Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Bermahkota bukannya raja. Berbelalai, bergading lainnya gajah. Bersayap bukannya burung. Bersisik lainnya ikan. Bertaji bukannya ayam. Binatang apakah ini. Sumber: Museum Mulawarman, Tenggarong, Kalimantan Timur.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Ganesha Naik Gajah, Museum Kasepuhan, Cirebon

 

Museum Kebangkitan Nasional

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


MKN.jpg

MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL, JAKARTA

Primadona Museum Kebangkitan Nasional, jika boleh disebut demikian adalah Ruang Memorial Boedi Oetomo (BO). Dulunya adalah ruang praktik anatomi. Di sinilah Soetomo dan teman-temannya pelajar Sekolah Kedokteran 'STOVIA' mendirikan BO (1908). Menuai berbagai tanggapan tentunya. Deventer tentang BO berkata, 'Suatu keajaiban telah terjadi, Insulinde, putri cantik yang tidur itu, telah bangkit.'

Reaksi keras datang dari beberapa dosen. Rapat pun digelar untuk mengeluarkan Soetomo. Namun Direktur Stovia, Hermanus Roll membela Soetomo dengan ucapannya yang terkenal, 'Wie van de heren hier aanwezig beschikte toen hij achttien was, over meer karakter dan Soetomo?' Siapa diantara kita yang hadir di sini pada saat berusia 18 tahun memiliki kepribadian yang melebihi Soetomo.

MKN_.Ruang_Pamer.jpg

RUANG AWAL KESADARAN NASIONAL

BO adalah organisasi kedaerahan namun kebangkitan lokal dan nasional adalah proses yang kontinum. Oleh karena itu mengingat lahirnya BO di Stovia sehingga gedung eks sekolah kedokteran difungsikan sebagai Museum Kebangkitan Nasional (MKN). Dengan sendirinya sebagian koleksi lebih mencerminkan nama museum daripada seandainya yang berdiri adalah Museum Sejarah Kedokteran Indonesia yang jelas seratus persen relevan dengan sejarah perjalanan gedung ini.

Toh, terlepas dari sebagai MKN, pengunjung dapat juga mencicipi suasana Stovia melalui Ruang Pengenalan yang memaparkan sejarah kedokteran di Indonesia secara kronologis, Ruang Stovia I (Perubahan), Ruang Stovia II (Lahirnya Pendidikan Dokter Modern), Ruang Stovia III (Meningkat dan Berkembang), Ruang Stovia IV (Menuju Dokter Indonesia yang Bukan Hanya Sekadar Inlandsche Arts), dan Ruang Asrama. Maupun Ruang Memorial, Diorama Kelas Stovia, Diorama Pembelaan Direktur Stovia terhadap Soetomo, dan sejumlah foto.

MKN_3.jpg

MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL

Seperti apa kehidupan di Stovia. Dalam kenangan Wirasmo, 'Hidup dalam asrama secara tidak terasa menimbulkan rasa persahabatan yang semakin hari semakin mendalam. Penduduk asrama seperti keluarga besar. Rasa perorangan (individualisme) hampir-hampir lenyap, karena rasa persamaan yang selalu dipupuk. Bukan saja dalam hal makan dan minum, bahkan sampai dalam hal pakaian sudah menjadi kebiasaan beri-memberi atau pinjam-meminjam. Pergaulan seperti itu menimbulkan rasa kemasyarakatan dan setiakawan yang tinggi.'

Bung Hatta juga terkesan kekompakan tersebut, '...Chairil Anwar, asal dari kota Gedang, belajar di Stovia sampai menjadi dokter. Selama sekolah ia selalu sakit, kadang-kadang sampai berbulan-bulan. Ia ditolong oleh teman-temannya membacakan diktatnya atau bagian buku yang dianjurkan oleh guru.'

MKN_Roll.jpg

RUANG STOVIA

Banyak tokoh besar pernah menjabat sebagai direktur dan dosen Stovia. Terkenal di kita tentulah Hermanus Roll (SDJ 1896-1899, Stovia 1901-1908). Dihormati sebagai Bapak Stovia karena perjuangan mereformasi Sekolah Dokter Djawa menjadi Stovia dan dukungannya kepada Soetomo.

Penerus Roll adalah Noordhoek Hegt. Winarsih Partaningrat Arifin (Sembilan Tahun di Stovia, 1907-1916) mengisahkan pada saat ayahnya bersekolah di Stovia, berlangsung perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis. Ketika murid-murid di sekolah menengah gubernemen yang menolak memeriahkan pesta dipecat, 'Lain sikap sang direktur Stovia. Dr Noordhoek Hegt menolak pemecatan demikian.'

Top dengan cara berbeda adalah Pieter Bleeker, Direktur Sekolah Dokter Djawa (1851-1860) juga salah satu ahli perikanan. Atlas Ichthyologique adalah karya monumental Bleeker, memaparkan lebih dari 1.500 ilustrasi ikan. Sebagian besar adalah ikan di perairan Indonesia. Smithsonian telah menerbitkan kembali Atlas dalam 10 volume (1977-1983).

Jagoan dalam pencapaian karier ilmiah adalah Christiaan Eijkman. Karena dialah satu-satunya direktur (1888-1896) semenjak SDJ sampai Stovia yang memperoleh penghargaan Nobel Kedokteran (1929). Sedangkan dosen Stovia Gerrit Grijns pernah dinominasikan dua kali. Dalam Nobel Lecture, Eijkman menyebut peranan Grijns dalam penemuan kacang hijau sebagai obat beriberi, 'Only when Grijns, who continued my investigations, discovered that a certain bean, the 'katjang idju' (Phaseolus radiatus), has the protective and curative action in the case of chickens, successful experiments - with this bean - were made on man (Roelfsema, Hulshoff Pol, and Kiewiet de Jonge).'

MKN_Kelas.jpg

DIORAMA KELAS STOVIA

Tentang exhibit di MKN. Pertama, sebuah patung montok di Ruang Awal Kesadaran Nasional. Labelnya 'Patung Dada R.A. Kartini'. Alamaaak! So tidak tahukah jika Kartini posturnya mungil. Kedua, Diorama Kelas Stovia menampilkan semua pelajar berbusana jawa. Padahal seragam pelajar dari luar Jawa adalah jas dan peci. Ketiga tentang seperangkat meja-kursi berlabel 'Meja dan Kursi Makan Pelajar Stovia'. Ehm, bukankah para pelajar makan tiga kali sehari di rumah penduduk sekitar Stovia dengan bayaran 10 gulden sebulan.

Sebaliknya, paling membuka mata dari MKN ada di tiga ruang pamer. Pertama, bahwa perjuangan bersenjata dari Aceh sampai Maluku habis ditumpas Belanda (Ruang Sebelum Pergerakan Nasional). Kedua, dengan bekal pendidikan yang diselenggarakan Belanda justru lahir manusia-manusia yang berwawasan nasional seperti Dewi Sartika, Kartini, Ki Hajar Dewantara, Maria Walanda Maramis, Rohana Kudus, Tirtoadisurya, Wahidin Soedirohoesodo. Ketiga, pergerakan nasional ditandai kelahiran Boedi Oetomo di Stovia hingga Proklamasi Kemerdekaan ditampilkan di Ruang Pergerakan Nasional. Sehingga, sulit untuk ragu bahwa Kebangkitan Nasional adalah gerakan kaum intelektual.

MKN_Anatomi.jpg

RUANG MEMORIAL BOEDI OETOMO

Terakhir ke MKN tiga tahun lalu. Saat itu banyak tampilan segar. Sisi lainnya yang menyenangkan adalah bersih dan rindang. Namun MKN terutama adalah refleksi bahwa ada orang seperti Soetomo. Menikmati status karena pendidikannya namun alih-alih diri sendiri, lebih hidup untuk memajukan masyakarat dan bangsanya. Apakah lalu dia bahagia. Kita tidak tahu. Tapi mungkin sebelum menutup mata, hidupnya yang dia rasakan adalah bermakna.

'Hidup akan bernilai bilamana hidup itu diabdikan kepada umat manusia.'
Radjiman Wediodiningrat

 

Tanggal Terbit: 19-07-2015

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.