Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Arca Kertarajasa Jayawardhana (Museum Nasional, Jakarta) adalah arca pendarmaan Nararya Sanggramawijaya alias Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Nasional, Jakarta

 

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


am_loko_hijau.jpg

MUSEUM KERETA API AMBARAWA
AMBARAWA, JAWA TENGAH

Meski sudah menetap selama sepuluh tahun di Jakarta, kawanku CLY masih menyukai Kereta Senja. Memori naik keretaapi pertama kalinya ke kota irama andong, meminjam istilah Romo Mangun, tak terlupakan. Dari sekolah menengah hingga tamat kuliah memang bukan waktu yang singkat. Selama-lamanya di negeri orang kereta senja akan kembali.

Lain lagi Mama yang suka bermain teka-teki. Jajal deh pertanyaan keluarga siapa yang bapaknya asyik merokok cerutu, ibu sibuk menjahit, si anak dibiarkan menjerit-jerit. Jawabnya keluarga keretaapi uap. Sedangkan anak-anak tentu memiliki fantasinya sendiri. Baik a la Naik Kereta Api yang berirama ceria, Thomas and Friends, maupun memimpikan Hogwarts Express.

Tampaknya tidak sedikit orang bersentuhan dengan keretaapi melalui berbagai cara. Oleh sebab itu memang memicu rasa ingin tahu bagaimana sebuah museum keretaapi akan menampung orang-orang yang membawa dunianya sendiri ke sana.

Di luar bayangku ketika tiba di Museum Kereta Api Ambarawa, pertama yang kulihat adalah museum dengan lokomotif-lokomotif di tengah pohon lengkeng yang lebat. Beda banget dengan tampilan museum keretaapi Inggris yang aku lihat di YouTube (Collections and Archives at the National Railway Museum). Tapi aku lebih suka museum yang banyak pepohonan.

Pada bulan Juli (2009) itu masih tersisa bunga-bunga lengkeng dari yang kemarin mekar habis-habisan. Beberapa tawon gendut mencari nektar di sana. Dua anak laki-laki berseragam putih-putih dan vest motif kotak merah, mengambil jalan potong melalui museum pulang ke rumah. Sempat berhenti menangkap tawon yang bersembunyi di loko dengan sebilah bambu. Aku terlongok-longok. Bagaimana mereka tahu ada tawon di situ. 'Mbak foto kalian ya,' kataku. Bocah-bocah senang tapi kok menyeringai ketika difoto.

(Keponakanku yang masih TK selalu menggambar tawon dengan entup-nya. Tapi sebenarnya tawon tidak suka menyengat kita loh)

 

am_willem_i.jpg

STASIUN WILLEM I

ANNO 1873 tertulis di dinding dekat loket tiket. Gosh! Sudah lebih dari satu abad usia stasiun ini. Dinamakan menurut Willem I (1772-1843) yakni raja Belanda (Koning der Nederlanden) pertama.

Stasiun sekarang sepi begini. Pastilah dulu hingar-bingar saat kereta datang maupun pergi.

Di kejauhan terlihat Gunung Merapi dan pucuk impresif Gunung Merbabu. Sayub Gunung Telomoyo berdiri di antara dua raksasa ini. Gunung-gunung selalu memberi rasa dari dulunya dunia sudah begitu kecuali orang-orang dan bunga-bunga rumput memenuhi takdirnya datang dan pergi.

 

am_salter.jpg

TIMBANGAN SALTER

Untuk aku yang awam seperti ilalang dan tidak menemukan loko-loko koleksi museum dijelaskan secara menarik, kutemukan juga sisi museum yang bisa dibawa pulang sebagai cerita. SALTER contohnya adalah timbangan buatan Inggris. Perusahaan Salter sendiri bermula dari ditemukannya timbangan gantung oleh Richard Salter dari Bilston, Inggris pada tahun 1770. Salter ternyata masih ada sampai sekarang bahkan dikenal sebagai merek berkualitas.

Sebenarnya hanya sebuah timbangan. Tapi mungkin karena usianya yang tua dan kekokohannya sehingga lahirkan rasa, dan tanya. Rasa bahwa keadilan Tuhan terlebih-lebih tak akan berkarat. Di sisi lain timbul tanya pula tentang bagaimana adanya keadilan tersebut dapat dipahami akal sehat.

Ah! Aku kira museum ini memang memiliki sesuatu untuk setiap orang yang mengunjunginya.

 

 

Tanggal Terbit: 31-12-2009

 

 
  Copyright © 2009-2020 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.