Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Hari Museum Internasional diperingati pada tanggal 18 Mei sejak 1977. Tema Hari Museum Internasional 2014 adalah: Museum collections make connections.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Prangko Indonesia, TMII, Jakarta

 

Museum Sasana Wiratama

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


dip_monumen.jpg

MUSEUM MONUMEN PANGERAN DIPONEGORO
YOGYAKARTA

Rabu, 8/1/2014. Setelah makan siang ke Monumen Pangeran Diponegoro 'Sasana Wiratama' yang didalamnya terdapat Museum Monumen Pangeran Diponegoro. Jam 1-an waktu itu, matahari lagi terik-teriknya. Jalan kaki lewat Soragan, belok ke Jalan Demakan, belok lagi ke Wiratama. Niat banget hey! Yaa, Diponegoro adalah dunia pertanyaan-pertanyaan yang tak usai.

Kenapa orang ini kok tahunya kebanyakan kita sebatas eksistensi sebuah nama. Padahal bukannya gak belajar sejarah loh tapi kenapa gak ada yang nempel lagi di kepala. Benar banget Peter Carey di Asal Usul Perang Jawa menulis, 'Dipanegara lahir di Kraton Yogyakarta pada 11 November 1785...Tetapi berapa banyak rakyat Indonesia sekarang yang tahu akan tanggal lahir itu.'

 

dip_spanduk.jpg

SPANDUK PAGELARAN

Oy! ada spanduk Pertempuran Selarong di pagar museum. Ada pagelaran toh malam ini, Sang Pangeran: dari Tegalrejo ke Selarong. Karena orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing jadi aku jalan2 sendiri. Beberapa tahun lalu sudah pernah ke sini bareng si adik. Kompleks Monumen terdiri dari sebuah pendapa yang dikelilingi bangunan seperti museum, langgar, penginapan di bagian belakang; dibangun selama periode 1971-1972. Jadi bangunan di sini tidak datang dari masa Diponegoro.

Tapi asli di tanah ini dahulu kala Diponegoro dibesarkan di sebuah rumah yang dikelilingi taman, perkebunan yang luas, serta berhektar-hektar sawah mengalun hingga ke timur Kali Winongo. Kediaman Diponegoro lebih besar dibandingkan bangunan sekarang dan menghadap ke arah matahari terbit. Jadi Tembok Jebol yang diyakini sebagai tempat Diponegoro meloloskan diri ketika Tegalrejo (kediaman Diponegoro) diserang Belanda, 20 Juli 1825, adalah dinding belakang rumah.

 

dip_cycad_blue.jpg

KUPU-KUPU CYCAD BLUE@MUSEUM

Mojok di tangga kecil sepelemparan dari palungan tempat makan kuda dahulu. Seperti apa alam Tegalrejo masa itu. Pastilah karena sawah yang luas maka pemandangan sangat terbentang. Dari sebuah pematang di utara Tegalrejo setelah Jalan Tambak terhampar sawah yang tak terhalangi segala bangunan. Saat cerah sungguh spektakular pemandangan Merapi-Merbabu di pagi matahari terbit dengan riuh bondol kaji dan angin yang hilir-mudik. Seperti itu kiranya alam Tegalrejo dahulu kala. Kau juga kira begitu, Cycad Blue? Eeh, bukankah itu instrumentalia Sampek Engtay yang mengalir dari pendapa orang-orang menyiapkan pagelaran nanti malam.

 

dip_tembok_jebol.jpg

TEMBOK JEBOL

Malam ke museum lagi. Pentas pembacaan dramatik Sang Pangeran dimulai pukul delapan. Sutradara Landung Simatupang dalam pengantarnya, 'Dalam hal ini pergelaran Sang Pangeran: dari Tegalrejo ke Selarong mewujudkan upaya menyegarkan ingatan bersama tentang nilai historis warisan fisik yang sepatutnya dirawat lebih serius demi tanggung jawab terhadap generasi-generasi mendatang.'

Sebenarnya tak banyak warisan fisik yang tersisa karena ekspedisi yang dipimpin asisten residen PFH Chevallier untuk menangkap Diponegoro telah membumihanguskan tempat ini. Namun adalah di tanah ini Bendara Pangeran Aria Dipanegara, putra Sultan Hamengkubuwana III dididik oleh nenek buyutnya yaitu Ratu Ageng, seorang perempuan saleh yang merakyat. Adalah di Tegalrejo sang pemimpin karismatik Perang Jawa menetap selama 32 tahun (1793-1825) di tengah-tengah rakyat, santri, kiai terkemuka. Tumbuh dewasa sebagai ahli teologi Islam namun juga penilik pertanahan dan perkebunan yang cakap, pengelola keuangan yang handal, serta penasehat ayahnya dalam hal pemerintahan (Carey, 2001).

Seorang putra sultan yang menjalani kehidupan berbeda dengan kebanyakan bangsawan yang dibesarkan di keraton. Seorang pangeran yang terbiasa dengan aroma tanah dan sunyi. Sang pemimpin Perang Jawa besar di tempat ini.

 

dip_landung.jpg

PAGELARAN@MUSEUM

Jumat, 10/1. Ketemu Bungsu. Aku cerita ada Peter Carey di acara kemarin. Doktor sejarah, orang Inggris yang telah meneliti Diponegoro selama 30 tahun. Kenapa ya. 'Ada semacam misteri yang membuat saya sangat tertarik,' demikian pernah diutarakannya (Kompas, 1/11/2011). Diantara karya Peter Carey adalah terjemahan Babad Diponegoro dalam bahasa Inggris dan Indonesia-Melayu. Babad Diponegoro ditulis Diponegoro selama pengasingan di Manado, Mei 1831 - Februari 1832. Sekarang telah dikukuhkan UNESCO (20/6/2013) sebagai Memory of the World.

Diantara segala yang lucu di negeri ini ialah penerbit pertama Babad Diponegoro tak disangka-sangka ternyata Malaysia (Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society, 1981) karena ketika ditawarkan kepada pemerintah dan penerbit Indonesia, tidak ada responsnya (Malaysia Lebih Dulu Terbitkan Babad Diponegoro, Kompas, 4 Juli 2013).

 

dip_gerbang.jpg

MUSEUM MONUMEN PANGERAN DIPONEGORO

Sabtu, 11/1. Habis satu kilogram rambutan di perut, beberapa salak, sambil mikirin Tegalrejo dulunya menghasilkan berbagai produk pertanian; padi, sayur-sayuran, aneka buah. Setidaknya nama Tegalrejo masih digunakan sekarang sebagai nama kecamatan yang mencakup Kelurahan Bener, Karangwaru, Kricak, Tegalrejo. Tapi tak ada lagi sayur-sayuran dan buah-buahan. Adanya sawah yang semakin menyusut dan rumah yang kian menjamur.

Asalnya Tegalrejo dibuka oleh Ratu Ageng, eyang Diponegoro. Ada kisahnya di Babad Diponegoro, 'Sekarang kami bercerita tentang Ratu Ageng / betapa sering ia berselisih / dengan putra-putranya. / Maka ia minggat dan membuka lahan baru: / tanah-tanah telantar digarapnya, / (dan) lantas tinggal menetap di sana. / Jauh dari Kota Yogya. / Satu jam perjalanan (dengan kaki). / Ketika semuanya sudah siap / tempat itu disebut Tegalrejo ('Tanah Kemakmuran)...'

 

dip_halaman.jpg

MUSEUM MONUMEN PANGERAN DIPONEGORO

Rabu, 15/1, 14.30. Saat isya kemarin bulan masih menyunggingkan dirinya yang nyaris purnama. Tapi hujan turun juga tengah malam. Lalu sepanjang hari ini. Lebat, gerimis bergantian menyapa dan memberi sejuk. Sesaat reda aku singgah ke Monumen untuk memotret koleksi museum. Di halaman wangi kembang sawo kecil menyeruduk hidung. Berguguran ramai-ramai saling menemani hujan yang turun. Pohonnya menjulang mengapit jalan menuju pendapa. Seorang ibu di halaman belakang memberitahu pukul dua tadi orang-orang sudah pulang. Sebelum meninggalkan Sasana Wiratama aku ambil satu rambutan yang jatuh. Selalu manis buahnya ketika matang di pohon seperti ikhlas dalam penuhnya.

20 Juli 2014, 13.15. Minggu yang lengang. Tak ada pengunjung lain. Hanya sawo kecik yang berserakan di kaki pohon. Bunga kemarin sudah jadi buah. Semut-semut berpesta di sana. Staf museum ternyata sudah pulang. Pagi saja datangnya, sebelum jam 12, kemudian aku diberitahu.

 

Tanggal Terbit: 24-08-2014

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.