Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Agustinus Adisutjipto, Bapak Penerbang Indonesia, adalah penerbang pesawat berbendara Merah-Putih pertama setelah Indonesia merdeka. Pesawat Cureng yang diterbangkan tersebut sekarang dipamerkan di Museum Satriamandala, Jakarta.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Koleksi Museum Serangga dan Taman Kupu, TMII, Jakarta

 

Museum Sribaduga

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


Baduga_Museum.jpg

MUSEUM SRIBADUGA, BANDUNG

Mm. Dua saja pertanyaan. Pertama, kabupaten mana saja yang dikenal sebagai Priangan di zaman Belanda. Kedua, apakah Bosscha (nama dipakai Observatorium Bosscha, Lembang) adalah ahli astronomi. *Iyalah. Masak ahli teh*. Yooh cari jawab di Museum Sribaduga. Mangga...

 

Baduga_L1.jpg

RUANG PAMERAN

Museum Sribaduga memperkenalkan Jawa Barat di tiga lantai. Secara cermat dirancang agar tata pameran melukiskan perjalanan sejarah alam dan budaya Jawa Barat. Dimulai dari Lantai I terdiri dari Ruang Pengenalan, Sejarah Terbentuknya Daratan Pulau Jawa, Peta Wilayah Jawa Barat dari Masa ke Masa, Peta Migrasi Manusia dan Satwa, Tinggalan Sejarah Alam (Batuan), Flora, Fauna, Satwa Langka, Sejarah Budaya (Religi), Profil Manusia sebagai Aktor Pentas Budaya.

Peta Wilayah menunjukkan sekarang Jawa Barat tanpa Banten pun terdiri dari belasan kabupaten. Sedangkan Jawa Barat pada masa kolonial secara administratif hanya terdiri dari beberapa keresidenan seperti Bantam (Banten), Batavia (Jakarta), Buitenzorg (Bogor), Cheribon, Preanger (Priangan).

 

Baduga_Paus.jpg

RUAS TULANG BELAKANG PAUS

Koleksi seru di Lantai I adalah fosil ruas tulang belakang ikan paus ditemukan dalam batugamping berumur 15 juta tahun di Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Bandingkan marga Homo muncul 2,5 juta tahun lalu. Berarti saat paus ini masih hidup bahkan manusia paling purba pun belum ada di muka Bumi. Bahkan perjalanan menuju manusia purba masih belasan juta tahun lagi. *Gosh!* Bumi yang sangat sabar...

Penemuan paus mengungkapkan bahwa Tatar Sunda suatu ketika pernah menjadi lautan. Malahan berangkat dari daratan kala eosen tengah (56 juta tahun yang lalu), lalu sebagian menjadi lautan kala miosen (23-5 juta tahun yang lalu), dan daratan lagi kala plistosen hingga sekarang. Menurut guru besar paleontologi ITB, Yahdi Zaim, Surade merupakah satu-satunya lokasi penemuan fosil paus di Indonesia.

 

Baduga_Pawon.jpg

REPLIKA GUA PAWON

Jika Anda tertarik manusia purba maka replika Gua Pawon akan menambah betah. Lengkap dengan kerangka Homo sapiens ras Mongloid yang diperkirakan hidup antara 5600-9500 tahun lalu. Aslinya gua terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung.

 

Baduga_Confucius.jpg

 

HIOLO ATAU BEJANA DUPA

 

Ayoo lanjut ke Lantai II. Pameran dikategorikan menurut Peralatan Hidup, Bahasa, Sistem Pengetahuan, Religi. Satu yang cute dari koleksi Religi adalah hiolo atau bejana dupa berukir triodewa yang kondang banget dalam jagat kepercayaan timur. Namun apakah ekshibisi ini cukup menggambarkan agama Konghucu.

 

Konghucu pernah suatu ketika ditanya muridnya adakah satu saja kata yang dapat menjadi tuntunan seumur hidup. Sang Guru menjawab bukankah kata tersebut adalah 'resiprok (恕)' lalu menjabarkannya dalam delapan kata yang sangat terkenal. Yakni segala yang kita tidak ingin dilakukan terhadap diri maka jangan lakukan terhadap orang lain (己所不欲 勿施於人). Atau suatu ketika Konghucu berujar bahwa isi seluruh Shijing (salah satu kitab dalam ajaran Konghucu) bisa diringkas oleh tiga kata yaitu pikir tidak (yang) jahat (思無邪). Oleh sebab itu Konghucu justru memberiku kesan agama yang tidak ribet dan tidak begitu ritualistik.

 

Baduga_Kelas.jpg

RUANG KELAS ABAD XIX-XX

Di Lantai II, beberapa diorama mengisahkan suasana kelas di sekolah bumiputra abad XIX-XX lengkap tas dan kaca mata pak guru, diorama busana santana, diorama busana menak. Tiga kelompok sosial pada masa kolonial adalah menak (bangsawan), santana (kelas menengah), samah.

Penemuan paling menggemaskan adalah ternyata bentuk atap rumah pun memiliki nama. Keren banget lagi. Lengkap lagi dengan miniatur rumah. Gak cuman foto. Jajal nih: julang ngapak (burung mengepakkan sayap), badak heuay (badak menguap *whoa bisa dibayangkan*), parahu kumureb (perahu terbalik). Ckk! *kaguumeuy*

 

Baduga_Scale.jpg

KOLEKSI TIMBANGAN EMAS

Lanjut ke Lantai III. Setelah revitalisasi museum tentu terasa segar meski tidak terlalu stunning. Koleksi dikategorikan menurut Mata Pencaharian, Teknologi, Kesenian, Sejarah Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Pojok Wawasan Nusantara, Pojok Bandung Tempoe Doeloe.

Jagat Kesenian memikat dengan aneka instrumen seperti gamelan degung, tarawangsa, karinding. Jika saja dilengkapi audio untuk menciptakan suasana silir khas tanah Priangan. Dunia wayang diwakili wayang golek dan beber. Eit, beber euy. Dari mana tah asal wayang beber.

 

Baduga_Teh.jpg

DIORAMA PERKEBUNAN TEH

Diorama Perkebunan Teh di Lantai III memperkenalkan berbagai jenis daun teh, juga mengisahkan sejarah teh di Indonesia secara singkat. Semula (1648) teh ditanam sebagai tanaman hias di sekitar Stadhuis (balai kota), Batavia. Delapan dekade kemudian biji teh dan petani teh dari Tiongkok dibawa VOC ke Jawa. Paling spektakuler adalah pada masa Gubernur Jenderal Hindia Belanda J. van den Bosch menjalankan sistem tanam paksa (cultuurstelsel), J.I.L.L Jacobson (1833) menyelundupkan jutaan biji teh dari Tiongkok lengkap dengan 15 petaninya untuk dipekerjakan di kebun percobaan Wanayasa, Purwakarta. Wkwk...

Namun ternyata bibit selundupan tidak tumbuh dengan baik sehingga didatangkan lagi biji teh dari Assam, India.

 

Baduga_Nama.jpg

MUSEUM SRIBADUGA

Ruang pameran di lantai I, II, dan III tentu masih memiliki banyak lagi koleksi. Hanya beberapa yang dipilih untuk diperkenalkan disini. Ada kalanya tidak dengan pertimbangan mewakili koleksi terbaik dari museum melainkan subjektif alias yang menarik perhatian orang yang cerita. Oleh sebab itu jika Anda tidak merasa koleksi yang dikisahkan di sini mengesankan, semoga tidak lantas menganggap museum tak menarik. Ehipasyika dari Sanskerta, artinya datang dan saksikan sendiri. Museum selalu jauh lebih luas daripada yang bisa diceritakan oleh satu atau dua A4. Selamat berkunjung. Semoga menikmati hari yang menyenangkan.

 

Tanggal Terbit: 23-09-2014

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.