Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Diperkirakan lebih dari tiga juta kapal karam yang saat ini ada di dasar laut di seluruh dunia (Galeri Arkeologi Maritim, Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta).

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Makam Jan Pieterszoon Coen dan Gubernur Jenderal VOC Lainnya
Museum Wayang, Jakarta

 

Museum Sejarah Purbakala Pleret

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


Pleret_Padangan.jpg

DUKUH PADANGAN, BANTUL

Seorang laki-laki pembuat batubata leyeh-leyeh di rindang pohon johar. Dia yang beritahu aku nama daerah itu Padangan. Puluhan rumah beratap daun tebu di kanan-kiri jalan. Beberapa mengepulkan asap. Hasil bakaran sekam untuk bikin batubata.

Bau sangit asap membuat ratusan tahun kehilangan jarak.

Menjelang pertengahan abad ke-17, Sultan Agung wafat di Keraton Kerta dan Mangkurat I naik tahta. Dia perintahkan rakyat untuk bikin batubata. Raja baru mau buat keraton baru di Pleret. Berikut segala ikutannya. Pada tahun 1648, Pleret pun menjadi kedudukan Mataram selama hampir empat windu.

 

Pleret_Museum.jpg

MUSEUM SEJARAH PURBAKALA PLERET

Sekarang adalah nama kecamatan seluas 23 kilometer persegi di Kabupaten Bantul, DIY. Punya Museum Sejarah Purbakala Pleret. Sekitar dua kilometer dari timurnya Perapatan Wonokromo di Jalan Imogiri Timur. Koleksi yang dilabeli asal Keraton Pleret hanya berupa tiga koin tahil dan sejumlah mata uang Tiongkok Kuno. Selebihnya adalah Peta Rencana Pengepungan Keraton Pleret Tahun 1826, Peta Situasi Keraton Pleret, Peta Kuno Keraton Pleret, dan foto Makam Gunung Kelir.

Bangunan keraton memang sudah lama runtuh. Pertama karena serangan Trunajaya, 1677. Mangkurat sampai melarikan diri dan meninggal dua minggu kemudian. Kedua, Belanda menyerang Pleret yang merupakan salah satu markas pasukan Diponegoro, 1826. Ketiga, perusahaan Belanda mendirikan pabrik gula di Situs Pleret, 1862. Keempat, pabrik dibumihanguskan pada masa Agresi Militer II. Kelima, pemukiman, sawah, industri batubata berkembang di kawasan situs.

Menurut Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta (2005) adanya sekarang di Situs Pleret adalah fondasi Masjid Gedhe Pleret, fondasi benteng, tapak keraton, sisa-sisa tanggul tanah, dan toponim kampung.

 

Pleret_Arca_Dewi.jpg

FOTO ARCA DARI PUNDONG

Hari langit biru itu, setelah museum aku lanjut ke Candi Gampingan. Belok ke arah timur setelah pom bensin Jalan Pleret. Tidak banyak candi dikenal di Bantul. Meski koleksi museum mengungkap artefak Hindu-Budha ditemukan setidaknya di 10 dari 17 kecamatan di Kabupaten Bantul.

Arca-arca batu ditemukan di Kecamatan Pajangan (Agastya), Piyungan (Jambhala), Pleret (Durga), Pundong (arca Mandala Vajradhatu), Sanden (Agastya), Sewon (Ganesha). Di Kecamatan Banguntapan ditemukan wadah peripih di Desa Potorono, serta kemuncak, antefiks, padma di Desa Baturetno. Genta pendeta berasal dari Kecamatan Bantul dan yoni asal Jetis. Sejumlah perhiasan emas dan perunggu ditemukan oleh Pak Mujiyono (1993) seorang petani di Imogiri ketika mencangkul tanah.

Ada Ganesha yang Hindu, ada Jambhala yang Budha. Ada Agastya, Durga, yoni, dan sisi lain Mandala Vajradhatu. Seperti apa masyarakat yang mengandung beda agama di abad kedelapan, sembilan. John Miksic (Borobudur, 1997) berpendapat, 'Religion has never been a source of contention of conflict among the Javanese.' Sebuah warisan dari peradaban Hindu-Budha dalam sejarah Indonesia.

 

Pleret_Candi.jpg

CANDI GAMPINGAN

Setelah jembatan Kali Kuning, Candi Gampingan sudah dekat tapi jalan desa yang penuh simpang adalah medan yang menantang. Arca Vairocana mungil dari perunggu yang dipamerkan berupa foto di Museum Pleret ketemunya di sini. Juga arca Jambhala, 1997. Candi sendiri diperkirakan dari abad IX Masehi.

Berdasarkan informasi Museum Pleret, 'Candi Gampingan merupakan sebuah kompleks candi budha. Lima bangunan berderet-deret utara-selatan adalah stupa satu, candi induk (4,65 meter persegi), stupa dua, bangun persegi, struktur sudut bangunan dengan sebuah peripih.'

Sekarang tinggal batur dan kaki candi yang dihiasi relief burung dan katak. Toh imajinasi menolak sepi jadi lahirlah visi.

 

Pleret_Jambhala.jpg

ARCA JAMBHALA

Karena belum tahu candi dengan Jambhala sebagai arca utama maka cari ke India, negeri asal Jambhala. Situs Arkeologi Ellora, India, terkenal dengan 34 gua monumental yang terbagi sebagai kuil dan vihara Budha, Hindu, Jain. Seluruhnya menghadap ke arah barat. Dibangun pada abad VI-IX Masehi.

Di Ellora memang ketemu Jambhala. Dalam formasi bersama Manjusri mengapit Avalokitesvara (Gua 6) dan formasi Jambhala-Avalokitesvara-Tara (Gua 12). Apakah demikian formasi arca yang pernah ada di Candi Gampingan.

Lalu seperti apa interior candi. Aku menjagokan model Pawon karena juga sebuah candi yang so mungil. Dengan demikian bisa dibayangkan relung di dinding kanan-kiri arca ditempati Jambhala dan Manjusri/Tara. Sedangkan Sang Avalokitesvara bertahta di tengah-tengah. Dari sana menatap senja matahari tenggelam, dan denting genta bikhu tua mendaraskan puja penutup hari. Di belakangnya sramanera kecil rindu kampung halaman, capung hijau yang dulu ditangkapnya dengan getah nangka. Ah, bocah perempuan berambut lusuh yang acap disuruh antar nangka, sudah tujuh hari tidak kelihatan.

 

Pleret_Museum_bangunan.jpg

MUSEUM SEJARAH PURBAKALA PLERET

21 Desember 2014. Begitulah hasil perjalanan hari ini, bro-ensis. Yeah! Yogyakarta sudah hujan. Kupu-kupu emigran juga sudah beterbangan. Tajuk kersen yang terutama jadi sasaran. Kerlap-kerlip di sana seperti bintang kepakkan sayap. Adalah mereka yang mengantar berkat dari surga. Untuk setiap hati yang punya cinta. Itu yang sekali pernah aku dengar.

 

Tanggal Terbit: 22-02-2015

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.