari keris, singa ambara, maupun jagat dewa-dewi yang misterius memikat. Tak ketinggalan peralatan ritual khas seperti janggawari yaitu tempat berstana para dewa atau leluhur, bajra atau genta, canting tirta untuk mengambil air suci, dan lain-lain

 

Sono1_museum.jpg

MUSEUM SONOBUDOYO

Sebelum meninggalkan museum aku mengarahkan kamera untuk foto-foto terakhir; bangunan tampak depan. Atap ternyata sudah berganti genteng merah. Sementara Thomas Karsten adalah insinyur yang menekankan atap sirap sebagai keistimewaan arsitektur bangunan Jawa tradisional. Pernah dia menulis kepada Mangkunegara VII tentang gagasan sang pangeran menggunakan genteng merah menggantikan atap sirap saat renovasi Dalem Prangwedanan, Istana Mangkunegaran, 'Penggunaan bahan-bahan berwarna mencolok pada bagian yang luas atau secara berkelompok sangat tidak berciri Jawa, dan bila tersorot terik cahaya matahari tropis, warna-warna itu akan terlihat jelek...'

 

 

Tanggal Terbit: 19-07-2014

 

 
  Copyright © 2009-2020 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.