Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Meteorit Jatipengilon, jatuh pada tahun 1884 di dekat Madiun, Jawa Timur, sekarang disimpan di Museum Geologi, Bandung. Sebagian fragmen kecil disimpan di Museum national d'Histoire naturelle, Paris; Museum for Naturkunde, Berlin; National Museum of Natural History, Washington; Harvard University; Max Planck Institute, Mainz, Jerman; Geological Survey of India, Calcutta, dll.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Sandi, Yogyakarta

 

Museum Mahameru Kabupaten Blora

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


Blora_Museum.jpg

MUSEUM MAHAMERU KABUPATEN BLORA

Blora, 7 Februari 2014. Matahari hanya tersisa 2-3 jam lagi sebelum konstelasi Gemini terbit. Toh sempat juga hari ini menikung ke museum di Taman Tirtonadi. Bernama lengkap Museum Mahameru Kabupaten Blora, berdiri di tengah riuh rindang daun-daun pohon glodogan di tepi Jembatan Kaliwangan. Museum sendiri menempati bangunan berlantai dua yang relatif sederhana dengan aneka koleksi asal Kabupaten Blora. Dari pecahan batu meteor yang jatuh di Desa Menden hingga arca-arca asal abad X-XIII temuan penggarap sawah Desa Kamolan di kedalaman satu meter.

 

Blora_Kerbau.jpg

KOLEKSI PALEONTOLOGI

Koleksi paleontologi terdiri dari fragmen fosil gajah purba, maupun kerbau purba yang merupakan nenek moyang banteng jawa dan kerbau sekarang. Kabupaten Blora memang kondang sebagai salah satu daerah sebaran fosil di Jawa Tengah. Oleh sebab itu ditetapkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional sebagai kawasan studi purba.

Terbaru dari cerita fosil Blora adalah penemuan fosil gajah purba di Desa Medalem oleh Tim Vertebrata, Museum Geologi, Bandung pada tahun 2009. Boleh dibanggakan karena ini temuan terlengkap selama seratus tahun terakhir. Satu dari dua replika diserahkan kepada Pemkab Blora pada saat peringatan ulang tahun Museum Geologi ke-85 baru-baru ini.

 

Blora_Beliung_Persegi.jpg

BELIUNG PERSEGI (Kanan Bawah)

Selain gajah dan kerbau purba, juga dipamerkan beliung persegi berusia 20.000 tahun ditemukan di Hutan Bogo, Randublatung mengungkap jejak manusia purba. Bagaimana yah caranya mengetahui usia beliung persegi. Terus alat ini digunakan untuk apa oleh manusia purba.

Sebuah replika tulang tengkorak manusia purba asal Ngandong tentu akan memantapkan Koleksi Blora di Museum Mahameru. Mengapa. Karena Desa Ngandong termasuk Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora alias manusia purba yang kini diidentifikasi sebagai Homo erectus soloensis berasal dari bumi Blora. Tengkorak yang sempat ikut GHR von Koenigswald melalang buana, kini disimpan di Universitas Gajah Mada. Carl Swisher dan kolega dari Berkeley Geochronology Center, Universitas California, memperkirakan manusia ngandong berumur 53.000-27.000 tahun. Artinya, mereka pernah ada bersama Homo sapiens di Pulau Jawa?

 

Blora_Arkeologi.jpg

KOLEKSI ARKEOLOGI

Koleksi arkeologi berupa arca Ganesha, Agastya, Mahakala, Gana yang telah aus. Sebuah yoni tidak dalam kondisi lebih baik. Hiasan atap candi asal Desa Kamolan masih lumayan. Koleksi logam berupa arca budha, lampu gantung, pakinangan. Meski arca-arca ditemukan termasuk Siwa di Jalan Tentara Pelajar, Blora Kota, tapi kemana candi-candinya. Apakah karena di sini candi dibuat dari batubata sehingga tidak bertahan halnya batu.

 

Blora_Keris.jpg

KOLEKSI KERIS

Koleksi keris disertai penjelasan tahapan pembuatan keris. Dimulai dari membesot (membersihkan besi dengan cara pembakaran dan penempaan), mencampur besi dan nikel menjadi lapisan pamor, membuat kodokan bilah keris, membentuk bakalan keris, grabahi yaitu membuat ricikan dan cembung cekungnya bilah keris, menghaluskan keris, menyepuh yaitu membuat besi menjadi kelihatan tua dan menjadi keras, terakhir adalah marangi agar keris tidak mudah berkarat.

Tentang keris sekali diceritakan Pram yang ternyata lahir di Blora. Saat pendudukan, keris dan pedang dirampas Jepang. Dia lalu disuruh ayahnya menyerahkan keris ke kantor asisten wedana. 'Di sana aku lihat satu ruangan telah penuh dengan keris,' tutur Pram. Namun ketika 'Keris Tuan Toer' diserahkan, si pejabat menyuruh Pram membawanya kembali. 'Kyai Bedor tidak disita,' kenangnya dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.

 

Blora_Guci.jpg

KOLEKSI GUCI

Koleksi dari Negeri Tiongkok yang jauh adalah guci masa Dinasti Song (960-1279). Sebuah dinasti yang berakhir karena ditaklukkan oleh Kubilai Khan, selanjutnya mendirikan Dinasti Yuan yang berkuasa sekitar satu abad (1271-1368). Sejarah kita pernah berhampiran dengan Khan. Pada tahun 1293, Khan mengirim seribu kapal perang ke Jawa sebagai jawaban atas tantangan dan penghinaan yang dilakukan Kertanegara, raja terakhir Singasari, terhadap utusan sebelumnya yang menuntut upeti tanda takluk. Sebuah ekspedisi yang tak dinyana mengambil bagian dari berdirinya Majapahit oleh Raden Wijaya. Kerajaan besar di masa lalu Indonesia yang mampu bertahan selama 234 tahun (1293-1527). Toh seperti lahir-mati, jaya dan runtuh itu.

 

Blora_Patung_Kayu.jpg

PATUNG KAYU JATI

Sebuah patung Dewa Shouxing (The Old Man of the South Pole) adalah satu-satunya koleksi yang mewakili hutan jati Blora yang terkenal. Atau aku yang kurang jeli mencari karena serba tergesa-gesa melihatnya. Ketika tiba di Taman Tirtonadi museum sudah tutup. Seorang laki-laki kurus di parkiran memberitahu staf masih ada di belakang. Oleh sebab itu ketika diizinkan, aku tidak bisa mengambil terlalu banyak waktu di museum. Tadinya memang berharap adanya display kekayaan jati yang memikat setelah pernah melihat sebatang jati menjulang di Museum Manggala Wanabakti dengan keterangan '1644: Pohon jati ini berkecambah di daerah Blora.'

 

Blora_Wayang.jpg

KOLEKSI WAYANG GOLEK

Tentu lalu setelah museum aku akan pergi lagi ke dua tempat sebelum gelap. Pertama, Instituut Boedi Oetomo, sekarang SMP Negeri 5. Monumen di depan sekolah mengenang sang pendiri, Toer, yakni ayahanda Pramoedya Ananta Toer. Tak ada keterangan Pram dulu bersekolah di sini. Sastrawan besar Indonesia dengan berbagai penghargaan internasional diantaranya Doctor of Humane Letters dari Universitas Michigan sebagai pengakuan atas imajinasi dan kontribusi sang pengarang dalam bidang sastra, maupun contoh yang diberikan kepada semua orang yang menentang tirani, serta perjuangan gigih mewujudkan kebebasan intelektual. Ironisnya, berkunjung ke Blora kita tidak menemukan pemerintah daerah memiliki bangga. Jika Yogyakarta memiliki Museum Affandi maupun Jalan Affandi, kita tidak melihat Pram di Blora. Kecuali tentu saja di Jalan Sumbawa No. 40, rumah masa kecil Pram.

 

 

Tanggal Terbit: 12-07-2015

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.